Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Menyerah


__ADS_3

***Emak yang cantik datang again😜Yang pastinya selalu semangat ngetik buat Mamas Rasyid terganteng se-Indonesia Raya😘😘***


Oke Next...


****


Rasyid tersenyum melihat sang istri terus menangis di sampingnya. Sungguh, jika boleh jujur ini adalah pertama kalinya Rasyid melihat ada seseorang yang benar-benar tulus terhadapnya. Wanita itu menangis untuknya. Bahkan tak melepaskan gengaman tangannya barang sedetik pun.


"Sudah, aku nggak pa-pa, lukanya nggak dalem juga kan, Yang. Sudah cup, jangan nangis! Aku pernah ketembak dan nggak pa-pa kok," ucap Rasyid mencoba menenangkan sang istri.


"Apa kamu bilang, ketembak! Dan nggak pa-pa. Serah! itu terserah! yang penting saat kamu sama aku, kamu harus baik-baik saja dan hanya boleh baik-baik saja. Paham!" jawab Nadin kesal, tak terima dengan apa yang terjadi dengan pemilik hatinya ini.


Rasyid kembali tersenyum lalu menarik tubuh sang istri agar lebih dekat dengannya.


"Iya, oke, aku bakalan jaga diri. Oke... lagian kamu nggak perlu khawatir lagi. Anisa kan udah di amankan. Aku jamin dia bakalan dapat hukuman yang pantas. Biar dia nggak berani lagi gangguin kita. Cup, jangan nangis lagi! Oke... "


"Jangan melarangku menangis! aku benci ini. Kenapa selalu aja ada masalah di antara kita? Menyebalkan tau," jawab Nadin ketus.


Bukannya marah, Rasyid malah tersenyum melihat sang istri mengomel tak jelas. Rasanya Rasyid malah menemukan kembali Nadin nya yang sempat hilang beberapa minggu ini. Rasyid tau jika Nadin pasti sedikit kecewa dengan alur percintaan mereka, tapi mau bagaimana lagi? jalan ini bukan mereka yang minta. Namun terpaksa mereka harus lalui.


"Mau bobo di sini, hemm? Bersamaku?" tanya Rasyid, merayu.


"Mau, tapi sempit. Bagaimana dengan lukamu nanti?" tanya Nadin.


"Tak apa? Masih muat kok, Sayang. Tapi Mas khawatir dengan bayi kita. Apa nggak pa-pa kalo kita sesak-sesakan gini?" tanya Rasyid.


"Tapi aku rindu tidur di pelukanmu. Aku pengen," jawab Nadin manja.


"Ya udah, sini naik!" Rasyid tersenyum senang. Pria dengan tingkat ke modusan hakiki ini merasa menang. Bagaimana tidak? sang istri begitu kekeh menolaknya, tetapi sekarang, giliran dirinya tergores luka sedikit saja, Nadin sudah super heboh begini. Bukankah ini hadiah manis dalam hubungan mereka.

__ADS_1


Kerinduan yang memuncak, membuat keduanya terlena dalam genggaman asmara. Nadin begitu erat memeluk sang suami. Seakan takut kehilangan. Begitupun dengan Rasyid. Pria tampan ini beberapa kali mencium kening sang istri. Tak lupa ia juga mengelus rambut kekasih hatinya ini. Membaca puji syukur berkali-kali, karena Tuhan masih percaya padanya. Tentu saja untuk menjaga wanita yang ia cintai ini.


"Mulai sekarang aku mau kita tinggal di rumah utama aja, Yang. Jangan di rumah itu lagi. Aku nggak mau terjadi apapun lagi sama kamu. Aku takut bayiku dan kamu kenapa-napa," ucap Rasyid, serius.


"Oke, tapi bagaimana dengan para pegawaimu? Mereka taunya aku sekertaris mu. Nanti aku di bilang sekertaris plus-plus lagi," balas Nadin.


"Ya nggak pa-pa, nyatanya kamu memang sekertaris plus-plus ku kan." Rasyid tertawa senang.


Tak ayal, Rasyid pun terkekeh. Nadin sangat menggemaskan ternyata. Apa lagi melihat Nadin cemberut begini. Rasanya Rasyid ingin memilikinya saat ini juga. Andai tak ada luka di perutnya.


"Mas!"


"Bagaimana dengan Xian? Apa dia sudah tau kalo...?"


