Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Lelah


__ADS_3

Demi mendapatkan maaf dari sang pujaan hati, Rasyid rela menaruh ponsel dan juga menunda pekerjaan yang dikirim Yoga dan Mita untuknya.


Kali ini, Rasyid berniat menghabiskan harinya bersama wanita yang merajuk karenanya.


"Maafkan aku, Yang. Maaf udah membuatmu merasa seperti itu. Tapi sungguh, aku nggak ada niat buat bikin kamu ngerasa kek gitu. Aku pikir, kamu nggak akan peduli, ke mana pun aku pergi," ucap Rasyid sembari menempelkan dagunya di pundak sang istri.


"Ih, apaan sih nempel-nempel. Nyebelin banget sih," gerutu Nadin kesal.


Rasyid tersenyum. Lalu tanpa meminta izin, pria tampan ini pun memberikan pelukkan hangat untuk wanita yang kini sedang dalam kondisi yang ingin diperhatikan.


"Aku paham, kenapa kamu semarah ini. Aku tau, jika kamu belum mencintaiku. Tapi aku yakin, jika kamu percaya padaku. Kamu percaya pada hubungan kita. Aku janji, aku nggak akan bikin kamu kecewa lagi. Aku serius!" ucap Rasyid yakin.


Nadin tidak menjawab ucapan itu. Ia malah memilih mematika laptopnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Lalu menutup tubuh kurusnya dengan selimut.


Rasyid tersenyum menahan tawa. Menurutnya, cara Nadin merajuk sangat unik. Diam, berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Rasyid gemas, ia pun ikutan masuk ke dalam selimut dan memeluk wanita yang sedang merajuk ini.


"Peluk kamu enek juga, Yang," ucap Rasyid sembari bercanda.


"Aku ingin tidur, aku ngantuk. Pergilah!"" pinta Nadin, malas


"Nggak, aku mau di sini. Tidur sama kamu," tolak Rasyid mesra.

__ADS_1


Nadin tak merespon penolakan sekaligus permintaan Rasyid. Ia tetap memejamkan mata meskipun ada ini Rasyid sedang memeluk dan ya menempelkan wajah ditengkuknya. Seakan enggan dipermainkan, Nadin tetap diam. Diam sediam-diamnya. Membuat Rasyid menyadari. Bahwa luka batin istrinya ini tidak main-main.


Rasyid lebih mengeratkan pelukan. Ingin menunjukkan pada Nadin. Bahwa ia menyesal. Menyesal telah memperlakukan wanita yang dinikahinya itu seperti itu.


"Bicaralah, Sayang, marah lah seperti biasa. Makilah aku semaumu. Agar sesak di hatimu lega," pinta Rasyid.


Nadin membuka mata. Lalu ia pun menjawab, "Buat apa?"


"Agar hatimu sedikit lega, marah lah, Sayang. Jangan diam seperti ini. Aku rindu Nadin ku yang barbar," pinta Rasyid lagi.


"Aku lelah, pergilah," balas Nadin.


"Tidak Honey, jangan menutup diri seperti ini. Aku tau aku salah. Kamu boleh melampiaskan semua amarahmh, aku siap!"


"Tidak, Syid, aku sadar, bahwa aku tidak ada hak marah sama kamu. Seharusnya memang nggak nggak perlu marah sama kamu. Kamu nggak ingin, masak aku paksa," jawab Nadin dengan suara sedikit gemetar.


"Jangan bicara macem-macem, Syid. Aku hanya ingin kita saling bertukar kabar. Bukan mengubah apa yang terjadi antara kita. Aku tidak tertarik dengan perasaanmu." Nadin menarik tangannya. Beringsut menjauh. Mencoba menghindar dari tatapan lembut mata Rasyid.


"Jangan menghindar dari ku, Nad. Aku mohon!" pinta Rasyid, dengan lembut menarik pinggang sang istri.


"Maaf, Syid. Aku belum siap soal ini."


"Aku tidak akan memaksamu, Nad. Aku hanya ingin kamu tau, bahwa kamu sangat berarti bagiku," jawab Rasyid.

__ADS_1


Nadin diam membisu. Perasaan yang terlanjur porak-poranda dengan kenyataan yang disodorkan oleh sang suami. Sedangkan Rasyid yang paham dengan gelombang rasa yang ada antara mereka, hanya bisa mendekap hangat tubuh sang istri. Mencoba menyakinkan pemilik hatinya, bahwa ia tak main-main dalam ucapannya.


***


Siang telah berlalu, berganti sore yang cukup syahdu.


Rasyid memenuhi janjinya pada diri sendiri, untuk menghabiskan waktunya hari ini khusus hanya untuk Nadin seorang.


Berbaring seharian menemani Nadin di ranjang. Ia hanya beranjak ketika ingin minum atau ke kamar mandi. Tanpa makan, mengikuti gaya sang istri ketika mood nya buruk.


"Apa kamu terbiasa menghabiskan waktumu seperti ini?" tanya Rasyid penasaran.


"He em... "


"Tanpa makan, tanpa ngemil, tanpa keluar kamar. Seperti ini kah gaya seoarang tuan putri ketika merajuk?" tanya Rasyid penasaran.


"Sejatinya aku tidak suka keluar rumah. Hanya saja oma sangat cerewet. Di tambah aku selalu terbayang-bayang mama. Jadi mending aku keluar, ke club, minum habis itu pulang, tidur. Udah! jadi bisa lupa semuanya," jawab Nadin jujur.


"Minum? Kamu suka minum. Eh iya, hari itu kamu bau alkohol," ucap Rasyid.


"Ya, begitulah aku. Nakal dan bodoh!"


"No Nad, kamu tidak seperti itu. Semakin ke sini, aku semakin mengenalmu. Aku bisa memahamimu. Aku mengerti itu hanya caramu protes pada keluargamu. Aku paham, kok. Cewek nakal dan bodoh itu nggak seperti ini. Cewek nakal nggak akan betah di rumah, Nad. Apa lagi dalam keadaan mood buruk seperti ini."

__ADS_1


Nadin diam. Sebab apa yang di katakan Rasyid tak ada satupun yang meleset. Ia memang sengaja melakukan itu karena menginginkan perhatian dari papanya. Ia melakukan itu karena itu adalah caranya protes pada neneknya, kenapa beliau mengizinkan papanya menikah dengan wanita yang jelas-jelas telah menghancurkan keluarganya. Nadin sangat benci itu.


Bersambung...


__ADS_2