
Zarin terlalu fokus pada bagaimana mendekatkan Nadin dan Rasyid, sehingga dia lupa, bahwa di simpang jalan yang lain, ada sepasang mata yang selalu memantau gerak-geriknya.
Wanita itu tersenyum, tapi belum mau bertindak apapun. Ia masih menunggu hasil negoisasi dengan seseorang yang hendak membeli putri tirinya itu.
Emelda, dia adalah wanita licik itu.
Tanpa sepengetahuan sang suami, ia berniat menjual putri tirinya itu kepada pelanggannya sebagai jaminan agar tempat kerjanya tidak disita.
"Tetap awasi gadis itu, jangan biarkan siapa pun mendekatinya!" ucap Emel pada salah satu orang kepercayaannya.
"Baik, Bu!"
"Ingat, jangan biarkan suamiku tau rencana kita. Atau kita akan mati bersama!" ucapnya memperingatkan.
"Tenang, Bu. Semua aman. Bapak sama sekali tidak tau menau perihal ini. Oiya, mr. Horizon sudah memberikan tanggapannya. Beliau setuju membeli nona dengan harga tertinggi," jawab pria itu.
"Benarkah? Berapa dia berani membeli gadis itu?" tanya Emel.
"Segini, Bu!" jawab pria itu sembari menyodorkan Ipad nya pada sang majikan.
"Heh, aku tidak mau kalo cuma segitu. Mr. Ken malah menawar lebih tinggi. Sudah, abaikan saja dia. Kita fokus pada mr. Ken saja," jawab Emel tanpa mau mengalihkan pandangannya dari Nadin yang saat ini masih duduk diam bersama para penumpang di halte bis tempatnya menunggu bis yang akan membawanya pulang.
"Baik, Bu!" jawab pria itu tanpa membantah sedikitpun.
"Jalan, aku lelah!" pinta Emel.
Kemudian tanpa berpikir panjang, pria itu pun menginjak pedal gasnya dan mulai melakukan kendaraannya.
***
Hari semakin malam, namun Nadin masih belum mendapatkan bis jurusan tempat tinggalnya. Para penumpang yang lain sudah naik ke tujuan masing-masing, namun dirinya masih termenung di sana. Menunggu sambil memijat betisnya yang mulai sakit.
"Lama bener sih? Apa aku salah baca tujuan tadi ya?" tanya Nadin sembari menilik jam yang menempel di pergelangan tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tapi belum ada tanda-tanda ada bis yang akan membawanya pulang.
__ADS_1
"Ah .. rasanya tidak, kata nona Vio, bis jurusan sana memang agak susah. Apa aku pesan taksi aja ya." Nadin menilik uang yang ada di saku celananya dan ternyata uang itu hanya sisa beberapa ribu saja.
"Aaaggghhh, ini mana cukup untuk naik taksi." Nadin cemberut.
"Ini semua gara-gara satpam sialan itu. Hidupku jadi serba susah begini. Coba nggak kenal dia, pasti saat ini aku udah tidur di kasur empukku," gumam Nadin kesal.
Asik berguman dan menyalahkan Rasyid, Nadin tidak menyangka bahwa keberadaannya saat ini sedang diincar oleh segerombolan preman.
"Hay cewek, ikut kita aja yuk!" ajak salah satu preman yang mendekatinya.
Spontan, Nadin pun meloncat dari tempat duduknya. Jantungnya berdebar kencang. Perasaannya mulai tak nyaman. Apa lagi ketika ia tahu bahwa pria itu tidak datang sendiri.
"Siapa kalian?" tanya Nadin berani.
"Duh galaknya, manis deh kalo galak gini," ucap salah satu dari mereka. Mulai berani mencolek gemas dagu Nadin.
"Ihhhh, apaan sih?" Nadin mulai galak, menepis kasar tangan kotor itu. Ia juga mulai memasang ancang-ancang untuk kabur.
"Mau ke mana, Cantik! Kita senang-senang aja yuk!" ajaknya lagi sambil meraih paksa tangan Nadin.
Para preman mulai tak sabar. Mereka pun langsung membekap mulut Nadin dan menarik paksa tangan gadis itu.
Nadin tak tinggal diam, gadis ini terus meronta dan melakukan apapun yang dia bisa termasuk menginjak kaki para preman itu.
Salah satu preman geram, pria tinggi besar ini hendak melayangkan tangannya tepat di wajah ayu gadis itu. Sayangnya, belum sampai tangan itu menyentuh pipi mulus Nadin, tanpa di sangka, sebuah tendangan dari arah belakang mengagetkannya.
Buuuggghhhh...
Tak ayal, preman bertumbuh tinggi tegap itu pun tersungkur.
"Lepaskan dia, Brengsek!" perintah pria itu.
"Heh, enak saja... Memangnya siapa kamu?" tanya pria itu.
__ADS_1
"Dia, istriku! Bajingan.... " jawab Rasyid, tanpa berpikir panjang. Tanpa memikirkan perasaan Nadin juga.
"Hahahahha... dia istrimu? Sepertinya istrimu ini cantik, mulus, pasti sangat enak jika dinikamati." Kedua preman yang belum merasakan bogem mentah Rasyid, tertawa senang.
Mendengar jawaban itu, darah Rasyid mendidih sempurna. Tanpa berpikir panjang ia pun langsung menghadiahkan bogem mentah tepat di mulut pria yang berani merendahkan gadis incarannya itu. .
Melihat sahabatnya diserang, salah satu dari mereka tak terima, ia pun langsung menyerang Rasyid.
Dengan sigap, Rasyid menghindar, lalu memberikan tendangan dasyat tepat di perut pria itu.
Sang pria jatuh tersungkur, Rasyid berlari cepat. Diinjak nya kaki pria itu hingga pri tersebut kesakitan.
Dua pria berhasil Rasyid lumpuhkan. Kini tinggal satu pria pengecut yang masih memegang tangan Nadin.
"Ayo sini kamu! Sini.... " perintah Rasyid geram. Rahangnya mulai mengeras. Apa lagi ia melihat pria itu berani memeluk erat tubuh Nadin.
Dengan kesal, pria berdarah Jawa-Manado ini pun kembali berteriak, "Lepaskan dia, Brengsek. Dia ketakutan!"
Tak menunggu waktu lagi, Rasyid pun langsung menyerang pria itu. Menendangnya hingga pria itu jatuh terpental.
Masih belum puas, Rasyid kembali menyerang, menangkap kerah baju pria. Membenturkan kepala preman itu dengan kepalanya.
Belum puas, Rasyid kembali menginjak kaki pria itu, hingga pria itu mengaduh kesakitan.
Dua preman yang menerima amarahnya di awal, sudah lari terbirit-birit. Sedangkan pria terahir, Rasyid hajar sampai pria itu tak sanggup berucap ampun.
Di lain pihak, Nadin bukan takut pada para preman itu. Tetapi ia malah takut dengan amarah Rasyid yang sangat tidak ia sangka.
Pria itu begitu selalu berhasil membuatnya kesal. Membuatnya jengkel tanpa sekalipun bernai menyentuh tubuhnya. Tetapi apa yang ia lihat sekarang jauh lebih gila dari kegilaan yang pernah Rasyid lakukan padanya.
Rasyid begitu penuh emosi ketika melihat ada seseorang yang berani menganggunya.
Ada apa dengannya?
__ADS_1
Nadin masih diam terpaku....
Bersambung