Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Diam-diam Dia Baik


__ADS_3

Nadin tak mau lengah menghadapi wanita penggoda suami orang itu. Berkat uang yang diberikan Rasyid kepadanya, Nadin pun meminta Violeta untuk menambah pasukan.


Kali ini, Nadin meminta seseorang untuk mengawasi pria yang dikencani Anisa. Nadin takut, Anisa meminta bantuan pria itu untuk menghancurkan rumah tangga nya dengan Rasyid.


"Masuk akal juga sih, Non. Bisa jadi dia meminta bantuan pria bodoh itu, mengingat pria itu juga licik," ucap Violeta.


"Ya, kita se permikiran Kak Vi, aku takut mereka memanfaatkan keadaan Rasyid saat ini. Lihat dia, fisiknya sangat lemah gegara ngidam. Kasihan sekali baby big itu," balas Nadin dengan senyum meledek.


"Suamimu memang bayi besar, Non. Aneh, mafia kok ga tahan sakit, manjanya nggak ketulungan. Untung Non ku sudah dewasa. Kalo ketemu Non ku dua tahun lalu, bisa kejang dia," jawab Violeta, sedikit bercanda.


"Dasar! Memangnya aku senakal itu?" Nadin terkekeh.


"Bukan cuma nakal, tapi bikin sakit kepala siapapun yang jaga. Sampai aku harus bayar Zahra buat bantu jagain, Non. Eh ngomong-ngomong ke mana anak itu ya?"


"Zahra ada, sekarang kerja di perusahaan Rasyid juga, staf dia. Aku masih sering ketemu. Kenapa? kangen? mau nitip uang jajan buat dia?" canda Nadin.


Duh, aksi yang tercyduk. Violeta hanya terkekeh.


"Syukurlah setidaknya kabar dia baik," balas Violeta senang.


Nadin tersenyum. Lalu melangkah mengambil selimut di kamar. Tentu saja untuk menutupi tubuh suaminya yang terlihat lemah itu. Sedangkan Violeta segera mencari seseorang yang ia percaya untuk memata-matai William. Sesuai yang diinginkan oleh Nadin.


"Hari ini aku mau jenguk Yoga, Non. Hari ini di sidang. Aku pengen nemenin dia," ucap Violeta.

__ADS_1


"Yang sabar ya Kak Vi, aku ada kabar gembira buat kamu."


"Iya, Non... mau bagaimanapun dia salah. Harus tetap tanggung jawab," jawab Violeta.


"Sepertinya si jerapah jelek itu minta pengacaranya buat ngurangin tuntutan buat Yoga. Sepertinya dia udah bisa mikir, tanpa Yoga dia juga nggak bakalan bisa sekaya ini, ya kan?" ucap Nadin.


"Benarkah? Nona serius?" tanya Violeta senang.


"Iya aku nggak boong. Cuma aku nggak bisa tanya apa lagi ikut campur. Kak Vi tau kan manusia satu itu nggak bisa disenggol," jawab Nadin, sedikit geram dengan kelakuan menjengkelkan Rasyid.


"Ya, setidaknya dia masih memiliki hati untuk sahabatnya."


"Aku juga dengar kemarin, dia yang bayar semua biaya rumah sakit ibunya Yoga. Cuma aku belum cek kebenaran itu, coba Kak Vi cek, siapa tau telingaku ini memang cocok jadi intel," ucap Nadin lagi.


"Namanya juga cinta Kak Vi, lihat aku, masih bertahan di samping pria jelek itu. Padahal dia udah nyakitin aku. Demi apa coba? demi cinta hueek ini... ngeselin sumpah!" umpat Nadin kesal, Violeta hanya tertawa.


"Bener juga ya, apakah apa yang dilakukan tuan galak itu ke pacarku, karena cinta juga?" tanya Violeta.


"Mungkin, sepertinya dia udah ter-yoga yoga. Makanya jadi oleng gitu. Antara mau menghukum atau memaafkan," jawab Nadin, geram.


"Apakah aku juga, apakah aku juga sudah teryoga-yoga, jadi ikutan nggak waras gini." Violeta terkekeh.


"Biarin aja klean ter-yoga Yoga asal jangan terAnisa aja... ntar ku penggal kepala keduanya biar tau rasa," ucap Nadin kesal.

__ADS_1


Tak ayal kedua anak manusia itu pun tertawa dengan candaan mereka. Tak dipungkiri, mereka bahagia, akhirnya diam-diam hati Rasyid telah terbuka untuk memaafkan Yoga.


***


Benar saja, kini Anisa sedang bergelut manja di pelukan William. Langkah wanita penggoda itu seakan sudah terbaca oleh pria itu. William pun segera menebaknya.


"Aku tau akal licikmu, tapi sayang untuk menembus kehidupan Rasyid sangat tidak bisa. Dia memiliki beberapa lapis ajudan yang mesti kita runtuhkan," Jawab William jujur. Sebab ia tau seberapa kuatnya Rasyid di dunia bisnis ini.


"Ayolah honey, bantu aku mendekatinya. Aku menyukainya," rayu Anisa, manja.


"Bukan aku nggak mau, tapi aku nggak yakin bisa. Kamu tau sendiri, jangankan Rasyid nya, asistennya si Yoga Yoga itu, aku pun nggak mampu. Mereka semua licik, brengsek, menyebalkan," gerutu William kesal.


"Tenang aja, Honey. Asistennya sekarang nggak bareng dia kok. Cowok brengsek itu sekarang lagi di penjara. Jadi Rasyid udah nggak punya lagi tangan kanan. Setidaknya satu lapis pelindungnya udah hilang," ucap Anisa, senang.


Wiliam dan Anisa sama-sama saling memanfaatkannya. Namun mereka sama-sama tak menyadari jika saat ini sedang di manfaatkan.


William tidak menyadari jika Anisa memanfaatkannya untuk merongrong hartanya. Sedangkan Anisa tidak menyadari jika William memanfaatkan dirinya untuk sebuah informasi.


Satu saja kelemahan Rasyid yang bisa William tangkap, itu adalah kartu As baginya untuk meruntuhkan pria itu.


Sayangnya, mereka berdua tak tahu jika saat ini di samping Rasyid ada tiga srikandi yang siap membela pria itu dengan kecerdasan dan keberanian mereka. Mereka bahkan tidak tau, bahwa gerak gerik mereka sedang di awasi oleh Nadin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2