Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Perihal Hati


__ADS_3

"Sebentar lagi ada adiknya Yoga bakal dateng, memenin kamu. Kalo mau makan apa-apa, bilang aja ke dia, ya!" ucap Rasyid, sembari memakai jaketnya dan merapikan rambutnya. Sedangkan Nadin hanya duduk memerhatikan apa yang suaminya lakukan.


"Oiya, jangan lupa telpon oma Zarin, kasihan, dari kemarin kamu nggak telpon loh. Jangan suka bikin orang tua khawatir. Nggak baik," ucap Rasyid lagi.


"Biarin aja, siapa suruh dia nikahin aku. Coba dia biarin aku masih gadis. Kan aku nggak bakalan ke mana-mana? di rumah terus kan?" jawab Nadin, asal.


Rasyid melangkah mendekati wanita cantik itu. Lalu mengukungnya. Menatapnya dengan cinta.


"Omamu menikahkan mu buka tanpa alasan. Dia ingin kamu selamat dari siasat licik ibu tiri mu. Oma menyadari, bahwa fisiknya sekarang mulai sulit untuk diajak kompromi, makanya dia memilih jalan ini. Lagian, pria yang ia pilih juga bukan sembarang pria kan? Aku tampan, seksi, cerdas, berkarisma, kurang apa lagi heeem?" jawab Rasyid, sembari bercanda.


"Nggak lucu, sana ah. Jangan deket-deket. Kamu menyebalkan," jawab Nadin malu-malu.


Rasyid tersenyum senang melihat tingkah malu-malu sang istri.


"Cium dulu, baru aku pergi," pinta Rasyid.


"Cium cium apa cium. Ih, sana nggak! kamu bau stroberi!" tolak Nadin manja namun juga gugup.


"Stroberi? mana ada! Ini bau parfum mahal tau, boleh dikasih ama pak bos," jawab Rasyid sembari mencium ketiaknya.


Nadin tersenyum, lucu saja melihat tingkah kocak pria yang mengaku dirinya seksi ini.


Senyum Nadin ternyata begitu menggoda, andai boleh sedikit saja ia mencium bibir manis itu. Alangkah bahagianya seorang Rasyid.

__ADS_1


Kapan kita bisa jalanin ibadah halal itu, Yank. Ih kamu bikin gemes tau.


Rasyid menatap intens. Menatap mata Nadin. Mencoba mencari namanya di dalam hati wanita cantik ini, melalui pancaran sinar mata indah itu tentunya. Sayangnya, lama kelamaan Nadin salah tingkah juga.


"Sana nggak!" suruh Nadin lagi, kali ini agak sedikit ketus.


"Nggak mau, kan belum di kasih cium. Suami istri kalo mau pisah, biasa ciuman dulu loh. Biar tenang nglepasnya. Ciuman yuk!" ajak Rasyid, bercanda, dengan senyuman nakalnya tentunya.


"Ihhh, apa sih? Mesum dah... kumat mesumnya. Udah sana ahhh, kalo nggak aku pukul ni!"


Rasyid tertawa lirih. Menurutnya Nadin tidak pandai berpura-pura.


"Iya, iya, baiklah... aku nggak bakalan maksa kamu. Janji jangan kangen ya! Bisa-bisa aku pulangnya besok pagi loh!" ucap Rasyid lagi. Lalu ia pun beringsut menjauh.


"Bener, ntar gelisah!" canda Rasyid.


"Enggak ih!" Nadin beranjak dari tempat duduknya, lalu memilih keluar kamar. Lama-lama ia tak tahan juga dengan tingkah Rasyid yang selalu memancing emosinya. Bukan apa, Nadin hanya takut tidak bisa menahan perasaanya.


Sedangkan Rasyid terus saja tersenyum. Ia tau, perasaan Nadin lemah, tidak sekuat mulutnya yang selalu menolak itu.


"Slow, Syid, jangan gegabah. Sabar, tahan, percayalah, sebentar lagi kamu pasti bisa ngedapetin hati gadis manja itu. Oke!" ucap Rasyid, menyemangati dirinya sendiri.


Tak berapa lama, terdengar seseorang membunyikan bel. Sepertinya itu adalah Mita, seorang pengawal wanita yang ditugaskan Yoga untuk menjaga Nadin.

__ADS_1


***


Hujan deras mengguyur jalan tol Jakarta-Bandung. Violeta berkendara sendirian menerjang hujan. Gadis cantik ini terlihat sedikit risau. Bukan risau karena hujan. Tapi bahan bakar mobilnya tinggal sedikit, sedangkan ia tidak memiliki uang sama sekali.


Uang, kartu ATM dan apapun yang berhubungan dengan uang telah ia serahkan pada Zarin. Lalu bagaimana ini? Astaga!


Baru lima menit ia membayangkan kesusahan itu, mobil sudah tidak bisa menyala. Bahan bakar habis. Terpaksa Violeta menepikan mobilnya.


"Ya Tuhan, ujian apa lagi ini. Aaiisshhh... bensin habis lagi. Sial!" umpat Vio sembari memukul stir mobilnya.


Vio menilik tempat biasa ia menyimpan uang untuk mengisi bahan bakar. Di sana hanya tinggal dua puluh ribu saja. Lalu ia kembali mencarinya di kantong tasnya, sayangnya di sana tidak ada selembar pun uang. Hanya ada beberapa koin yang nilainya tidak seberapa.


"Astaga! Begini amat hidupku!" ucap Vio. Ingin rasanya ia menangis, namun malu. Masak di umurnya yang hampir menginjak angka tiga, menangis. Hanya gara-gara kehabisan bensin.


"Tidak Vio tidak, kamu jangan nangis. Ini nggak lucu, handphone handphone... mana handphone, ya aku harus tenang, cari bantuan. Ya, jangan mau Vio, ayo cari bantuan," ucap Violeta sembari mencari nomer kontak seseorang yang bisa ia mintai bantuan.


"Siapa ya enaknya? Emmmm... Sifa, Naya, Vivi, ahhhh... siapa siapa? Ayolah... Yoga! Ah nggak nggak, nanti yang ada aku malah di-bully sama kodok sialan itu. Nggak, jangan dia, jangan dia. Dia bukan manusia, Vio, please... " ucap Violeta, takut sendiri, bingung sendiri, gugup sendiri. Sampai ia tak kuasa menahan air matanya sendiri.


Astaga, hampir tiga puluh menit gadis ini mengotak atik ponselnya. Namun ia belum memutuskan kepada siapa ia harus meminta bantuan. Sampai pada akhirnya, ada seseorang yang menggetuk pintu mobilnya.


Seorang pria, memakai payung. Violeta pun menoleh. Dan betapa terkejutnya dia, karena seseorang yang ada di luar mobilnya ini adalah pria itu. Pria yang ia benci, namun pria itulah yang sedari tadi berputar dalam pikirannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2