
Sial... apa-apaan ini sih, Yang? Kamu ngeselin banget sih! Bener-bener deh kamu! gerutu Rasyid dalam hati.
Tak ingin terlalu masuk ke dalam pesona Sang istri, Rasyid pun memakai kembali kaca mata hitamnya. Lalu melangkah pergi meninggalkan Nadin. Sedangkan Nadin tetap membesarkan hatinya. Berusaha keras untuk tidak menangis atas sikap cuek Rasyid terhadapnya. Nadin bersumpah akan setegar batu karang. Sampai ia siap terbuka dengan keadaannya sekarang.
Ya, Nadin sudah berniat untuk membuat pria yang kekeh menjandakannya ini menyesal. Apa lagi, saat ini, di dalam rahimnya ada benih pria itu. Nadin ingin lihat, sekuat apa jiwa pria angkuh itu jika tahu bahwa saat ini ia akan menjadi ayah. Ayah yang sebenar-benarnya menjadi seorang ayah. Bukan ayah boong-boongan seperti yang dia alami selama ini.
Lihat saja nanti, aku akan bikin kamu menyesal. Anak ini adalah milikku, jangan harap kamu bisa menyentuhnya. ancam Nadin dalam hati.
Nadin mengikuti langkah Rasyid dengan langkah yang bisa dikatakan sangat tidak biasa. Sebab ia harus mengejar langkah kaki panjang si jerapah menjengkelkan itu.
Untung saja, Yoga dan Violeta sudah memberinya pelajaran dan arahan bagaimana ia harus bersikap sigap menghadapi situasi seperti ini.
Ya, Nadin menjadi seperti ini memang atas dukungan Violeta dan Yoga. Mereka berdua sangat siap membantu Nadin untuk menghancurkan jiwa pria egois itu.
Flashback on..
Malam itu, Violeta datang ke rumah Nadin atas permintaan Yoga. Yoga ingin meminta maaf secara langsung pada Nadin. Awalnya Nadin tidak ingin menceritakan apapun yang terjadi pada rumah tangganya pada Violeta. Tetapi, Violeta malah menebak bahwa rumah tangganya tidak baik-baik aja. Seperti yang dicurigai oleh Yoga.
"Katakan yang sejujurnya, Non, apakah benar yang aku tebak tadi?" tanya Violeta.
"Aku harus bilang apa? Dia menghilang setelah bertemu dengan Yoga. Bahkan dia berniat menceraikanku. Alasannya dia tidak bisa percaya dengan hubungan kami. Dia mempertanyakan kejujuranku, kesungguhanku, dia... dia gila! Aku benci pria brengsek itu. Dasar pecundang!" jawab Nadin penuh emosi.
"Astaga! Se-ekstrim itukah?" tanya Violeta terkejut.
Nadin mengangguk di sela-sela derai air matanya.
"Sabar, Non! Sebaiknya kita temui Yoga besok. Kita diskusikan masalah ini. Aku yakin dia punya solusi. Dia kan udah kenal lama sama si Tuan Angkuh itu. Bodoh banget sih dia, bisa gitu mencampur adukkan sesuatu yang se frekuensi. Eh gimana sih ngomongnya? Pokoknya gitulah! Bodo banget. Eh, maaf Non. Kesel aku tu!" ucap Violeta kesal.
"Dia memang bodoh. Katanya pengusaha? Tapi otaknya lebih kecil dari udang. Kesel banget, sumpah!" balas Nadin kesal.
__ADS_1
Violeta tersenyum. Menurutnya Nadin sangat lucu. Meskipun mulutnya terus mengumpat kesal, tapi sinar matanya menunjukkan bahwa Nadin sebenarnya juga sangat rindu pada pria itu.
"Selama kalian pisah, usaha apa yang udah Nona lakukan?" tanya Violeta.
"Nggak ada, Kak? paling cuma gangguin dia. Ku teror pakek tulisan-tuliasan manja. Foto-foto mesra kami, ya kek gitu lah. Aku belum nemu ide!" jawab Nadin jujur.
"Owwhhh... udah bagus lah itu. Terus dia bales nggak?"
"Nggak sih, cuma di read doang."
"Di read nya cepet atau nunggu jeda berapa hari, berapa jam gitu?" tanya Violeta lagi.
"Nggak sih! biasanya dia langsung read," jawab Nadin jujur.
Spontan Violeta pun tertawa. Sebab ia bisa menebak kalo sebenarnya Rasyid menunggu pesan manis dari Nadin.
