
Ponsel Nadin berdering, ternyata itu dari Violeta. Nadin mau mengangkat panggilan telpon itu tetapi ada Rasyid. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengirim pesan.
Beruntung Violeta cepat tanggal dan membaca pesan itu. Violeta juga gerak cepat, ia pun segera membalas pesan itu dan memberi tahu Nadin bahwa saat ini dirinya dalam bahaya.
"Astaghfirullah!" pekik Nadin. Tak ayal Rasyid pun penasaran.
"Ada apa, Yang?" tanya Rasyid.
"Mobil kita diikuti seseorang, kamu lihat nggak?" tanya Nadin lembut.
Rasyid pun segera memerhatikan kaca spionnya. Benar saja, mobil mereka memang sedang ada yang mengikuti.
"Pegangan, Yang. Kencengin sabuk pengaman. Aku mau tambah kecepatan," pinta Rasyid, tanpa bertanya dari mana Nadin tau bahwa mobil mereka sedang diikuti.
Rasyid memang terbiasa dengan hal seperti ini. Itu sebabnya ia bisa dengan mudah mengelabui musuh. Rasyid pikir, mobil yang mengikut mereka saat ini adalah para musuhnya. Ia tidak tau bahwa sebenarnya mobil itu sedang mengincar istrinya. Bukan dirinya.
Kelincahan Rasyid membawa mobil tak diragukan lagi. Pria ini begitu gesit mengendarai Alhasil mobil musuh pun kehilangan jejak mereka.
Nadin menghembuskan napas lega. Ternyata ancaman Anisa tidak main-main. Wanita itu benar-benar melancarkan niat untuk menyakiti dirinya.
Flasback On
Siang itu, Nadin dan Violeta baru saja keluar dari penjara, menjenguk sekaligus membahas masalah Rasyid dengan Yoga.
Karena lapar, akhirnya mereka pun memutuskan untuk mampir di restoran.
__ADS_1
Tanpa mereka sangka, seorang wanita modis dengan pakaian yang cukup minim beserta rambut panjang yang berwarna pirang, mendekati mereka berdua.
"Siapa dia antara kalian yang bernama Nadin?" tanya wanita itu tak sopan.
Violeta memegang tangan Nadin, memberi isyarat keponakannya itu untuk diam.
"Maaf, ada apa ya kok nyari temen kami. Kenalin saya Vio dan ini Danis, kalo boleh tau anda siapa?" balas Violeta.
"Kenalin, aku Anisa Villarreal, kekasih Rasyid. Tolong ya, bilang sama temen kalian yang namanya Nadin, Nadin itu... jangan ngarep sama kekasihku. Oiya, bilang juga, nggak usah keganjenan, kalo nggak pengen aku habisi dia. Dasar! Perempuan kampungan!" ucap Anisa seraya menggebarak meja makan mereka. Kemudian berlalu meninggalkan mereka tanpa kata.
Violeta dan Nadin saling menatap bingung. Ternyata benar apa yang dikatakan Yoga, bahwa mantan kekasih Rasyid sangat barbar.
"Demit dari mana itu tadi?" tanya Nadin asal.
"Entah! Tapi kenapa dia tau kita ada hubungannya dengan Nadin?" tanya Violeta heran.
"Bisa jadi, Non. Tapi barbar sekali. Kek gitu wanita yang digandrungi suamimu, Non. Macam mak Lampir aja. Hiiii!" ucap Violeta mengkidik ngeri.
Nadin hanya tersenyum, sebab waktu itu ia hanya menganggap apa yang diucapkan oleh Anisa hanyalah gertakan belaka.
***
Kini, Nadin menyadari bahwa ancaman wanita itu bukanlah isapan jempol belaka. Buktinya saat ini wanita itu mulai menyerangnya. Padahal saat ini ia sedang bersama Rasyid.
"Emm, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Nadin ragu.
__ADS_1
"Tanya apa, Yang. Tanya aja," jawab Rasyid lembut.
"Em, tapi jangan marah ya," pinga Nadin.
"Iya, janji. Mau tanya apa? Tanya apa?" Rasyid menatap Nadin sekilas. Lalu ia kembali Memfokuska pasangannya ke depan.
"Apakah kami masih berhubungan dengan mamanya Xian?" tanya Nadin, memberanikan diri.
Rasyid terkejut. Aneh saja mendengar Nadin bertanya tentang wanita itu. "Tidak! Kenapa?"
"Ah, nggak aku cuma nanya." Nadin menundukkan wajahnya. Berharap Rasyid tidak mengetahui apa yang sedang ia risaukan sekarang.
"Enggak, Yang. Sejak dia ninggalin aku, kami nggak pernah komunikasi. Aku sudah menganggap wanita nggak punya hati itu mati. Aku pun udah blok semua akses dia jika ingin bertemu denganku maupun Xian. Jadi ya, gitulah, aku nggak bisa maafin dia," jawab Rasyid jujur.
"Emm, jadi kamu udah nggak cinta sama dia lagi. Eh, maksud ku, kamu nggak nggarepin dia balik lagi?" tanya Nadin lagi.
"Ya enggal lah, Yang. Gimana mau ngarep? Aku usah nganggep dia mati," jawab Rasyid lagi.
Nadin mengerti. Ia pun akhirnya mengerti kenapa Anisa sangat kesusahan mendekati Rasyid. Ternyata pria ini sudah mem blacklist wanita itu dari hidupnya. Dan sekarang, menurut Anisa jalan satu-satunya ia bisa mendekati Rasyid adalah dengan menyingkirkannya.
Dan ketika Rasyid berduka, saat itulah ia bisa menerobos masuk ke dalam hidup Rasyid, sebagai pemenang. Sungguh rencana licik bukan?
***
Violeta bernapas lega karena Nadin bisa selamat dari maut. Namun begitu, ia belum serta merta tenang. Karena Violeta yakin, Anisa pasti akan menyusun rencana lebih dasyat dari ini.
__ADS_1
Bersambung...