
Hai Hai kalian yang selalu setia sama kisah Pak Satpam terganteng ini😍😍Maaf, kalo Emak nggak bisa balas satu persatu jejak kalian. Tapi Emak haturkan Terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk dukungan kalian😍😍😍😘😘😘 Demi kebahagiaan kalian, hari ini emak kasih 4 bab sekaligus. Jan lupa tetap tinggalkan like komen n vote kalian ya😍😍 Lope sekebon anggur🥰🥰🥰
***
Yoga mondar-mandir di kamar pribadinya. Sejak bertemu dan berdebat dengan Anisa, Yoga merasakan ketidaknyamanan dalam hidup.
Bagaimana tidak? Anisa selalu berhasil mengobrak abrik jiwanya. Belum lagi kebohongan yang ia simpan di dalam hatinya.
Yoga sadar, jika apa yang selama ini ia perbuatan, bisa saja akan melukai perasaan sahabat terbaiknya, ibunya yang sekarang berbaring sakit dan juga Violeta, yang saat ini sedang menanti keseriusannya.
Tak dipungkiri bahwa kemuncukan Anisa saat ini, membawa keresahan yang cukup membuat hatinya tak tenang. Batin Yoga berkecambuk tak karuan.
"Tidak! Aku tidak boleh seperti ini, aku harus jujur pada Rasyid. Tak masalah jika dia marah. Setidaknya kebodohanku berhenti di sini. Maafkan aku, Syid!" ucap Yoga pada dirinya sendiri.
Sungguh, Yoga menyesal telah menyepakati kesepakatan bodoh itu, hanya demi uang, hanya demi kenyamanan. Padahal, lihat sekarang, uang itu telah menjerumuskannya ke dalam jurang kenistaan.
Bagaimana tidak? Demi uang, Yoga tega menggelapkan dana rumah sakit. Memasukkan obat ilegal dari berbagai penjuru. Bermain bersama para mafia demi menguntungkan dirinya sendiri.
Sampai tidak memperdulikan Rasyid yang rela menjadi satpam demi menangkap mafia yang telah berani bermain di daerah kekuasannya.
Sungguh miris sikap Yoga yang penuh kepalsuan itu.
__ADS_1
Malam pun datang, Yoga tak ingin mengukir waktu lagi. Ia pun memutuskan untuk ke rumah sahabatnya itu. Guna menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, ketika ia membuka pintu apartemennya, Anisa sudah ada di depan pintu. Mau tak mau, ia pun melayani keinginan wanita itu.
"Mau ngapain lagi kamu ke sini?" tanya Yoga ketus.
"Duh, Sayang! Jutek amat sih, tentu saja aku mau kamu mengatur jadwal pertemuan ku dengan bosku lah, Sayang. Kangen deh tidur sama dia," jawab Anisa dengan senyum menggoda.
"Jangan macam-macam kamu, aku nggak akan pernah biarin kamu ketemu sama Rasyid. Apa lagi mengganggu hidupnya lagi," jawab Yoga tegas.
"Astaga! Seriusan amat hidup lu, eh.. inget ya, siapa dulu yang kasih lo duit buat lu bayar utang keluarga lu. Siapa yang dulu kasih lo duit buat biaya adik lu, ha? Gue. Lupa lu ya, dengan kesepahaman kita?" ucap Anisa garang.
"Nyesel gue nrima bantuan elu, kalo tau efeknya bisa sepanjang ini, mending gue banyak utang dan jadi budak para rentenir itu. Dari pada gue jadi racun dalam hidup sahabat gue, Ngeerti lu! Sekarang pergi, kalo nggak gue bakal bawa kasus ini ke jalur hukum!" ancam Yoga kesal.
Baik Yoga maupun Anisa, mereka memiliki tujuan yang sama. Yaitu menaklukkan masing-masing tujuan. Yoga dengan sikap kekehnya untuk melindungi Rasyid. Sedangkan Anisa, dengan tujuannya mendapatkan Rasyid dan Xian kembali.
"Gue nggak mau tau, gue mau Rasyid dan Xian, pokoknya lu harus bantu gue, jika tidak, jangan harap kamu bisa bebas dari jerat hukum Yoga. Gue punya banyak bukti buat jeblosin elu ke penjara," ancam Anisa seraya melangkah meninggalkan apartemen Yoga.
"Silakan lakukan itu, apapun yang terjadi, gue nggak akan pernah mau bersekutu lagi dengan wanita sihir sepertimu, brengsek!" teriak Yoga penuh amarah.
***
__ADS_1
Rasyid masih berusaha menepis prasangka buruk atas hasil identifikasi kasus yang selama ini membelenggu rumah sakit miliknya.
Hasil identifikasi itu cukup mencengangkan baginya. Ia tidak menyangka, bahwa salah satu nama yang dicurigai sebagai penggelapan dana dan juga pemasok obat-obatan ilegal itu adalah asistennya sekaligus sahabatnya sendiri.
"Kalian yakin, ini adalah hasil final?" tanya Rasyid pada salah satu orang kepercayaannya.
"Siap, Pak! Maaf jika ini mengecewakan, Bapak!" jawab pria itu.
"Hemm, tak apa! Tolong rahasiakan ini dari siapapun. Termasuk Yoga sendiri, aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik. Berikan laporan yang tidak ada nama dia. Jika seandainya benar dia terlibat, biarkan dia sendiri yang menjelaskannya padaku, kalian paham!" ucap Rasyid mewanti-wanti.
"Baik, Pak. Kami akan menjalankan semua sesuai perintah anda," jawab pria itu. Kemudian meeting pun ditutup.
Selepas kepergian orang-orang yang kini membantunya menyelidiki kasus yang ia hadapi, Rasyid hanya menghela napas dalam-dalam. Ternyata percaya pada seseorang itu tidak mudah. Nyatanya resiko dibohongi jauh lebih tinggi di banding percaya dengan musuh. Ini sangat membuat Rasyid kecewa.
"Pantas saja aku selalu gagal mengungkap kasus ini, ternyata dia ikut terlibat. Astaga, Ga! Apa cuma segini arti persahabatan kita," gumam Rasyid kecewa.
Rasyid bukalah pria yang tidak tahu balas budi. Dia paham, bahwa ia bisa sesukses ini, juga karena campur tangan Yoga. Hanya saja, ia tidak menyangka bahwa ternyata sahabatnya itu juga menyimpan racun untuknya.
"Aku tidak akan gegabah, Ga. Aku masih menunggu kejujuranmu," ucap Rasyid lagi.
Rasyid memang sengaja tidak mau speek up terlebih dahulu. Ia menunggu Yoga dengan suka rela menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Atau lebih tepatnya, ia ingin Yoga jujur padanya. Apalah hasil penemuan ini benar atau hanya rekayasa belaka..
__ADS_1
Bersambung...