Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Dalang Kasus Anisa


__ADS_3

Kebersamaan pertama mereka satu ranjang setelah berpisah membuat keduanya susah memejamkan mata.


Rasanya sayang saja jika waktu yang ada harus terlewat begitu saja tanpa membicarakan apa yang terjadi antara keduanya.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rasyid


"Hemmm, tanya aja." Nadin memainkan kerah baju sang suami. Entahlah, jika boleh jujur, Nadin sangat suka menyentuh dan disentuh pria itu.


"Kok kelihatannya Anisa hafal banget sama kamu?"


"Hemmm, dia habis nglabrak aku sama kak Vi, beberapa hari sebelum aku diterima kerja di tempat kamu," jawab Nadin jujur.


"Nglabrak? Kok dia bisa tau kalo kamu istri aku? Siapa yang kasih tau? Yoga? Nggak mungkin ku rasa."


"Emang bukan bang Yoga, kata abang tu cewek gaulnya ama preman. Mungkin dia minta bantuan gengnya kali, jadi tau," jawab Nadin.


"Oh, bisa jadi. Cuma aneh sekali, kenapa sekarang mau lagi sama aku. Dulu aku di buang kan?" ucap Rasyid, heran.


"Ya, mungkin sekarang lihat kamu sukses. Lebih gagah. Lebih tajir. Siapa sih yang nggak termehek-mehek lihat kamu. Aku aja kesel lama-lama. Udah ditolak masih aja nggak tau diri. Ahhh, dah lah.. aku jadi kesal kalo inget ngejar-ngejar kamu, kek nggak punya harga diri. Kalo nggak demi calon bocah di rahimku, aku sih ogah ngejar kamu. Malas amat. Untung ada Yoga sama Kak Vi yang setia nasehatin aku. Sampai kasih ide suruh jadi sekertaris kamu!" jawab Nadin kesal.


"Benarkah? Itu ide Yoga?" tanya Rasyid sembari tersenyum senang. Bagaimana tidak? Saat ini hubungan antara dirinya dengan Yoga bisa dikatakan sangat tidak sehat. Tapi lihatlah, Yoga masih setia mencarikan kebahagiaan untuknya. Bahkan Yoga juga memikirkan dampak dari perceraian itu untuknya.


"Iya... bang Yoga bilang jangan pergi ninggalin masalah. Selesaikan, setidaknya Rasyid tau kalo kamu hamil. Kalaupun setelah Rasyid tahu kamu hamil dan dia masih kekeh mau pisah, itu hak kamu untuk memilih."


"Yoga bilang begitu?" Tanya Rasyid.


"Ya, dia bilang begitu! Aku rasa, meskipun dia salah. Dia tetap mikirin kamu!"


"Ya, kamu benar... Makanya aku nggak bisa marah terlalu lama sama dia. Entahlah!"

__ADS_1


"Wajar lah, tapi ya udahlah... biarkan bang Yoga ngejalani apa seharusnya ia pertanggungjawabkan. Tapi kamu tau sesuatu nggak?" tanya Nadin.


"Tau apa tu?" tanya Rasyid.


"Tadi siang, setelah selesai sidang, bang Yoga lamar Kak Vi... "


Rasyid tersenyum terkejut, namun juga senang. "Benarkah? terus diterima nggak?"


"Diterima, mungkin minggu ini mereka menikah. Kak Vi ngundang kita jadi saksi. Kalo bang Yoga, katanya nggak nyaman mau ngundang kamu. Malu katanya!"


"Nggak usah dengerin Yoga, kita dateng aja. Aku mau pamer ke dia, kalo aku mau punya baby. Aku mau punya anak beneran," jawab Rasyid sambil mengelus perut rata sang istri.


"Ih, ngapain? Bang Yoga tau duluan kali dari pada kamu. Nanti kamu malah di bilang nggak jelas lo!"


Rasyid menatap kesel pada sang istri. Rasyid merasa Nadin tak adil padanya.


"Nggak asik kamu ma, Yang."


"Nggak asik gimana?"


"Masak orang lain tau duluan dibanding aku, bapaknya?" protes Rasyid.


"Siapa suruh kamu bikin ulah!" balas Nadin.


"Iya setidaknya langsung kasih tau, aku pasti pulang kok." Rasyid merajuk. Nadin malah tersenyum meremehkan.


"Oh gitu... tau gitu aku langsung kasih tau ya. Terus aku nggak usah kasih tau kamu keberadaanku dan calon baby kita, gitu... asik kali ya!" canda Nadin senang.


"Ihhh, mana boleh begitu? itu sama aja ninggalin. Jahat kamu, Yang!" balas Rasyid. Sedangkan Nadin hanya tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Kok senyum sih, Yang. Aku serius!" protes Rasyid.


"Habis, Keenakan kamu, siapa di sini yang mengandung?" tanya Nadin.


"Kamu, tapi kan aku yang kerja keras. Yang buat... kan?"


"Hilih, dasar.. kamu yang buat tapi aku yang menerima. Jadi dia hakku. Milikku. Nggak bisa diganggu gugat." Nadin kembali memeluk erat perutnya. Kini giliran Rasyid yang tersenyum. Menurutnya, Nadin pasti sangat Bucin padanya, hingga dia sangat mengidolakan Rasyid junior.


"Aku tau, kamu pasti sangat suka padaku," ucap Rasyid.


"Geer, mana mungkin!" balas Nadin.


"Mana mungkin gimana? Lihatlah, kamu memeluk Rasyid junior, coba Rasyid senior ini aja!"


"Ih, gemes.. pantesan Anisa termehek-mehek sama kami. Tampan sih!" ucap Nadin sembari mencium gemas bibir sang suami.


"Ya nggak lah! Mana ada... dari dulu aku begini. Mana ada tampan."


"Baguslah! Bagus kalo kamu jelek. Terus tancapkan pikiran itu di otakmu. Buar kamu nggak pede kalo deketin cewek selain aku." Nadin tersenyum, sedangkan Rasyid hanya melirik gemas.


"Bodo lah, yang penting sekarang aku seneng, aku bahagia. Aku sudah memilikimu dan calon bayi kita. Kalian hidupku, Honey!" ucap pria itu seraya mendekap erat tubuh sang istri dengan penuh cinta.


***


Di lain pihak, ada Horison yang terlihat sangat marah. Karena Ia telah gagal memisahkan Rasyid dengan Nadin melalui Anisa. Bahkan Anisa sekarang ditangkap polisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan.


"Sial, kenapa aku selalu sial! Rasyid brengsek!" teriaknya emosi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2