
Laporan tentang hilangnya ponsel Zarin, akhinya pun sampai di telinga Rasyid. Membuat dugaan atas keterlibatan pihak ketiga semakin kuat.
Tak menunggu waktu lagi, Rasyid pun langsung memerintahkan beberapa ahli IT yang bekerja pada perusahaanya untuk datang ke rumah Zarin Tentu saja untuk memeriksa CCTV dan juga mencari barang yangmerena curigai itu.
Bukan hanya itu, Rasyid juga meminta anak buahnya yang ada di kediaman ayah mertuanya, untuk membawa Emelda ke dalam markas mereka. Rasyid sangat geram. Hingga mengubah semua strategi yang telah ia susun.Rasyid ingin memberi pelajaran pada wanita itu dengan tangannya sendiri.
Bukan hanya itu, ia juga meminta anak buahnya yang sekarang ada di sana, untuk membawa jenazah ayah mertuanya itu ke rumah Oma Zarin. Agar dirinya dan juga Nadin, lebih mudah mengurus mereka berdua.
Di lain pihak, Nadin sedikit curiga dengan kesibukan suaminya sedari tadi. Rasyid tak henti-hentinya menerima panggilan telepon.
Orang-orang menghubunginya silih berganti. Sampai dirinya ingin berbicara pun tak sempat.
Keanehan kembali Nadin rasakan ketika mobil yang dikendarai Rasyid masuk ke dalam perumahan di mana oma Zarin berada. Pertanyaan demi pertanyaan pun merengkuh nya.
Mengapa Rasyid tak membawanya ke kediaman papanya. Malah ke tempat tinggalnya sebelum menikah.
Penasaran, Nadin pun bertanya, "Kok ke sini, kita mau jemput oma?" tanya Nadin.
Rasyid menghentikan mobilnya tepat di samping mobil Bima, lalu ia pun meraih tangan Nadin dan menciumnya perlahan.
__ADS_1
"Tidak, Sayang! Kita tunggu papa di sini. Aku minta pada pihak yang berwajib untuk mengantarkan papa ke sini. Ibunya pasti ingin melihat putra semata wayangnya, apa lagi ini untuk terakhir kalianya. Iya kan?" jawab Rasyid lembut.
"Ohhh... baik, tapi aku nggak mau ketemu wanita jahat itu. Aku pasti ingin mencekiknya kalo sampai melihatnya," jawab Nadin.
"Tenang, Sayang. Kamu nggak akan ketemu dia kok. Dia nggak akan berani ke sini," jawab Rasyid.
"Dari mana kamu tau? Ohhh, pasti oma nggak akan ngizinin wanita runah itu datang. Baguslah!" jawab Nadin, tegas.
Sayangnya di balik sikap tenang dan tegas Nadin, tercipta keraguan dimata Rasyid. Pria itu terlihat bingung memilih kata yang hendak ia sampaikan pada sang istri.
"Oiya, Yang. Ada satu hal lagi yang mesti aku sampaikan ke kamu. Tapi kamu janji, apapun itu kamu jangan pernah merasa sendiri. Ada aku, ada nenek Laras, ada nona Vio, ada Yoga dan masih banyak lagi orang-orang yang akan jagain kamu, oke," ucap Rasyid, lembut.
Rasyid menatap wanita yang ia nikahi beberapa hari yang lalu itu. Kembali Rasyid mencium kedua tangan Nadin. Lalu menatapnya dengan tatapan sendu.
"Kamu harus kuat ya, Nad. Kamu harus kuat menghadapi guncangan ini sekali lagi. Jangan takut, ada aku bersamamu," ucap Rasyid seraya menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Iya, aku tau... tapi kenapa? Kenapa mobil pak Yoga juga ada di sini? Yang itu mobil siapa?" jawab Nadin masih memerhatikan beberapa mobil yang ia sangat tau jika itu bukan mobil milik keluarga ini.
"Itu mobil dokter Bima, Nad dan kamu benar, itu adalah mobil Yoga, temenku. Kita ke sini dulu, karena ... oma butuh kita, Sayang," jawab Rasyid.
__ADS_1
"Oh, iya.. aku ngerti. Kan jenazah papa di bawa pulang ke sini ya. Duh.. oon sekali aku," jawab Nadin, masih belum paham arti dan maksud kedatangan dokter Bima ke sini.
"Bukan cuma itu, Yang!"
"Lalu?"
"Kamu yang sabar ya, heemm!" Rasyid kembali mengeratkan pelukannya.
"Iya, aku udah coba ikhlas, Syid. Meskipun ini berat."
"Ini bukan cuma perihal papamu, Nad. Tapi juga perihal oma," jawab Rasyid, terdengar sedikit berat.
"Perihal oma? Ada apa dengan oma?" tanya Nadin.
Rasyid tak sanggup menjawab. Namun ia terus menatap mata Nadin.
Suasana hening beberapa detik. Lalu mata mereka bertemu. Dalam detik itu, Nadin masih berharap Rasyid akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Sayangnya, apa yang di harapkan Nadin tak jadi kenyataan. Rasyid tetap saja bungkam. Sehingga membuat Nadin terdorong untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Bersambung...