Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Akal Nadin Part Two


__ADS_3

Rasyid menyerah. Gerah dengan kelakuan Nadin yang seolah memancingnya itu. Bagaimana pun, Rasyid adalah pria normal. Bohong kalau dia tidak tergoda. Bohong kalau dia tidak ingin. Tapi, tetap saja, Rasyid adalah pria keras kepala. Ia tetap kekeh pada pendiriannya, yaitu berpisah dari wanita itu.


Sesuai ucapannya, Akhirnya Rasyid pun meminta anak buahnya untuk mencarikan pengacara baru untuknya. Agar bisa membantunya menyelesaikan masalah dengan Nadin.


"Katakan pada wanita itu, aku lelah dan jangan menambah masalahku!" ucap Rasyid pada pengacara barunya.


"Baik, Pak! Akan segera saya sampaikan," jawab pria itu.


Benar saja, pengacara itu pun langsung menghubungi Nadin. Detik itu juga, para pengacara itu pun langsung meluncur ke tempat Nadin.


"Maaf, Nyonya. Kami adalah pengacara pak Rasyid, kedatangan kami ke sini untuk... " belum sempat pria itu melanjutkan ucapannya, Nadin langsung meraih berkas itu dan menandatangani surat-surat itu. Membuat ketiga orang tersebut melongo. Tak percaya dengan hasil kerja mereka. Ternyata apa yang di katakan Rasyid pada mereka berbeda dengan kenyataan yang ada.


Nadin bukan wanita rewel ternyata. Lihatlah kenyataannya, tanpa menjawab, tanpa menolak, tanpa banyak alasan, sang target malah dengan mudah menandatangani surat itu. Terkesan tanpa berpikir dan tidak keberatan dengan perceraian ini.


"Sudah kan, kalian boleh pergi!" ucap Nadin, seakan mengusir orang-orang yang menjengkelakan itu.


"Nyo-nyo... Nyonya yakin?" tanya salah satu dari mereka, sangking tak percaya dengan apa yang mereka dapatkan.


"Ya, kenapa memang! Ini kan yang diinginkan bos kalian. Oiya, katakan pada dia, jangan lupa suruh transfer uangnya malam ini. Surat-surat rumah dan semua yang dia janjikan, suruh kirim semuanya malam ini. Oiya, satu lagi... katakan padanya, aku tidak bisa datang ke pengadilan. Aku malas, jadi boleh kan aku mangkir," jawab Nadin.


"Bisa Nyonya, asalkan anda menandatangi surat kuasa pada kami, untuk mewakili anda di pengadilan atau barang kali anda sudah memiliki pengacara?" tanya pria bertubuh gendut itu.


"Tidak, kalian atur saja. Yang penting aku dapat bagianku," jawab Nadin santai.


"Baik, Nyonya. Kami akan segera sampaikan! Tapi bos kami berpesan agar anda jangan menghubungi dan menggodanya, Nyonya. Maaf jika ini harus kami sampaikan. Beliau bilang sangat lelah dengan kelakuan anda, Nyonya. Sekali lagi kami mohon maaf jika kami harus memperingatkan anda seperti ini. "

__ADS_1


"Heemmm, kalian tenang saja. Aku termasuk orang yang koopertif kok. Bos kalian aman setelah memberikan hakku, aku pastikan itu. Ada yang kalian mau sampaikan lagi?" tanya Nadin masih dengan sikap santai.


"Tidak, Nyonya, kami rasa cukup!"


"Oke, silakan kalian keluar!" ucap Nadin dengan senyum sok ramah, padahal dia pura-pura. Nyatanya, saat ini dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih ektrim untuk membuat Rasyid tak bisa berkutik.


Setelah kepergian ketiga pengacara Rasyid itu, Nadin malah tersenyum. Langkah pertama bisa saja gagal. Tapi Nadin yakin, langkah keduanya ini tidak akan pernah gagal. Nadin yakin, besok Rasyid pasti tidak akan bisa berbuat apa-apa.


"Kita lihat besok tuan muda, apakah anda masih bisa berkutik melawanku!" ancam Nadin dengan senyum liciknya. Bersiap berperang secara nyata dengan pria itu. Apa lagi, saat ini ada sesuatu yang membuatnya wajib mempertahankan pria itu.


***


Di sisi lain, Rasyid bahagia mendengar kabar bahwa Nadin menyetujui permintaannya tanpa syarat mereka harus bertemu. Rasyid cukup mentranfer uang yang ia janjikan dan tunjangan lain yang ia tawarkan.


Rasyid sangat frustasi menghadapi sikap Nadin yang tidak masuk akal itu.


Bagaimana tidak? Meskipun ia tak pernah membalas pesan-pesan seronok sang istri, justru wanita itu semakin sering menggodanya. Membuat Rasyid semakin kesal dan marah. Ia pun berniat untuk menemui wanita itu dan memakinya, andai dia bisa. Justru Rasyid tak mau, karena ia yakin pasti akan kalah dan hatinya tak akan mampu menahan pesona sang istri.


Sikap manja Nadin, senyuman wanita itu, ciuman mesra Nadin adalah candu baginya. Lalu bagaimana caranya dia bisa selamat jika seandainya ia nekat menemui wanita itu?


Setelah mendapatkan kabar bahagia itu, akhirnya Rasyid menyerah dan memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Karena ia merasa sudah cukup aman untuk memulai harinya di sana. Nadin sudah menandatangani surat perjanjian untuk tidak mengirim foto-fotonya dan mengirim chat suara yang menggoda baginya.


Tepat pukul sepuluh malam, pesawat yang membawa Rasyid dari tempat persembunyian itu pun landing dengan selamat.


Bak seorang raja, Rasyid dijemput oleh beberapa ajudan berpakaian serba hitam dan berjejer rapi. Ya, Rasyid memang menginginkan dirinya di kawal sedemikian rupa. Sebab tangan kanannya sudah hilang.

__ADS_1


Tangan kanan yang ia sayang ternyata adalah penghianat. Tak menutup kemungkinan tangan kanannya itu sakit hati dan mencelakai nya.


"Di mana dia sekarang?" tanya Rasyid pada salah satu ajudannya.


"Dia sudah menyerahkan diri, Bos!" jawab pria itu tegas.


"Kapan?"


"Setelah pulang dari Singapura."


"Oh!"


Semua orang diam. Lalu Rasyid kembali bertanya, "Apa sudah ada penggantinya?"


"Sudah, Bos! Tapi perempuan," jawab pria itu.


"Oh, tak masalah asal cekatan. Tahan di segala medan. Sebenarnya aku malas dengan perempuan. Tapi nggak pa-pa lah, bisa dicoba. Mita sekarang di mana?" ucap Rasyid.


"Ibu Mita di Palangkaraya, Bos."


"Baiklah, aku mau pulang ke rumah utama. Aku mau istirahat di sana saja," ucap Rasyid lagi.


"Baik, Bos!" jawab pria itu, kemudian ia pun melakukan kendarannya ke rumah utama, seperti yang dipinta oleh sang big bos.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2