"Tidak, belum.. biarlah itu menjadi rahasia kita. Aku nggak tega mau kasih tau dia, Yang. Anak itu nggak tau apa-apa. Aku nggak bisa nyakitin dia meskipun jujur aku marah pada kedua orang tuanya," jawab Rasyid, kali ini aura kesedihan tampak jelas dari sorot mata Rasyid. Namun, mau bagaimanapun Rasyid tetap punya tangung jawab secara moral untuk anak itu. Xian tetaplah adiknya. Dalam darah mereka mengalir darah yang sama. Rasyid tak akan pernah menampik itu.


"Makasih banyak, Yang. Kamu tau, aku semakin tidak bisa berjauhan darimu. Hatimu sungguh luar biasa, Yang. Kamu begitu ikhlas menjalani kehidupan mu. Bahkan mau menerima tanggung jawab seseorang yang seharusnya tidak menjadi tanggung jawabmu."


"Apa yang kita tanam pasti bakal kita tuai, Yang. Makanya aku mau nanem yang baik-baik. Siapa tau nanti aku bisa memanen kebaikan itu. Ya, sekarang aku yang membesarkan Xian dengan cintaku, siapa tau nanti kalo aku tua, Xian yang akan mencintaiku menjaga tubuh rentaku, seperti ibunya sendiri. Kan?"


"Masya Allah, Yang. Aku nggak tau mesti ngomong apa sama kamu. Hatimu benar-benar emas, Yang. Makasih buat aura positif yang kamu kasih ke aku. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu padaku maupun pada Xian."


"Aamiin... emmm satu lagi."


"Apa itu?"


"Tadi Yoga telpon, lewat ponsel Kak Vi... dia bilang terima kasih atas kebaikanmu."


"Kebaikanku apa? Aku nggak ngerti?" tanya Rasyid pura-pura bodoh.

__ADS_1


"Jangan pura-pura bodoh. Yoga udah tau kalo kamu yang ngurus ibunya sekarang. Dan kamu juga minta sama pengacara mu kan? buat ngurangi tuntutan buat dia?" balas Nadin.


"Yahhh.... mau gimana? Aku nggak bisa tutup mata dan telinga ini, Yang. Dia memang salah, tapi kebaikannya, kepedulian padaku juga nggak bisa dihitung dengan jari. Andai setelah lepas dari penjara dia masih mau kerja di perusahaan, aku pun nggak akan nolak, Yang. Karena aku tau bagaimana dia? Dia sangat konsisten.Apa lagi sekarang ibunya sakit, adeknya masih butuh biaya kuliah. Satunya udah kerja sih, cuma bentar lagi merried. Pasti butuh biaya. Dan semua beban itu Yoga yang nangung. Kan kasihan, Yang," jawab Rasyid. Terdengar sedih, namun Rasyid pun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Ya, semoga masalah ini segera berlalu. Oiya, dia juga tanya, seandainya dia lamar Vio, apakah kita setuju?" tanya Nadin lagi.


"Loh, kok tanya kita? maksudnya?"


"Nggak ada maksud sih, dia cuma minta pertimbangkan dari kamu. Itu artinya dia masih nganggep kami saudara, nganggep kamu orang penting dalam hidupnya. Gitu loh, Yang. Paham nggak?


"Paham sih! Kalo aku sih oke aja. Ku lihat nona barbar itu juga bisa nerima Yoga. Mereka bucin akut. Menjijikan sekali!" jawab Rasyid kesal.


"Loh kok jijik, kenapa?" Nadin kesal.


"Udah pada tua masih pacaran, harusnya nikah aja. Biar halal!"


"Ya kan ke ganjel masalah ini toh, Yang. Kalo nggak juga mereka udan menikah kok."


Rasyid melirik manja ke arah sang istri. Lalu mencium gemas wanita itu. Rasyid bahagia. Akhirnya Nadin bisa kembali Menemaninya. Bercengkrama sebelum dirinya masuk ke dalam alam mimpi.


***


Di lain pihak, Anisa berteriak histeris karena beberapa polisi menangkap paksa. Ia bersumoah akan menghabisi Nadin dan Rasyid karena telah membuat hidupnya susah.


Bersambung...


Sambil nunggu, kalian bisa tongkrongin karya temen emak yes🥰🥰


__ADS_1


__ADS_2