Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Dalam Pengawasan


__ADS_3

Nadin dan Violeta terlena dalam acara masak memasak mereka sampai lupa waktu. Nadin terlihat begitu bersemangat belajar memasak dari asisten pribadi neneknya itu.


Tanpa Nadin sadari, beberapa kali ia memeluk manja wanita itu. Seperti seorang anak pasa ibunya.


"Eh maaf, Nona Vio!" ucap Nadin, merasa tak enak.


"Nggak pa-pa, Nona. Saya ngerti kok. Pasti anda merindukan nyonya Farah, kan?" Violeta mengelus lengan gadis manja itu. Mencoba memberikan ketenangan untuk gadis itu.


"Ya, aku rindu mama." Nadin menunduk sendih.


"Doakan dia. Dia sekarang sedang menunggu doa anak sholehah sepertimu. Nona sayang kan sama nyonya Farah?" ucap Violeta.


"Tentu saja sayang, dia ibuku," jawab Nadin. Tak terasa butiran bening keluar dari surut mata gadia cantik itu.


Violeta membantu Nadin menghapus air mata gadia itu, lalu ia kembali berucap, "Mulai sekarang, jangan pernah pergi ke club lagi, jangan foya-foya lagi, jangan pernah pergi ke tempat yang membuat mamamu kecewa. Ubahlah hidupmu menjadi gadis yang baik. Jangan tinggalkan sholatmu. Jangan tunda doamu untuk mamamu. Lupakan segala dendam yang masih bersarang di hatimu. Dan satu lagi yang harus kamu percaya, bahwa pernikahan yang disiapkan oma mu, itu adalah bentuk kasih sayangnya. Beliau ingin kamu selamat dari rencana jahat ibu tiri mu. Jadi, pernikahan itu bukan keputusan yang diambil asal-asalan. Tapi, kamu sudah memilih, maka konsekuen lah, jalani apa yang sudah kamu pilih. Nanti, jika kamu sudah mengerti maksud dan tujuan oma mu, maka kembalilah. Saya akan selalu ada di pihak mu. Saya akan selalu membantu semampu saya. Jangan takutkan apapun, oke!"

__ADS_1


Nadin cemberut. Sebenarnya ia sangat paham dengan ucapan itu, tetapi menikah dengan satpam menjengkelkan itu, rasanya bukanlah solusi terbaik untuk masalahnya ini.


"Tapi tidak jika menikah dengan satpam jelek itu," gerutu Nadin.


"Lalu siapa? Kami tidak bisa memberikanmu pada sembarang pria, Nona. Pria itu adalah kandidat terbaik. Kita kenal keluarganya dan dia juga tidak memiliki riwayat pergaulan yang jelek," jawab Violeta jujur.


"Nggak! Pokoknya enggak. Apapun alasannya. Aku benci padanya. Dia manusia jelek nan angkuh yang ada di dunia ini. Dia jerapah gila. Malas aku!" Nadin kembali mengeluarkan amarahnya.


"Oke, Oke, saya nggak akan maksa. Sekarang makanlah, lalu istirahat. Besok saya akan ke sini lagi, untuk mengantarmu ke tempat kerja, di mana kamu harus membayar konsekuensi itu . Oke!" ucap Violeta. Nadin mengangguk, menurut.


"Tentu saja tidak? Kamu akan mendapatkan itu setelah seminggu bekerja. Sama seperti karyawan yang lain," jawab Violeta.


"Benarkah? Astaga! Oma kejam sekali!" jawab Nadin kesal.


Namun, ia tak bisa mengelak. Bagaimanapun ini adalah pilihan yang harus ia jalani. Nadin yakin, dengan tekat dan kesungguhan yang ia miliki. Ia pasti bisa melewati ini.

__ADS_1


Tak ingin menunda waktu lagi, gadia ayu ini pun segera mengambil piring dan menyantap hidangan yang telah dimasak berdua dengan wanita yang selama ini diam-diam selalu menjaganya sepenuh hati. Ya, tanpa Nadin tahu, Violeta lah wanita yang selama ini menjaganya sepenuh hati. Menjaganya seperti anak sendiri. Entahlah, mengapa wanita yang masih sendiri di usianya yang tak lagi muda. Mungkin, Violy mempunyai rahasia yang tidak semua orang tahu.


***


Di sisi lain, Rasyid merasa sangat bahagia, karena tidak perlu menikahi gadis barbar itu. Ditambah, ia juga tak perlu membayar konsekuensi atas kesepakatan itu.


"Akhirnya, gadis gila itu menerima akibat dari perbuatannya menzolimi ku. Rasain, emang enak!" ucap Rasyid semangat sambil merapikan berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.


"Siapa suruh barbar! Dasar!" umpat Rasyid lagi.


Di detik berikutnya, ia malah tersenyum sendiri membayangkan tuan putri itu, mulai besok akan bekerja di tempat yang sama dengannya. Sebagai cleaning servis. Dan menurutnya, ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk membuat gadis itu semakin tertindas, tertekan dan akhirnya menyerah. Lalu, tanpa berpikir panjang, dia pasti akan memintanya menikahinya. "Oh, tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menikahimu gadis manja. Rasakan pembalasanku!" gumam Rasyid dengan senyum liciknya.


Sayangnya, kebahagiaan yang dirasakan Rasyid tidak serta merta itu adalah kebahagiaan nyata. Karena tanpa ia sadari, gerak-geriknya masih di awasi oleh orang-orang Zarin.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan votenya yes😘😘😘


__ADS_2