
Perjalanan dari Jakarta ke Bandung ternyata cukup membuat Nadin lelah. Hingga gadis cantik itu pun terlelap di dalam mobil, sesaat sebelum sampai di rumah yang sudah Rasyid pesan pada asisten pribadinya.
"Ternyata kamu manis sekali kalo anteng gini, Nad. Jadi gemes. Cium dikit boleh ya," ucap Rasyid, sambil menyibak rambut panjang sang istri.
Bibir Nadin begitu menggoda. Ditambah hidung mancung dan wajah oriental wanita cantik ini. Belum lagi tubuh mulus Nadin yang pernah tertangkap lensa matanya, membuat otak Rasyid yang sudah lama puasa jadi mesum.
Sungguh, andai Nadin tak galak, pasti malam ini, wanita cantik ini akan dia makan. Makan selahab lahap nya tanpa ampun.
Rasyid tak mau kehilangan kesempatan mencium bibir sang istri, dengan lembut ia pun memangut bibir tipis itu. Dengan cinta, dengan hasrat, dengan kasih sayang yang ia miliki tentunya.
Di detik ketika ia melepaskan ciuman itu, saat itu juga Rasyid menangguhkan hatinya. Bahwa saat ini dia telah jatuh cinta pada gadis barbar ini.
"Makasih, Sayang. Kamu nggak bangun. Kalo bangun, bisa mati aku!" ucap Rasyid, sembari tersenyum senang nan licik.
Tak ingin tenggelam dalam keinginan mesumnya, Rasyid pun memutuskan untuk membopong Nadin, dan membawa istri cantiknya ini masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah sudah ada Yoga yang dengan setia menunggu kedatangan big bosnya. Membukakan pintu Rasyid yang sedang membawa istrinya.
"Makasih, Ga!" ucap Rasyid.
"Siap, Bos," jawab Yoga. Lalu pria gagah ini pun menutup pintu itu kembali. Menatap sang big bos yang terlihat sangat sumringah, karena saat ini sudah punya seseorang yang akan menemani hari-harinya.
Lima menit berlalu, Rasyid pun keluar untuk menemui Yoga yang terlihat tidak tenang itu.
"Gimana, Ga? Mereka sudah bisa di atasi?" tanya Rasyid.
__ADS_1
"Sebagian sudah, Bos! Sebagian balik kandang. Hanya saja, aku ada kabar buruk untukmu, Bos!" jawab Yoga.
"Kabar buruk apa? Apa mereka masih mengejar Nadin?" tanya Rasyid lagi, penasaran.
"Pernikahan ternyata bukan solusi terakhir, Bos. Musuh kita Horizon, si pria pedofil itu. Dia menginginkan istrimu karena dia tau, nona masih gadis," jawab Yoga sembari menyerahkan hasil penyelidikan salah satu anak buahnya yang ia kirim ke tempat Emelda.
Rasyid mendengarkan rekaman itu, lalu ia pun meremas marah jari-jarinya.
"Dia berani sekali bermain-main denganku. Apa dia tau dengan siapa Nadin menikah?" tanya Rasyid pasa Yoga.
"Sepertinya belum, Bos!" jawab Yoga, yakin.
"Buat janji dengannya, aku ingin lihat reaksi pria bajingan itu. Berani sekali ia mengincar istriku," ucap Rasyid geram.
"Baik, Bos." Yoga diam. Begitupun Rasyid. Pria yang dijuluki raja siluman di dunia bisnis ini sangat pandai berkamuflase. Hanya orang-orang tertentulah yang tahu, bahwa sebenarnya dia adalah seseorang yang sangat disegani di-ciclenya.
"Ya elah, giliran sekarang punya mainan, ngusir-ngusir. Eh, Bos, apa nggak sebaiknya Bos belah duren segera. Dari pada ntar kita lengah, terus diculik sama pedofil itu, kan repot Bos. Dia sih gila loh, Bos!" ucap Yoga, mengingatkan.
"Apa lu bilang, gila aja lu. Kan lu tau tu cewek barbar, mana mau ngasih dianya. Gila lu, gila, gila. Ide lu gila. Bisa dicekik aku sama dia. Ahh, kasih ide yang bener dong ah! Menjerumuskan ini namanya!" jawab Rasyid kesal.
"Astaga, Bos! Sekarang kan udah halal. Ngapain pakek izin dia segala. Lagian ini kan buat nylametin dia juga. Dari pada keduluan si raja gila itu. Mending bos makan sendiri kan? Halal, lebih enak. Kalo pun hamil, anak itu jelas nazabnya. Bapaknya bos kan?" bujuk Yoga, tak mau kalah.
Rasyid diam. Memikirkan kata demi kata yang dilontakan sang asisten. Dan di sudut hati Rasyid yang terdalam, ia membenarkan juga apa yang Yoga sampaikan.
"Bener juga, jadi menurutmu aku mesti maksa dia. Dip*rkosa, begitu?" tanya Rasyid, lugu.
__ADS_1
Spontan Yoga pun tertawa. Aneh! Tiba-tiba saja, pria secerdas Rasyid bisa gobl*k mendadak gara-gara cinta.
"Ya elah, Bos. Ya nggak lah. Masak diper... ah, Bos. Kenapa jadi mendadak oon begini?" Yoga kembali tertawa.
"Jangan ketawa, Njirr, ntar dia bangun. Gimana? gimana? Nggak paham aku! Jelasin pelan-pelan!" pinta Rasyid, serius.
"Jadi gini, Bos. Besok, Bos ajak istri Bos dinner, Jalan-jalan atau apalah, pokoknya seneng-seneng lah. Nah, nanti aku siapin obatnya."..
"Obat apaan?"
"Aelah, Bos? orang rumah sakit tapi obat begituan aja nggak paham. Itu loh bos obat itu... obat yang untuk itu," jawab Rasyid, terlihat bingung memilih kata.
"Oh obat itu, ya ya ya! Oke!"
"Paham kan? Obat itu?" Yoga senang, akhirnya tanpa menjelaskan panjang lebar, Rasyid sudah mengerti dan paham maksudnya.
"Obat apaan tapi?" tanya Rasyid, lagi.
Spontan, Yoga pun speechless. Hancur sudah harapan tentang pemahaman Rasyid.
"Astaga, Bos. Kirain udah paham. Itu loh Bos, obat untuk memancing hasrat. Obat P-lah, ya. Udah pokoknya kasih obat aja bos yang gampang! Ntar kalo berhasil, bos rekam aja dikit-dikit. Udah gitu aja! pokoknya bikin Horizon gigit jari, Bos. Paham kan?" jawab Yoga, tak tahu lagi harus bagaimana mencari kata agar Rasyid mengerti maksudnya.
Rasyid diam. Mencoba mencerna ide gila sang asisten. Menimbang baik buruk ide itu. Namun, musuh gilanya ini juga tak bisa diremehkan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan votenya.. makasih, yang udah kasih bunga n semoga Allah membalas kalian dengan rezeki yang berlimpah😘😘😘