
Rasyid tak kehilangan akal. Orang-orang yang diam-diam mengawalnya langsung ia minta untuk turun tangan. Apa lagi Nadin begitu ketakutan. Ia tak mau ambil resiko. Tak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Benar saja, satu menit setelah ia membunyikan alarm, beberapa mobil yang ia ketahui adalah mobil milik anak buahnya, langsung datang dari berbagai arah.
Rasyid tersenyum. Namun tidak dengan Nadin. Gadis ini malah mara-marah, menurutnya bunyi mobil yang berasal dari mobil yang tumpanginya, sangatlah menganggu.
"Kamu apa-apan sih? matikan nggak tu alarm. Ini sangat menganggu. Dikira orang kita polisi lagi patroli!" gerutu Nadin.
"Eh, kepencet, Yang. Maaf ya. Tadi mau nyetel musik, biar nggak tegang. Eh, malah bunyi alarm. Maklum lah,Yang. Bukan mobil sendiri. Maaf ya," jawab Rasyid, mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
"Yang, yang, aku nggak mau dipanggil begitu! Menjijikkan sekali!"
"Eh kok gitu, dipanggil sayang kan seru. Biar romantis." Rasyid terkekeh.
"Aku tau kamu cuma mau bikin aku terlena, iya kan?" tuduh Nadin.
"Nggak lah, suami kan memang harus sayang istri," jawab Rasyid.
"Hilih, ujung-ujungnya kalo udah puas juga bakalan ditinggal selingkuh. Lihat saja nanti!"
"Jangan gitu lah, nggak semua laki-laki itu begitu. Aku bisa kok setia. Lihat saja nanti!" balas Rasyid.
Rasyid melirik spion, memastikan anak buahnya sudah beraksi. Lalu ia pun menurunkan laju mobilnya. Agar Nadin lebih nyaman.
"Aku nggak ngarepin kamu setia, karena bagiku laki-laki sama. Sama-sama b*ngsat!" jawab Nadin kesal. Rasyid melirik sang istri, terlihat mata Nadin berkaca-kaca ketika melontarkan kata-kata kebencian itu. Dan Rasyid paham, hati istrinya saat ini pasti sedang tidak baik-baik saja.
Sabar ya, Nad, aku pasti bakalan bisa bikin kamu happy dan melupakan apa yang pernah kamu alami. Aku bukan pria jahat seperti yang ada di pikiran kamu, Sayang.
__ADS_1
Rasyid tersenyum. Sengaja tak mau menanggapi ucapan sang istri.
"Mana tombol musiknya?" tanya Nadin. Karena tombol-tombol yang ada di mobil ini berbeda dengan mobil pada umumnya.
"Nggak tau, Yang. Tadi aku aja salah pencet kan!" jawab Rasyid sengaja tak mau memberi tahu, sebab seluruh tombol yang ada di mobil ini sudah ia modifikasi tidak sesuai fungsi pada umumnya.
"Astaga, makanya mobil beli sendiri, jangan pinjam punya orang! Jadi nggak jelas gini kan?" gerutu Nadin.
"Sorry, Yang. Belum mampu. Nanti ya, kalo udah ada rezeki, aku beli mobil oke!" jawab Rasyid tanpa melihat ke arah sang istri. Sebab fokusnya kini terbagi. Antara masih ada yang mengejarnya dengan fokus jalanan yang ada di depannya.
"Kamu cuma satpam, mana bisa beli mobil. Gajimu berapa sih? Kenapa nggak ambil aja uang yang dari aku kemarin, buat beli mobil," jawab Nadin kesal.
"Gaji satpam ya, berapa ya? Aku nggak pernah cek. Nanti deh kamu yang cek. Kamu yang kelola. Biasanya aku kasih ke nenek Laras sih, nanti kalo aku pengen apa-apa baru aku minta," jawab Rasyid bohong. Sebab ia sendiri tak hapal gaji karyawannya.
"Kenapa jadi aku? Urus aja sendiri. Aku punya sendiri kalo cuma buat aku makan," jawab Nadin ketus.
Brengsek, masih ada aja mereka.
Rasyid tak kehilangan akal. Tanpa berpikir panjang, ia pun melepaskan paku yang sengaja tersimpan di beberapa bagian mobil yang tersembunyi.
Rasyid kembali memencet tombol rahasia yang ada di mobilnya. Penutup tempat penyimpanan paku pun terbuka. Dan alhasil, paku-paku itu pun keluar berceceran.
Rasyid tersenyum senang. Mobil target terlihat oleng dan kecelakaan pun tak terhindarkan.
"Berguna juga kamu," gumam Rasyid senang.
Braakkkk...
__ADS_1
"Eh, bunyi apaan tu?" tanya Nadin terkejut.
"Keknya mobil belakang pecah ban!" jawab Rasyid tenang, tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Ohhh!" Nadin hanya ber-oh saja, lalu sedetik kemudian ia tersadar, beberapa motor yang mengejarnya tidak terlihat lagi.
"Perasaan tadi banyak motor yang ngejar kita, kok sekarang nggak ada? Pada ke mana?" tanya Nadin, lugu.
"Entah, mungkin kehilangan jejak kali," jawab Rasyid, santai.
"Ohhh, syukurlah. Kamu jago juga ya nyetirnya," puji Nadin.
"Jagolah, aku kan cowok," balas Rasyid, sedikit bercanda, agar Nadin tidak tegang.
"Hilih, perasan. Awas aja kalo bawa aku ke lingkungan kumuh. Aku nggak mau!" ucap Nadin.
"Kumuh sih enggak, cuma ya perumahan biasa. Tapi kan rumah kita sendiri, Yang. Jangan gitu lah! Dalam hidup, kita harus pandai bersyukur. Jangan memandang apapun itu dari harta. Sesekali kita harus melihat ke bawah. Kita masih beruntung loh, bisa naik mobil, meskipun pinjam sih," ucap Rasyid, sedikit melirik sang istri. Hanya ingin tau ekpresi gadis yang dinikahinya itu.
"Terserah! Pokoknya aku ogah kalo di lingkungan kumuh. Mending aku pulang ke rumah oma," ancam Nadin.
Rasyid tak mau melanjutkan perdebatan ini. Menurutnya, untuk sementara waktu ini, membuat Nadin aman adalah prioritasnya. Selebihnya barulah ia akan menyerang Nadin dengan idealismenya. Agar wanita yang ia nikahi ini, bisa menjadi wanita yang lemah lembut dan baik hati.
***
Di lain pihak, Emelda marah besar karena kegagalan anak buahnya. Ia pun curiga, bahwa pria yang menikahi anak tirinya itu bukanlah pria biasa.
Buktinya, pria itu bisa meluluh lantahkan pasukannya tanpa menyentuhnya sendiri. Bukankah ini patut dicurigai.
__ADS_1
Bersambung...