Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Kena Imbas


__ADS_3

"Sebaiknya aku keluar! Di kamarku sendiri berasa neraka! Panas! Nggak jelas banget sih!" gerutu Nadin kesal. Ingin rasanya dia melempar bantal ke arah asisten neneknya itu.


Ya Nadin sangat marah, kesal, penyebabnya tak lain dan tak bukan, di samping sakit hatinya pada Rasyid. Ia juga gemas dengan kemesraan yang terjadi antara Vio dan Yoga.


Lagi-lagi Violeta hanya melongo. Tak menyangka jika Nadin bisa se jealous itu dengannya.


"Hallo....masih ada orang?" tanya Yoga.


"Sorry, Nona ku ngambek."


"Ngambek? Kenapa? Aku ganggu ya?" tanya Yoga.


"Nggak juga sih! Sebenarnya Nona sudah uring-uringan pagi tadi."


"Loh kenapa? nggak bisa keluar? Nggak bisa main? atau kenapa?" tanya Yoga.


"Kata sepupu kamu, suaminya nggak kasih kabar. Dia kesel. Ditambah kita telponanya kek ini. Ya udah, dia tambah jealous," jawab Violeta.


"Ohhh... ha?" pekik Yoga, kaget.


"Ih, ngagetin. Selalu deh!" Violeta cemberut.


"Ya nggak sih, cuma aneh aja dengernya. Bukannya mereka musuh bebuyutan, kenapa sekarang jadi ada acara uring-uringan ketika ditinggal?" tanya Yoga, heran.


"Namanya juga cinta, mau gimana lagi. Kek Bapak nggak lagi ngalamin aja," jawab Vio, sedikit bercanda.


"Hehehe, bener juga sih! Tapi aneh juga kalo tiba-tiba saja nonamu jadi jatuh cinta sama temenku. Kan kita sama-sama tau, gimana mereka? udah gitu dijodohkan pula. Kan nggak mungkin secepat itu. Kalo pun jatuh cinta, aku rasa butuh waktu lah," jawab Yoga, masih menujukkan ketidakpercayaannya.


"Eh, jangan gitu. Cinta itu unik. Siapa tau, sebenernya mereka udah ada rasa sejak pertama ketemu atau pas ijab, mereka udah memantapkam hati. Berjanji saling menerima. Kan kita nggak tau hati orang, Bapak!" jawab Violeta.


Di seberang sana, Yoga mengangguk-anggukkan kepala mengerti.

__ADS_1


"Ahhh, whatever lah... serah mereka aja. Aku mau kita bahas hubungan kita aja, gimana?" tanya Yoga lagi.


"Hubungan kita? Ada apa dengan hubungan kita?" Sepertinya Violeta lupa, jika Yoga mengajaknya menikah.


"Ih, kok lupa sih?"


"Ya kenapa? Kita mau ngapain memangnya?"


"Will you merry me?" tanya Yoga lagi. Kali ini Yoga serius.


Speechless, Violeta diam. Tak mampu berucap apapun. Hatinya terlalu berbunga-bunga. Sehingga napas pun terlalu berat baginya.


"Gimana? Mau nggak?" tanya Yoga lagi.


Violeta memegang erat dadanya. Mengatur napas agar kembali normal seperti semula. Namun ia gagal. Kebahagiaan itu terlalu erat memeluk jiwanya. Hingga ia hanya bisa diam dan tersenyum mana kala Yoga menunggu jawabannya.


***


Mita dan Violeta telah meninggalkan kediaman Rasyid dan Nadin untuk memulai aktivitas mereka.


Kini tinggallah Nadin hanya sendiri, tak punya kegiatan, tak ada kesibukkan.


Untuk mengurangi kejenuhannya, Nadin memutuskan untuk membuka laptopnya dan menonton drama Korea kesukaannya.


Tiga puluh menit di depan laptop, Nadin di kejutkan dengan kehadiran seseorang, yang tak lain adalah suaminya sendiri.


"Assalamu'alaikum, Istriku.... " ucap Rasyid.


Nadin yang saat itu masih diselimuti rasa kesal, hanya melirik Rasyid dan menjawab salam itu dari hati.


"Ih, suaminya datang, nggak disambut, dosa loh. Salamnya nggak dijawab lagi," ucap Rasyid lagi. Kali ini langsung duduk di samping Nadin dan menaruh dagunya di pundak wanita cantik itu.

__ADS_1


"Istri ya? Sejak kapan aku jadi istrimu?" tanya Nadin ketus. Tak lupa, ia juga mendorong kepala Rasyid agar menjauh darinya.


"Lohhhh... kan beberapa hari yang lalu kita menikah, Honey. Masak lupa?" canda Rasyid.


"Oh ya, memangnya sikap suami ke istri begitu ya. Pergi nggak bilang ke mana. Nggak ngasih kabar. Dicuekin. Kek gitu dibilang suami istri?" tanya Nadin, kali ini ia benar-benar kesal. Bahkan mata cantiknya itu mulai berkaca-kaca.


"Sorry, aku sibuk. Sampai nggak sempat pegang hape. Aku kemarin langsung terbang ke Singapore," jawab Rasyid, kali ini jujur.


"Aku nggak peduli ya, serahmu aja!" jawab Nadin seraya beranjak dari ranjang dan melangkah pergi meninggalkan Rasyid yang shock atas kekesalan sang istri.


Ternyata Nadin benar-benar marah padanya.


Tan ingin larut dalam belenggu pertengkaran, Rasyid pun memutuskan untuk menyusul samb istri yang sedang merajuk itu.


"Aku minta maaf ya," ucap Rasyid seraya memeluk sang istri dari belakang.


Nadin tak menjawab. Ia memilih menghabiskan air minum yang ada di tangannya.


"Aku minta maaf karena udah bikin kamu nunggu. Aku minta maaf karena nggak kasih kamu kabar seharian. Aku tau kamu pasti khawatir," ucap Rasyid mesra.


"Kita memang menikah atas perjodohan. Aku menyadari itu. Aku juga tau tidak ada cinta di antara kita dan cinta itu juga nggak akan pernah ada. Tapi setidaknya jangan begitu lah, kita sekarang partner dalam segala hal. Aku harap, kita akan selalu tau posisi kita. Tau kalo kita dalam keadaan baik-baik saja. Itu sudah cukup bagiku. Aku nggak minta lebih, Syid! sungguh!" ucap Nadin kesal.


Seperti mengungkapkan isi hatinya yang lama terpendam. Entah itu ia rasakan kepada siapa. Yang jelas, Rasyid bisa merasakan bahwa wanita yang ia nikahi ini membutuhkan kasih sayang dan perhatian.


"Aku minta maaf, besok-besok kalo aku kerja atau ke mana, aku pasti kasih kabar. Oke!" ucap Rasyid. Mencoba menenangkan hati sang istri.


Nadin tidak menjawab. Ia memilih melepaskan tangan Rasyid yang kini sedang memeluknya. Nadin hanya ingin sendiri. Ia sangat lelah menunggu. Lelah dengan kehidupannya yang ternyata tidak pernah dianggap ada oleh orang-orang yang ada di dalam circle nya. Sedangkan Rasyid sendiri, ia tau bahwa saat ini ia sedang kena imbas dari luka batin yang diderita oleh sang istri selama ini.


Bersambung..


Jangan lupa like komen dan vote kalian, selalu aku tunggu loh😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2