Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Ingin Mami


__ADS_3

Thank u so much buat kalian yang selalu nunggu Mas Rasyid up😘😘😘... Diwajibkan like komen n Votenya ya😍😍Makasih😘 (edisi maksa😅)


***


Sesuai janjinya pada Xian, sore itu, Rasyid langsung terbang ke Singapura untuk menemui putra kecilnya. Rasyid sengaja memilih tempat itu, karena menurutnya tempat itu sangat aman untuk Xian. Aman dari keluarganya, dari orang-orang yang mengenalnya dan yang terpenting adalah aman dari jangkauan wanita yang telah tega menelantarkan bocah tampan itu.


Senyum mengembang sempurna di bibir bocah tampan itu, ketika ia tahu mobil yang menjemput sang ayah tiba di depan rumah. Seakan merasakan rindu yang mendalam, bocah tampan itu pun langsung berlari untuk menjangkau pria yang ia idolakan itu.


"Papi!!!" teriak bocah itu.


"Hayyy jagoan, you oke! upppssss, uuuhhh berat sekali sekarang anak Papi ini," ucap Rasyid ketika mengangkat tubuh putra semata wayangnya itu.


"Oke, Papi. Miss you so much!" ucap bocah tampan itu sembari mencium pipi ayahnya.


"Benarkah kau rindu padaku heemm? Bukankah sekarang udah ada yang gantiin Papi di sini, heemm!" canda Rasyid sembari menunjuk dada Xian. Tak lupa ia juga menggelitik perut sang putra. Karena Xian sangat menyukai itu.


"No, Papi itu tidak benar!" jawab Xian.


"Tidak benar? Benarkah? Siapa itu Ayena? Siapa yang kemarin kamu kasih cokelat? Apakah dia cantik?" canda Rasyid.


"No Papi, dia hanya teman. Seriusly," jawab bocah tampan ini.


"Oke, dia hanya teman, bagaimana sekolahmu? Apa kamu suka?"


"Suka, tapi... "


"Why?"


Xian diam.

__ADS_1


Rasyid menunggu Xian berbicara.


"Apa Papi akan marah, kalo Xian menginginkan sesuatu?" tanya Xian, sedikit takut.


"Menginginkan sesuatu, apa itu? No, Asal Papi bisa, Papi nggak mungkin marah. Apa lagi dengan anak semanis kamu," jawab Rasyid lembut.


"Benarkah?"


"Yaaaa!"


"Xian ingin punya mami, Papi. Apa boleh?" tanya bocah itu, lugu.


Rasyid diam membisu, lalu di detik berikutnya ia tersenyum.


"Apa Papi marah?"


"No!"


"Tentu! Kenapa tidak? liburan sekolah musim ini kamu boleh ikut Papi jumpa dengan mami kamu. Tapi Xian tau kan, wanita ini bukan mami yang melahirkan Xian. Jadi, Xian harus cari tau sendiri, apakah mami baru Xian ini sayang dan pantas jadi mami Xian atau tidak. Bagaimana?" tawar Rasyid.


"Oke, Xian siap, Papi!" jawab bocah cerdas ini.


Rasyid tersenyum. Bangga dengan putra semata wayangnya. Bocah tampan ini selalu bisa ia ajak diskusi. Rasyid tak pernah menyembunyikan apapun dari Xian. Baik itu perihal ibu kandungnya. Keluarga yang belum mengetahui bahwa dirinya ada. Ataupun perihal wanita-wanita yang dekat dengannya.


Bagi Rasyid, kejujuran yang ia bangun bersama Xian akan berdampak baik untuk kedepannya nanti. Rasyid juga tidak pernah mengekang bocah itu. Ia selalu membebaskan Xian untuk memilih. Termasuk wanita yang bisa menjadi ibunya atau tidak. Entah mengapa? Hati Rasyid mengatakan, bahwa Nadin bisa menjadi ibu yang baik untuk Xian. Meskipun gadis itu selalu barbar jika bersamanya.


***


Hari sudah malam, namun Rasyid tak kunjung pulang. Tentu saja keadaan ini sukses membuat Nadin gelisah. Tapi anehnya, wanita cantik ini enggan mengakui kegelisannya. Membuat Mita jadi tergelitik untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada istri bosnya itu.

__ADS_1


"Kak Nadin kenapa? Pengen makan sesuatu?" tanya Mita.


"Ah, tidak Mita, jangan hiraukan aku. Pergilah tidur, aku tidak apa-apa!" jawab Nadin, masih menutupi apa yang terjadi dengan hatinya.


"Apakah Kak Nadin gelisah karena abang belum pulang?" tanya Mita penuh selidik.


Spontan, Nadin membulatkan matanya. Lalu ia pun menjawab, "Ya nggak lah... ngapain aku mikirin pria aneh itu. Hahahha, enggak lah, ngapain!" tolak Nadin.


Mita tersenyum sambil melirik Nadin, mencari tahu kebenaran jawaban itu dari sorot mata cantik itu. "Baiklah kalo tidak! Saya kan cuma nanya. Barang kali kangen, saya bisa telponin kalo mau. Atau Video call barang kali!" canda Mita.


"Ahhh, nggak-nggak, nggak perlu. Aku baik-baik saja kok. Bener nggak usah. Enak aja kangen, hiii... mana mungkin aku kangen dengan jerapah menyebalkan itu. Kamu nggak tau, hidupku sangat tenang tanpanya," tolak Nadin lagi.


Mita terlihat senang dengan penolakan itu. Tapi dia sangat tahu, bahwa sebenarnya Nadin sedang berbohong padanya.


"Ohhh, baiklah. Jangan kesal begitu dong. Kan biasanya begitu, kalo pengantin baru, Kak. Ditinggal sebentar langsung kangen." Mita cekikikan.


"Ih, sok tau kamu, kalo aku ya nggak lah, ngapain?Jangan samakan kami dengan pengantin-pengantin baru norak itu. Kami dijodohkan. Mana ada perasaan aneh begitu!" tolak Nadin lagi.


"Yang dijodohkan biasanya lebih dalem perasaannya loh, Kak. Serius!" balas Mita lagi, makin suka menggoda Nadin.


"Mana ada begitu? Udah ah... kamu makin ngaco. Sebaiknya kamu tidur dari pada ngajakin aku bahas hal nggak jelas gini. Biarin aja tu jerapah jelek nggak pulang. Bodo amat!" jawab Nadin, seraya melangkah meninggalkan Mita sendirian di ruang tamu.


Sedangkan Mita kembali melanjutkan pekerjaannya. Menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh Rasyid. Memberikan apapun yang Rasyid inginkan. Termasuk foto, video, bahkan rekaman percakapannya dengan Nadin.


"Sebenarnya mereka ini kenapa sih? Aku ini pengawal atau mak comblang? Astaga, Mita harga dirimu sebagai agen rahasia luntur sudah. Kamu lebih cocok kerja jadi agensi biro jodoh. Ya, sepertinya pekerjaan itu sangat cocok untukmu. Tidak berbahaya, bahkan sangat manis. Anti pertempuran, anti peluru, yang jelas lebih aman. Ha.... " Mita menghela napas, bingung.


Bersambung...


Bagi kalian yang baru menemukan karyaku☺Sambil nunggu up, kalian bisa mampir ke sini😍😍😍 dijamin bisa bikin kalian senyum2 loh😘😘

__ADS_1



__ADS_2