
Kecerdasan Nadin tidak diragukan lagi. Berkat Violeta dan Yoga, ia bisa bermain cantik menghadapi Anisa.
Bukan hanya itu, Nadin juga siap bertempur lahir batin dengan wanita itu, demi mempertahankan rumah tangganya.
"Sial, dasar wanita sial!" teriak Anisa kesal.
Tak ingin kalah dengan Nadin, Anisa pun mengirimkan ancaman lagi pada wanita itu.
"Lihat saja nanti, kalo aku nggak bisa dapetin Rasyid maka kamu pun ENGGAK!" tulis Anisa kesal.
"Sebaiknya kamu kompres tu otak, biar nggak ngehalu melulu. Aku tau siapa kamu! Dan aku malas menghadapi wanita gatal sepertimu. Sebaiknya kamu nikmati saja hidupmu. Dari pada jadi pelakor, Rasyid adalah milikku. Selamanya milikku. Tak akan kubiarkan wanita gatal sepertimu menyentuh suamiku. Aku nggak takut sama wanita ular sepertimu. Kartu As mu ada ditanganku, jangan macam-macam kamu!" balas Nadin kesal. Tak ingin kalah dengan Anisa, Nadin pun mengirimkan foto dirinya sedang meminjat kepala Rasyid.
(Untung pas difoto, Rasyid lagi merem. Wkwkkwkw... Nadin bisa aja bikin pelakor kepanasan.)
Di seberang sana, Anisa menghentak-hentakkan kakinya kesal. Bagaimana tidak? Saat ini dia begitu menginginkan Rasyid. Tapi pria itu malah bermesraan dengan wanita lain. Bermesraan dengan wanita yang ia benci.
"Lihat saja nanti, besok pasti aku yang ada di samping Rasyid. BUKAN KAMU, DASAR JAL*NG!" tulis Anisa lagi.
Di seberang sana, Nadin tersenyum senang. Mempermainkan Anisa seru juga ternyata.
"Enak aja, Rasyid mana mau sama wanita dada sama bokong palsu sepertimu. Dia maunya yang asli, bulet, kenyal kek punyakku! huss... sebaiknya kamu minggir! Takut tambah sakit hati nanti!" balas Nadin tanpa rasa kasihan.
Tentu saja, balasan demi balasan Nadin seperti ledekan baginya. Anisa semakin kesal.
Bagaimana tidak?
Baik Rasyid maupun Nadin, mereka berdua sama-sama tidak bisa ia tahlukkan. Nadin dengan kecerdikannya. Sedangkan Rasyid dengan penolakkannya.
Tak ingin kalah, Anisa pun kembali membuat rencana lain untuk memisahkan mereka.
__ADS_1
***
Selepas membalas pesan dari wanita ular itu, Nadin pun dengan setia duduk di depan Rasyid dan memijat kepala pria itu.
Rasyid sangat rewel, seperti anak kecil yang sedang sakit dan membutuhkan ibunya.
"Sebelah ini, Yang. Ini sakit banget," ucap pria itu sambil menunjuk keningnya, tepat di atas alis.
"Ini!" Nadin mengarahkan pijitannya di atas alis.
"He em, yang itu," jawab Rasyid. Masih memejamkan mata, menikmati pijitan lembut sang istri.
"Makan ya, biar nggak pening," ajak Nadin.
Rasyid menggeleng.
"Kalo nggak mau makan, mana bisa sembuh, hemmm!"
Coba dia tidak sakit, pasti Nadin akan mengusir saat ini juga. "Ya nggak lah, masak diusir. Mau bagaimanapun ini kan rumahmu. Kamu yang beli."
"Iya, tapi kan udah ku kasih ke kamu," jawab Rasyid.
"Emang jadi kita pisah?" tanya Nadin tiba-tiba.
"Nggak! Kita nggak akan pisah. Aku udah cabut berkas itu," jawab Rasyid, spontan.
"Lah iya, berarti rumah ini bukan cuma punyakku dong, punya kamu juga. Gimana sih! Heran deh, direktur tapi nggak ngerti konsep rumah tangga," gerutu Nadin kesal, namun begitu ia masih tak menghentikan pijatannya.
Rasyid membuka mata, lalu tersenyum nakal ke arah Nadin yang terlihat kesal padanya.
__ADS_1
"Biarin... " balasnya.
"Dih, nggak jelas!"
Rasyid tak membalas, namun ia meraih tangan sang istri lalu menciumnya. Menariknya tangan itu dan memeluknya.
"Ih, mau ngapain ini?" tanya Nadin.
"Aku ingin tidur. Biar kamu nggak ninggalin aku," jawabnya enteng.
Astaga, orang ini kenapa? Bisa begini kelakuan?
"Tapi aku mesti ke kantor. Kamu kan nggak dateng, setidaknya aku ada di kantor," ucap Nadin, lembut.
"Nanti kita datang siangan, tunggu aku baikan. Oke!" pinta Rasyid.
Nadin tak menolak. Mau bagaimanapun Rasyid adalah suaminya di rumah dan atasnya di kantor. Mau tak mau, ia harus menuruti perintah itu.
Nadin mengelus punggung Rasyid. Sesekali ia juga mengelus rambut pria itu. Rasa iba menjalar di hati Nadin. Apa lagi ketika semalam nenek dari pria ini bercerita tentang masa lalu Rasyid.
Rasyid bukanlah pria yang terlahir dari keluarga berada. Namun berkat kegigihannya ia pun akhirnya memiliki aset yang nilainya sangat fantastis. Berkat bimbingan dan warisan yang diberikan oleh sang kakek, akhirnya Rasyid bisa sejaya ini.
Awal mula Rasyid mendirikan rumah sakit, karena ingin membantu orang-orang yang pernah bernasib sama sepertinya. Dulu, ketika Rasyid berusia lima tahun, terpaksa ia kehilangan adiknya karena ibunya tidak ditangani benar oleh pihak rumah sakit, alasannya sangat ironis, mereka kekurangan biaya.
Saat itu, keluarga kecil Rasyid memang tidak diakui oleh nenek dan kakeknya. Sebab mereka memang tidak merestui pernikahan ibu dan ayahnya.
Ayah Rasyid yang notabene hanyalah pekerja biasa, lalu perangai buruk dan suka main perempuan itu adalah alasan Laras dan suaminya tidak bisa menerima keluarga kecil itu.
Rasyid kecil sangat menderita kala itu. Hidup serba kekurangan. Jangankan untuk sekolah, untuk makan pun susah.
__ADS_1
Tak tega dengan keadaan putri dan cucu mereka, akhirnya Laras dan suaminya pun mengulurkan bantuan. Namun sayang, bantuan itu tidak membuat menantu mereka menjadi baik. Bahkan di akhir hayatnya, pria itu masih memberikan segenggam luka untuk Rasyid, yaitu sebuah penipuan. Penipuan yang sangat menyakitkan.
Bersambung...