
Nadin melepaskan ciuman mereka ketika ia merasakan tangan Rasyid mulai nakal dan menjamah bagian sensitif tubuhnya. Nadin memukul manja lengan pria tampan itu.
"Waitttt..... " pekik Nadin.
Rasyid menghentikan aksinya. Menatap heran ke arah sang istri. "Kenapa? Aku boleh melakukannya lagi kan?" tanya Rasyid, polos.
"Astaga, Suamiku! Kenapa kamu jadi raja tega begini? Kamu nggak kasihan, punyaku masih perih tau. Kamu mainnya kasar banget tadi," jawab Nadin, cemberut.
"Kasar? Enggak lah, masak kasar?" jawab Rasyid, sedikit kesal. Karena nafsunya kembali memuncak. Namun Nadin dengan tega malah memupuskannya.
"Jangan marah begitu! Masih banyak waktu untuk melakukannya. Aku milikmu. Kapanpun kamu mau, kamu boleh mengambilnya. Tapi sebelum itu, kamu harus jujur, di mana bayimu sekarang? dan berapa usianya?" ucap Nadin, kali ini kembali ke mode serius mereka.
Rasyid meraih ponselnya. Lalu memberikan ponsel itu pada sang istri.
"Ini putramu?" tanya Nadin sembari menatap layar ponsel milik sang suami.
"Ya, sekarang usianya udah mau enam tahun," jawab Rasyid, jujur.
"Ya Tuhan, dia tampan sekali, menggemaskan." Nadin melirik Rasyid, lalu kembali melanjutkan ucapannya, "Tapi, kenapa dia nggak mirip sama sekali sama kamu?"
"Benarkah?" tanya Rasyid.
"Ya, dia lebih tampan dari pada kamu. Dia lebih manis," jawab Nadin, jujur.
Rasyid tersenyum. Sedangkan Nadin malah asik meng-sroll foto-foto Xian.
"Uhhhh, dia imut. Coba lihat pas belajar makan. Belepotan, tapi lucu. Gemes!" ucap Nadin, gemes, heboh sendiri.
Rasyid hanya tersenyum melihat tingkah heboh sang istri.
"Ini di mana? Sepertinya aku tahu tempat ini?" tanya Nadin.
__ADS_1
"Benarkah? Memangnya itu di mana?" pancing Rasyid.
"Salah satu perumahan elit di Singapura kan, temenku ada yang tinggal di sana," jawab Nadin, yakin.
"Benarkah? kamu yakin kalo gambar itu diambil di sana?" tanya Rasyid lagi.
"Yakinlah, gapuranya tertulis jelas kalo itu ada di sana. Aku juga punya foto pas ada di situ. Ni aku kasih liat ya," jawab Nadin, kemudian ia pun segera mencari ponselnya, dan menunjukkan foto yang ia maksud pada Rasyid.
"Eh iya, bener. Backgroundnya sama. Berarti kamu pernah ke sana dong ya?" tanya Rasyid lagi, sok polos.
"Astaga, Bapak! Bapak pikir saya tukang tipu. Fotonya diedit-edit gitu? Saya tidak semiskin itu, Bapak. Asal anda tau itu," jawab Nadin, kesal.
Rasyid hanya tersenyum mendengar jawaban kekesalan sang istri.
"Nggak usah senyum, kamu menyebalkan," ucap Nadin, merajuk. Lalu ia pun kembali melihat lihat isi ponsel sang suami. Sedangkan Rasyid, si pria iseng itu malah menggunakan kesempatan itu untuk menciumi leher sang istri.
Nadin tidak peduli dengan itu. Ia terlanjur terlena dengan keindahan yang ada di dalam ponsel itu, sehingga dia lupa bertanya. Bagaimana bisa anak seorang satpam bisa hidup di tempat semewah itu.
"Habis kamu menggemaskan," jawab Rasyid.
"Tangannya bisa nggak jangan di situ?" pinta Nadin.
"Nggak mau, kamu milikku."
"Aku tau, tapi ini keterlaluan!"
Rasyid tersenyum. Lalu ia pun menurunkan tangannya dari dada sang istri dan mengambil ponsel Nadin.
Kini, bukan hanya Nadin yang asik melihat-lihat galeri ponsel Rasyid. Tapi Rasyid sendiri juga tak mau kalah dengan sang istri. Ternyata ia juga senang melihat isi galeri sang istri. Hingga aksinya berhenti disalah satu foto yang tidak ia sangka.
Foto Nadin bersama seseorang yang ia kenal.
__ADS_1
"Nad! ini siapa?" tanya Rasyid.
"Ya," jawab Nadin seraya menatap layar ponsel miliknya.
"Oh itu temen aku, ya itu dia yang tinggal di sana. Dulu ibunya dia, waktu masih hidup, langganan di butik mama. Kenapa emang?" jawab Nadin.
Rasyid terkejut. Bagaimana tidak? Ternyata Xian tinggal satu komplek dengan ibu kandungnya. Atau jangan-jangan dia sengaja tinggal di sana karena ingin dekat dengan Xian. Seperti yang sering Yoga sampaikan.
Ah, tidak-tidak, mana mungkin dia tau Xian ku tinggal di sana. Kan nggak ada yang tau selain Yoga dan Bima. Atau jangan-jangan Yoga udah kasih tau dia? Ahhhh, semoga Yoga tidak berhianat. Batin Rasyid, bergejolak.
Tak ingin termakan oleh pikiran buruk dan prasangka-prasangka tak jelas, Rasyid pun kembali bertanya. "Oh, temen. Temen deket apa bukan? atau hanya sekedar kenal?" tanya Rasyid, penasaran.
"Sekedar kenal sih, cuma pas aku ke Singapura sama mama pernah mampir ke rumahnya."
"Oh... kapan?"
"Ya waktu mama masih ada lah, udah lama banget. Sebelum mama dia meninggal juga. Karena yang kenal deket kan mamaku sama mama dia," jawab Nadin jujur.
"Ohh, sekarang kamu masih berhubungan ama dia apa nggak? Maksudku, kalian kan pernah kenal. Terus pernah main ke rumahnya juga, masak iya kalian nggak deket?" pancing Rasyid pagi.
"Udah nggak pernah berhubungan sih. Sejak mamaku sama mama dia meninggal, kami udah nggak pernah ketemu," jawab Nadin.
"Ohh, jadi sekarang dia masih tinggal di situ apa nggak?"
"Kayaknya udah nggak deh, papa dia kan nikah lagi. Rumah yang di Singapore di jual rasanya. Terus dia juga nggak cocok sama ibu sambungnya. Sama keka aku gini loh. Kayaknya dia di Amsterdam kalo nggak salah. Ikut suaminya," jawab Nadin, sesuai info yang ia terima.
Rasyid tak bertanya lagi. Namun, kini ada ketakutan lain di dalam sana. Bagaimana tidak? Nadin kenal dengan Anisa. Ia takut, suatu hari nanti jika mereka ketemu, Nadin akan mudah dipengaruhi oleh wanita itu. Tak menutup kemungkinan jia nantinya Nadin akan salah pah denganya.
Bersambung..
Yang suka genre horor bisa kepoin karya emak ya🥰🥰🥰🥰
__ADS_1