
Ingin membuktikan bahwa dirinya layak disebut istri, Nadin pun menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Membuatkan segelas susu hangat untuk pria itu.
Rasyid keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit sampai pinggang.
Nadin memalingkan wajah. Menyembunyikan senyum malu-malu. Sedangkan Rasyid terlihat biasa saja. Mungkin, Rasyid menganggap hal ini wajar bagi sepasang suami istri. Terlebih mereka sudah menikah.
Rasyid melangkah mendekati ranjang, bermaksud mengambil baju yang sudah disiapkan sang istri.
Nadin yang salah tingkah, langsung membalikkan badan. Bermaksud meninggalkan kamar. Tentu saja untuk mengindar dari pria yang telah membuatnya tak berdaya ini.
Namun, kedekatan jarak antara mereka membuat Nadin terkejut, tabrakan pun tak terhindarkan. Dengan cepat, Rasyid pun menangkap tubuh ramping sang istri yang hampir jatuh.
"Uppps, sorry... " pekik Nadin.
Rasyid tersenyum, "No problem!"
Nadin tak berani menyentuh dada itu. Bahkan ia juga tak berani menatap mata Rasyid. Wanita cantik itu gemetar, salah tingkah. Membuat Rasyid merasa lucu.
"Kamu oke?" tanya Rasyid.
"Ya, bisa lepaskan aku?" tanya Nadin, masih belum berani menatap mata pria itu.
"Kenapa? Apa aku dilarang memeluk istriku?" tanya Rasyid lagi, kali ini dengan tatapan mata yang sukses meluluh lantahkan perasaan seorang Nadin saat ini.
__ADS_1
"Tidak, bukan itu. Hanya saja aku... aku belum siap," jawab Nasin, gugup.
"Belum siap? Belum siap apa? Aku kan cuma mau peluk, bukan mau ngapa-ngapain kamu," jawab Rasyid, sengaja mempermainkan perasaan Nadin.
"Aku tau, tapi.... " belum sempat Nadin melanjutkan ucapannya, Rasyid langsung mengangkat dagu sang istri. Kali ini Rasyid berani. Berani mengambil kecupan di bibir Nadin. Membuat Nadin yang belum pernah merasakan hal itu, rasanya ingin pingsan. Tubuh rampingnya berasa panas dingin. Anggannya serasa melayang entah ke mana.
Bagaimana tidak? ini adalah pengalaman pertama untuk Nadin. Sekaligus ciuman pertama yang mereka lakukan secara sadar dan ikhlas.
Pangutan demi pangutan Rasyid lancarkan dengan penuh cinta. Hasrat yang ia pendam selama ini tersalurka sudah. Dalam kondisi halal. Penuh kelembutan. Penuh kasih sayang.
Merasa tak ada penolakan dari sang istri, Rasyid pun mengulang kembali kecupannya. Kali ini pria tampan ini berani mengekspos bibir Nadin. Hingga mau tak mau, Nadin pun membuka mulutnya.
Di detik berikutnya, Rasyid melepaskan bibir mereka. Tersenyum senang. Ternyata Nadin begitu kaku. Rasyid yakin, ini pasti pertama baginya. Dan jujur, Rasyid bangga dengan itu.
"Terima kasih, Sayang. Aku bahagia," ucap Rasyid tersenyum. Menatap Nadin yang tertunduk malu.
"Kenapa? Kok malu? Apa ini yang pertama untukmu?" tanya Rasyid, masih di posisi yang sama. Rasyid mendekap Sang istri. Menjaga wanita itu. Seakan takut kehilangan.
"Tentu saja, aku selalu menjaga diriku dengan baik," jawab Nadin, sedikit mengeluarkan kejutekkannya, agar tak dianggap remeh oleh Rasyid.
"Aku bangga, karena aku yang memiliki bibirmu untuk yang pertama dan aku berharap, hanya aku yang bisa memilikinya. Sampai kapanpun!" ucap Rasyid.
Nadin tersenyum. Ternyata sikap arogansi Rasyid, bisa memberinya kebahagiaan juga.
__ADS_1
"Apakah ini tandanya aku juga yang pertama untukmu?" tanya Rasyid lagi.
"Apakah itu penting?" balas Nadin.
"Untuk seorang pria, iya."
"Pria memang egois!"
"Sebenarnya aku tidak peduli dengan masa lalumu, Nad. Seandainya iya, aku bukan yang pertama untukmu, itu pun tak masalah bagiku. Namun, aku minta, setelah kamu setuju melangkah bersamaku, maka aku mau, kamu tetap menatapku. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Karena kamu tidak akan pernah bisa, kamu paham?" jawab Rasyid, posesif.
"Apakah semua cowok seposesif kamu, Pak Satpam?" tanya Nadin lagi, kali ini terdengar mesra, lembut di telinga Rasyid.
"Aku tidak tau, sifat seseorang berbeda-beda. Tapi, kalo kamu tanya bagaimana aku, ya beginilah aku. Aku egois dan posesif . Aku bisa melakukan apapun untuk melindungi milikku. Seperti kamu, yang sudah ditakdirkan menjadi milikku," jawab Rasyid.
"Bagaimana jika aku pun bersikap sama? Bagaimana jika aku tidak mau melepaskanmu setelah ini? Apapun yang terjadi aku akan tetap menjadi lintah dalam hidupmu? Apa kamu siap?" tantang Nadin, ikut posesif.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Nadin ku sayang. Aku mencintaimu. Sungguh!" ucap Rasyid, penuh penekanan.
Sekarang, tak ada alasan bagi Rasyid untuk mengambil haknya. Nadin sudah menghidupkan lampu hijau. Pertanda ia juga menginginkan ini. Menginginkan pembuktian cinta yang butuh pelampiasan.
Bersambung.....
Jangan lupa like komen n Votenya ya... please, jangan Silent Reader 🥰🥰😝
__ADS_1