
Nadin bergeming tanpa kata. Menatap penuh tanya dengan apa yang baru saja ia lalui.
Rasyid bertingkah seperti bukan dirinya. Bukan seperti Rasyid yang selalu menindasnya.
Pria ini tiba-tiba saja begitu peduli padanya. Bahkan, entah ia sadari atau tidak, pria itu tadi menyebut bahwa dirinya adalah istri dari pria tersebut.
Bukankah ini sangat tidak masuk akal?
Apakah Rasyid adalah pelindung rahasia untuk dirinya?
Banyak tanya bersarang dalam benak gadis ayu ini. Namun, Nadin tak berani mengutarakan tanya itu, meskipun hanya sebaris kalimat.
Nadin tahu, jika pria itu pasti kesal melihat ketidakadilan di depan mata. Tetapi, haruskah dia sebringas itu. Sungguh, ini sangat menakutkan bagi gadis itu.
Tak ingin terlibat dengan pria itu lagi, Nadin pun melangkahkan kaki, meraih tas tangannya. Berusaha untuk tidak memedulikan pria mengerikan itu.
"Tunggu! Berhenti di situ!" cegah Rasyid.
Nadin langsung menghentikan langkahnya. Namun ia sama sekali tidak mau membalikkan badan. Meskipun hanya untuk melirik, atau hanya sekedar berucap terima kasih.
Terdengar langkah Rasyid mendekatinya. Nadin masih bergeming di tempat.
"Ayo kita pulang!" ajak Rasyid.
"Nggak!" tolak Nadin.
"Kenapa?"
"Aku nggak mau hutang budi lagi sama kamu."
"Aku tak menganggapnya hutang!"
"Sekarang, tapi nanti? Kamu pasti akan mengungkit dan menghitungnya."
__ADS_1
"Tidak, ayo pulang!"
Nadin masih belum mau membalikkan tubuh. Seolah menyembunyikan rasa aneh yang tumbuh di dalam hatinya.
Sedangkan Rasyid, pria ini tersenyum senang. Akhirnya Nadin tidak ber-elu gue lagi dengannya.
"Nadin, ayo!" ajak Rasyid lagi.
"Nggak, aku pulang sendiri aja!" jawabnya tegas.
"Aku nggak izin. Sekarang kamu nurut atau aku paksa," ancam pemuda tampan itu.
"Tu kan, belum apa-apa udah ngancem. Kamu maaa.... selalu!" Nadin melirik kesal.
"Sudah aku bilang tadi, tunggu aku di parkiran sebentar. Lalu kenapa kamu menghilang. Aku cuma fingerprint sebentar. Dasar nggak sabaran!" jawab Rasyid, sedikit santai.
"Udah aku bilang, aku nggak mau deket-deket kamu!"
"Kenapa?"
"Kenapa? Apa karna aku hanya seorang satpam?" tanya Rasyid.
"Enggah ih, Udah ah, kamu sana. Aku jalan kaki aja," tolak gadis itu lagi. Tak ingin dipaksa, ia pun akhirnya melangkah meninggalkan Rasyid.
Sedangkan Rasyid, dia adalah pria anti penolakan. Tanpa berkata apapun ia pun langsung menyusul gadis itu.
Dengan kesal, Rasyid langsung mengangkat tubuh ramping sang gadis. Lalu membawanya menuju motor legend miliknya.
"Ih, Rasyid... lepas ih!" pinta gadis itu meronta.
Rasyid tidak menjawab. Ia pun langsung menurunkannya gadis rewel itu tepat di atas motor kesayangannya.
"Diam, kalo nggak aku telponan omamu ni. Mau!" ancam pemuda itu.
__ADS_1
"Telponan aja, telponin. Biar nenek tua itu tau, aku menderita hidup seperti ini," jawab Nadin berani. Namun, di detik berikutnya, terlihat mata cantik itu berkaca-kaca.
Rasyid bingung jadinya.
Nadin masih stay di atas motor. Ingin rasanya meloncat. Tapi, Rasyid begitu sigap menjaganya. Rasanya tak ada celah baginya untuk kabur.
"Kamu tu maunya apa sih?" tanya Rasyid, jengkel.
"Kembali ke kehidupanku yang lama, sebelum ketemu kamu. Sebelum kenal kamu. Puas!"
"Emangnya kamu pikir aku mau gitu kenal kamu? Kalo nggak karena terpaksa, aku juga ogah jagain kamu!" balas Rasyid.
"Kalo gitu lepasin aku. Ngapain kamu mau jagain aku?"
"Andai hidupku semudah itu. Sudah aku kasihkan saja kamu sama preman tadi." Rasyid terlihat mulai tak sabar.
"Kasihkan saja, kasihkan! Biar kalian semua puas kalo aku mati!" teriak Nadin. Kesal, tak sanggup lagi menahan emosi yang kini mengepung jiwanya.
"Kamu gila ya, ha? dijagain bukannya terima kasih, malah ngomong yang nggak enggak. Nenekmu, nenekku dan aku, itu kasihan sama kamu tau nggak. Sekarang, nyawamu dalam bahaya. Ibu tirimu sedang merencanakan sesuatu padamu. Asal kamu tau itu," ucap Rasyid. Akhirnya tak tahan juga dengan rahasia yang seharusnya ia jaga.
Nadin menatap tak percaya pada Rasyid. Aneh saja, dari mana dia tahu bahwa dirinya memiliki ibu tiri. Sedangkan hampir seluruh orang-orang yang bekerja padanya saja, tidak tahu.
"Dari mana kamu tahu kalo aku punya ibu tiri?" tanya Nadin, terlihat kesal.
Belum sempat Rasyid menjawab, hujan deras mengguyur tubuh mereka.
"Ya Tuhan, apa lagi ini!" pekik Nadin, terkejut.
Bagi Nadin, hujan ini memang menjengkelkan, tetapi tidak untuk Rasyid. Hujan ini seperti penolong baginya. Pertolongan dari pertanyaan-pertanyaan dan mungkin penolakan-penolakan Nadin. Dan Rasyid malas melayani itu.
Tanpa berucap apapun, pemuda tampan ini pun melepas jaketnya dan memaksa gadis itu memakainya. Lalu, tanpa menunggu persetujuan dari Nadin, Rasyid pun segera naik ke atas motor dan melajukan kendaran kesayangannya tersebut.
Bersambung...
__ADS_1