Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Terlambat


__ADS_3

"Cobaan apa lagi ini, Syid. Ha?" tanya Nadin ketika Rasyid memeluk erat tubuhnya.


"Sabar, Sayang! Kamu pasti kuat. Kita hadapi ini sama-sama, heemm!" jawab Rasyid, menenangkan.


"Aku memang tidak menyukai papa, tapi tidak jika dia meninggal dengan cara sekejam ini. Aku nggak rela, Syid. Demi Tuhan aku nggak rela," ucap Nadin dalam isak tangisnya.


"Aku tau, Yang. Bersiaplah. Ganti pakaianmu. Mari kita cari keadilan untuk papamu," jawab Rasyid seraya membantu sang istri beranjak dari tempat duduk mereka.


"Aku harus apa, Syid. Mungkinkah aku kuat ngadepin wanita jahat itu?" tanya Nadin.


"Ada aku, Sayang! Apa yang kamu takutkan, hemmm?"


"Dia sangat kejam, Syid. Belum lagi orang-orang yang ada di belakangnya. Mungkinkah kita bisa?"


"Kamu jangan lupa, Yang. Ada Tuhan bersama kita. Selama ada Tuhan, maka jangan takutkan apapun," jawab Rasyid


Nadin mengangguk mengerti. Lalu, ia pun segera mengambil baju ganti, masuk ke kamar mandi dan mulai bersiap.


Sedangkan Rasyid langsung mempergunakan waktunya untuk mencari tahu kondisi terkini di sana. Berharap, anak buahnya bergerak cepat untuk mengamankan wanita itu.


Jika dugaannya itu benar terjadi, maka Rasyid tak akan pernah mengampuni wanita itu.


***


Di sisi lain, Violeta menginjak pedal gasnya lebih dalam. Tentu saja agar segera sampai di rumah majikannya.


Keselamatan Zarin adalah hidupnya. Violeta tak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu pada wanita itu.


Beberapa hari yang lalu, Zarin memang sudah memaafkannya. Memaafkan ibunya. Bahkan Zarin berterima kasih padanya, karena selama sepuluh tahun ini Vio telah menjaga dan menemaninya dengan sangat baik.

__ADS_1


Meskipun begitu, Violeta tetap tidak rela, jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada wanita itu.


Violeta telah menganggap Zarin sebagai orang tuanya sendiri. Maka ia tak akan mengizinkan siapapun menyentuh orang-orang yang ia sayang.


Perjalanan yang biasanya memakan waktu dua jam, kini hanya Vio tempuh tidak kurang dari satu jam.


Vio mengendarai mobilnya dengan sangat cepat. Sebab ia tahu, ia sedang berpacu dengan waktu.


Jika dia telat sedetik saja, maka semua akan hancur. Hancur sehancur hancurnya.


Sesampainya di rumah Zarin, gadis cantik ini pun langsung masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Berlari masuk ke dalam kamar di mana wanita tua itu berada.


Sesampainya di depan pintu dan sebelum masuk ke dalam kamar, terlebih dahulu Violeta mengatur napasnya. Merapikan baju yang ia pakai. Tak lupa ia juga merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Violeta tak mau, penampilannya akan menimbulkan banyak pertanyaan untuknya.


"Ya Tuhan, bantu aku!" pinta Violeta sembari memegang dadanya.


Merasa siap, Vio pun membuka pelan pintu kamar majikannya itu. Gelap... kondisi kamar gelap.


Violeta mulai melangkah mendekati sang majikan. Wanita itu masih bergeming di atas pembaringan. Violeta tersenyum lega.


Namun, perasaan lega tersenyum tidak berlangsung lama. Sebab ia tampil mendengar suara napas Zarin. Pelan, namun pasti, Violeta pun menyentuh ibu majikannya itu. Meraba dada wanita tua itu. Memeriksa napasnya.


Kosong, hening, tak ada tanda-tanda pernapasan.


Tak percaya, Violeta pun meraih tangan Zarin, lalu memeriksa denyut nadi wanita itu. Nadinya tak berdenyut.


Tak berani mengambil kesimpulan, Violeta pun beranjak mencari tombol lampu utama. Lalu menyalakannya.


Lampu telah menyala. Violeta mendekati wanita tua itu lagi.

__ADS_1


Dengan hati-hati, ia pun kembali memeriksa wanita tua itu. Memeriksa seluruh tubuh Zarin.


Kondisinya lemas namun dingin.


Spontan, pikiran Violeta pun tak nyaman. Ketakutan langsung merengkuh nya. Bagaimana tidak? Zarin tak bernapas. Zarin lemas. Matanya terpejam. Tak ada denyut nadi.


"Mungkinkah???" gumam Violeta.


Tak ingin berandai-andai, Violeta langsung menghubungi dokter pribadi wanita tua ini. Dengan tangisan menyayat hati, Violeta pun segera menghubungi Bima. Dokter yang Rasyid minta untuk memantau dan mengawasi keadaan nenek mertuanya itu.


"Tenangkan dirimu, Nona, saya akan segera ke sana!" ucap Bima.


"Terima kasih, Dokter!" jawab Violeta. Lalu sambungan telpon itu pun berakhir.


Violeta tak berani sendirian menghadapi ini. Lalu ia pun meminta seluruh orang yang bekerja di sini berkumpul di kamar ini. Menemaninya. Mendoakan wanita yang mungkin sudah berpulang ini.


Namun, Violeta tak ingin percaya dengan bisikan hatinya. Violeta masih berharap ada keajaiban. Wanita itu bangun ketika mendengar suara dirinya menggaji. Lalu, memeluknya seperti biasa.


Tiga puluh menit, Bima pun sampai. Pria itu langsung memeriksa keadaan Zarin.


Tatapan mata Bima berubah sendu. Lalu ia pun memberikan keputusan. Keputusan yang sangat mengerikan bagi Violeta.


"Yang sabar ya, Nona, ibu nyonya sudah berpulang. Kita ikhlaskan ya," ucap Bima sembari menutup tubuh wanita tua itu dengan selimut.


Violeta tak menjawab sepatah kata pun. Ia menyesal. Andai malam ini adalah malam terakhir wanita itu, mungkin setelah mengantarkan sang adik, ia pasti akan kembali ke rumah ini. Menemani wanita tua itu. Mendengarkan cerita wanita itu. Seperti biasa. Seperti malam-malam sebelumnya.


Violeta menyesal. Ia terlambat. Terlambat melindungi wanita itu. Langkahnya kalah cepat dengan wanita itu. Wanita biadap yang membawa petaka pada kehidupan wanita tua ini.


Bersambung...

__ADS_1


Assalamu'alaikum... hay gaes☺Makasih udah setia dengan kisah Mas Rasyid n Mbak Nadin ya😍Bagi kalian pecinta horor, jangan lupa tongkrongin karya terbaru dari emak. Yang pastinya bisa bikin kalian merinding😝



__ADS_2