Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Maunya Apa Sih?


__ADS_3

"Ehem!" Rasyid berdehem, mengagetkan Nadin dan juga pria yang kini sedang asik bercengkrama akrab dengannya.


"Eh, Bro, udah selesai lihat-lihatnya, gimana cocok nggak?" tanya pria itu, basa-basi.


"Em, tadi udah aku jelasin ke mandornya, ada yang perlu diperbaiki," jawab Rasyid dingin.


"Oke, nanti gue periksa lagi. Sorry banget, Bro,


gue nggak tau loh kalo sahabat lama gue ternyata sekertaris elu. Wah selamat Bro, lu bisa dapetin si kutu buku ini. Manfaatin yang bener ya, jangan di sia-siain," canda pria itu. Sayangnya Rasyid terlanjur kesal. Ia pun hanya membalas candaan itu dengan senyum sinis nya.


"Beresin barang-barangmu, kita jalan!" perintah Rasyid ketus. Tanpa menjawab, Nadin pun langsung merapikan barang-barangnya dan beranjak dari tempat duduk. Ia tau jika saat ini emosi Rasyid sedang merangkak naik. Dan ini sangat berbahaya buat sahabat lamanya.


"Eh, mau ke mana, Bro. Udah jam makan siang ni, yuk kita makan dulu!" ajak pria itu.


"Sorry, Bro... habis ini aku masih ada meeting. Ayo, Nad. Jalan!" jawab Rasyid ketus. Kemudian ia pun langsung melangkah meninggalkan pria itu, tanpa basa-basi terlebih dahulu. Sedangkan Nadin yang merasa kurang nyaman, langsung melambaikan tangan. Agar sahabatnya tersebut tidak tersinggung dengan kelakuan bosnya.


Di dalam mobil...


Rasyid diam membisu. Kesal dengan kelakuan Nadin yang menurutnya murahan itu.


"Kamu kenal pria itu sejak kapan? Di mana?" tanya Rasyid posesif, akhirnya ia pun tak bisa menahan ketidaksukaannya melihat Nadin


"Oh, dia dulu asisten dosen yang ngajar aku. Kenapa emang?" balas Nadin, santai.


"Jangan dekat-dekat dia, dia suka mainin wanita," jawab Rasyid, kesal.

__ADS_1


"Ih ya biarin sih, orang itu pribadi dia. Ngapain Tuan sewot?" tanya Nadin, tak kalah kesal.


"Kamu ini bandel ya, susah bener dibilangin. Kalo aku bilang jangan dekat-dekat ya jangan dekat-dekat. Bandel banget sih!"


"Ih, siapa situ ngatur-ngatur. Serah saya lah mau deket ama siapa? Nggak jelas banget sih!" balas Nadin, tak kalah sengit.


"Kamu masih is... jangan macam-macam kamu," Rasyid menatap sekilas pada sang sopir, berharap pria yang membawa mobilnya ini tidak paham dengan apa yang ia ucapkan.


"Apaan is is.. nggak jelas banget!" gerutu Nadin.


Rasyid tak membalas kekesalan Nadin karena ia tau, kali ini dia yang salah. Harusnya kalau dia masih ingin memiliki Nadin, maka terus gengam dan jangan pernah lepaskan.


Rasyid kembali masuk ke dalam dilema. Perceraian itu ternyata sangat menyakiti hatinya. Rasyid pun mengubah strateginya agar bisa tetap menjerat Nadin disetiap aturannya.


Tak ingin pertengkaran mereka didengar oleh orang lain, Rasyid pun mengetik pesan untuk Nadin.


Nadin membaca pesan itu, lalu mengerutkan kening. Menganggap Rasyid gila. "Sorry ya, nggak ada peraturan plinplan begitu. Kamu sudah berniat, sudah ae laksanakan. Dasar pria gila, aku nggak tertarik mundur. Aku tau kamu pasti mau mengambil kembali apa yang udah kamu kekasih ke aku kan? Nggak, nggak akan. Kalo kamu batalin aku yang ajuin!" balas Nadin kesal.


"Coba aja kalo kamu berani!" balas Rasyid lagi.


"Ngapain nggak berani! Aku ogah punya suami plinplan nggak jelas kek kamu. Siapa yang salah siapa pula yang dihukum. Dasar manusia nggak jelas!" serang Nadin kesal. tentu saja saat ini ia melirik Rasyid dengan lirikan ingin mencakar wajah pria jelek itu.


"Di sini aku imamnya, jadi terserah ku!" tulis Rasyid lagi.


"Sekarang aja lu bawa bawa agama, kemarin-kemarin ke mana aja, Pak? Istri nggak salah apa-apa, mau dicere. balas Nadin tak mau kalah.

__ADS_1


"Kamu!" ucap Rasyid.


Nadin membalas ucapan itu dengan tatapan penuh permusuhan. Kali ini Nadin tak mau kalah. Ia memang berniat membuat Rasyid merasakan apa yang ia rasakan ketika pria itu menghilang tanpa kabar.


"Pak, berhenti di depan!" pinta Rasyid.


"Baik, Tuan!" jawab sangat sopir, kemudian pria itu pun meminggirkan mobilnya.


Rasyid keluar dari mobil, lalu meminta sang sopir untuk mencari taksi dan pulang ke rumah. Sedangkan dirinya melangkah menuju pintu di mana Nadin berada. Lalu membukanya.


"Wait.. wait... ada apa, kenapa?" tanya Nadin bingung.


"Keluar, pindah ke depan!" pinta Rasyid.


"Enggak!" tolak Nadin.


"Kamu mau aku paksa atau dengan suka rela?" paksa Rasyid.


Malas berdebat, Nadin pun menurut. Akhirnya ia pun pindah duduk di depan.


Kini Rasyid sendiri yang membawa mobil itu. Nadin hanya bisa pasrah, karena ia sangat tau bagaimana sifat Rasyid jika sedang marah.


Pria ini selalu bertindak semaunya sendiri. Aneh dan menjengkelkan.


Maunya apa sih? Njengkelin banget🙄

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2