"Nggak sih, Non. Boleh aku lihat pesan yang Non kirim?" tanya Violeta.
"Lah ya jangan, fotonya seronok. Bukan untuk konsumsi publik!" tolak Nadin, malu.
"Ohh, pantesan! Oke baeklah. Tapi kalian lucu, menggemaskan. Saling cinta, saling rindu tapi gengsi. Yang ono lagi, sok pura-pura nggak butuh. Padahal ngarep!" ucap Violeta.
"Maksudnya?" tanya Nadin lugu.
"Maksudnya, ya... si jerapah jelek itu, sepertinya selalu ngarep pesan darimu Nona, cuma dia gengsi. Emm, pria seperti itu mesti dikasih pelajaran," kawan Violeta licik.
"Benarkah? Jadi dia nggak sungguh-sungguh nolak aku?" tanya Nadin lagi.
"Aku rasa dia sedang diserang virus bimbang, bakteri dilema. So jiwa dia kena, hati dia atit, Non. Oleng. jadi Nona kudu sabar. Pokoknya turuti dulu apa yang dia mau. Pas dia lengah, baru kita serang... sat set, Non. Begitu!" ucap Violeta lucu.
__ADS_1
"Ohhh, begitu ya... tapi dia maunya cerai. Gimana dong. Mana sekarang aku lagi itu, aku... " ucap Nadin ragu.
"Lagi apa, Non? Non kenapa? Sakit?" tanya Violeta khawatir.
"Enggak sih, cuma akhir-akhir ini aku sering mual. Malas makan. Terus aku juga telat," jawab Nadin jujur.
Violeta menatap Nadin dengan binar mata bahagia, wanita cantik ini terkejut. Ternyata... ohhh..
"Non... Nona serius! Nona telat... Jadi?" Violeta terlihat antusias mendengar jawaban Nadin selanjutnya.
"Iya, aku garis dua," jawab Nadin dengan mata berkaca-kaca. Terlihat jelas bahwa saat ini kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja. Nadin terluka. Terluka oleh sikap tak manusiawi Rasyid. Pria yang ia anggap bisa menjaga dan melindunginya malah meninggalkannya tanpa kata. Tanpa mau menjelaskan masalah apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Sehingga ia memutuskan untuk bercerai. Bukankah ini menyakitkan.
"Sabar, Non. Jangan menangis! Mari kita cari cara untuk membuat pria bodoh itu menyesali perbuatannya. Enak kali dia, tanam benih tapi nggak mau tanggung jawab. Ehhh.. maksudku buka begitu, Non. Tapi lebih.. aahhh.. Non tau lah maksudku, kan?" ucap Violeta gugup. Sebab terlalu kesal dengan kelakuan kekanak-kanakan Rasyid.
"Aku pengen dia menyesal, sangat-sangat menyesal. Sebenarnya aku ingin egois. Aku ingin membawa anak ini pergi jauh darinya. Tapi aku tak tega pada bayiku. Bayiku butuh ayahnya. Tapi entahlah, dia malah begitu," jawab Nadin, sedih.
"Tenang, Non. Kita punya senjata. Besok kita temui Yoga. Kita bicarakan ini dengannya. Aku yakin si barokokok itu punya cara buat ngadalin di jerapah jelek itu. Secara dia udah sangat apal sama kelakuan mantan bosnya itu. Gimana?" tawar Violeta.
"Oke! Siapa takut. Panas gue, pengen bet ngebecek muka jelek pria itu. Sumpah dah!" umpat Nadin kesal.
Violeta tersenyum sekaligus bangga. Sebab Nadin yang ia kenal sudah berubah. Nadin yang manja dan susah diatur itu ternyata sudah tak ada lagi di dalam jiwa gadis kecilnya ini. Nadin yang ada di hadapannya sekarang adalah calon ibu. Calon ibu yang manis dan dewasa. Violeta bangga.
Flashback off
Nadin terus mengikuti langkah pria itu. Tanpa kesusahan sedikitpun. Pelatihan yang diberikan Yoga dan Violeta ternyata sangat berguna. Namun begitu, ia harus tetap hati-hati. Sebab di dalam rahimnya ada seseorang yang sedang tubuh. Yang harus tetap ia jaga, apapun yang terjadi.
Bersambung....
Makasih yang udah ninggalin jejak😍Lope sekebon kacang buat kalian semua😘😘😘
__ADS_1