
Keesokan harinya...
Nadin merasakan aura lain dari sang suami. Pria itu seperti lebih banyak diam. Bahkan, Rasyid terkesan menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kamu kenapa, Mas? Sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Nadin, lembut.
"Apa kamu percaya padaku?" tanya Rasyid, sungguh-sungguh.
"Percaya, kalo nggak, mana mungkin aku mau menyerahkan jiwa raga ku ke kamu. Aneh kamu ini Mas, Mas, Mas Rasyid. Pak Satpam ganteng, eemmm," jawab Nadin sembari tersenyum gemas dan berlalu meninggalkan sang suami yang melonggo melihat tingkah genitnya.
Rasyid menatap sekilas wajah sang istri, lalu mengusap kasar wajahnya. Rasa bersalah tiba-tiba menjalar dalam sanubari pria ini. Ia merasa seperti penipu yang menipu seseorang yang ia cintai.
Ingin rasanya ia berterus terang menjelaskan apa yang saat ini sedang ia risaukan. Tetapi, jika menceritakan kenyataan yang sebenarnya, itu artinya, Rasyid sudah siap mengungkap siapa sebenarnya dirinya. Dan ini sangat sulit untuk Rasyid. Sebab banyak rahasia yang mungkin tidak bisa Nadin terima.
Rasyid yakin, Nadin akan marah besar dan yang lebih menyeramkan adalah Nadin pasti menilai dirinya penipu ulung.
"Mas!"
"Emmm!"
"Kamu kenapa sih? ngelamun mulu.... nggak kerja?" tanya Nadin, karena Rasyid masih duduk manis di sofa, belum mengganti baju rumahnya dengan baju seragam yang sudah disiapkan oleh sang istri.
"Aku udah kena pecat," jawab Rasyid, berbohong.
"Loh kok dipecat, emang kamu salah apa?" tanya Nadin, heran.
"Pengurangan karyawan, Yang." Rasyid kembali terlihat murung.
"Oh, jadi sedari tadi kamu murung karena nggak ada kerjaan. Ya udah sih, cari kerja yang lain. Gimana kalo aku bantu kamu kerja. Kita kumpulin modal buat bikin usaha. Soalnya kamu tahu kan, usaha keluargaku juga lagi nggak bagus. Papa ninggalin utang di mana-mana. Usaha oma terpaksa guling tikar karena mesti banyar utang papa. Jadi, aku sendiri pun nggak bisa bantu kamu. Aku hanya punya beberapa dolar saja untuk kita memulai hidup baru. Bahkan kita juga harus ninggalin rumah ini. Kamu udah baca juga kan, surat penyitaan rumah ini," jawab Nadin, jujur.
Rasyid melirik sang istri sembari menyembunyikan tawa dalam hati. Menurutnya, Nadin adalah wanita unik. Usaha keluarganya bangkrut, tapi dia malah terlihat biasa-biasa saja. Seperti tak punya beban kehilangan itu semua.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Rasyid.
__ADS_1
"Hemmm, tanya aja," jawab Nadin.
"Kok, kelihatannya kamu biasa-biasa saja. Kamu nggak marah sama papamu, omamu, dan orang-orang yang membuat hidupmu susah. Emm, maksudku begini, kamu kan udah biasa hidup mewah, semua serba ada. Terus, tiba-tiba saja, kamu harus kehilangan semua ini. Apa kamu nggak ngrasa dunia ini nggak adil buat kamu?" tanya Rasyid penasaran.
Nadin melirik sang suami sembari tersenyum. Lalu ia pun menjawab, "Apa kamu tau, dulu waktu aku sekolah, aku selalu iri dengan kondisi keluarga teman-tamanku. Mereka begitu bahagia hidup dalam kesederhanaan. Saling menyayangi. Punya keluarga yang hangat. Sedangkan aku, hidup berkecukupan tapi penuh kepalsuan. Jika boleh memilih, aku pengen punya keluarga seperti itu saja. Sederhana tapi penuh cinta. Makanya aku tak masalah ketika dinikahkan denganmu, yang notabene hanya seorang satpam. Kalo pun aku pernah ngomong ogah nikah sama laki-laki dengan kondisi keuangan yang serba kekurangan, itu hanya alibiku saja. Yang aku inginkan sebenarnya hanya kasih sayang, kejujuran, kesetiaan. Masalah materi, mari kita cari bersama. Dengan kecerdasan otakku, aku rasa, aku nggak akan kesulitan mencari uang. Jadi, dari situ aku menarik kesimpulan, bahwa bahagia tidak melulu tentang uang. Tapi tentang bagaimana kita selalu bersyukurlah dengan apa yang kita miliki. Suami sepertimu, mungkin," jawab Nadin sembari tersenyum simpul.
"Wow, tuan putri ternyata punya pandangan lain soal hidup. Keren juga. Lalu bagaimana pendapatmu dengan suami pengangguran mu ini?" canda Rasyid.
"Bangun, kerja... mari kita wujudkan rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah," jawab Nadin, masih dengan senyuman indahnya.
"Oke, mari kita wujudkan itu. Oiya, ini tabunganku. Semoga cukup sampai kita berdua dapet kerjaan," ucap Rasyid sembari menyerahkan kartu ATM nerwana biru itu pada istrinya.
"Kamu percaya aku yang pegang?" tanya Nadin.
"Hemmm, kamu istriku," jawab Rasyid. Padahal, sekali lagi, Rasyid hanya ingin menguji kesungguhan Nadin mengelola rezeki mereka.
"Oke, emmm... soal biaya hidup putramu, bagaimana?" tanya Nadin.
"Oke, sepertinya kita harus berhemat. Oh ya bolehkah aku bekerja?" tanya Nadin.
"Kerja ya... kerja apa?" tanya Rasyid, sedikit was-was. Mengingat istrinya ini sangat cantik. Tak dipungkiri bahwa Rasyid takut istrinya dilirik pria lain.
"Emm, ingat Zahra nggak?" tanya Nadin.
"Zahra? Zahra yang mana?"
"Itu loh, temen aku yang kita ketemu pertama kali. Yang waktu aku nabrak mobil kamu?"
"Oh, yang itu. Kenapa dengan dia?"
"Kemarin aku chat dia, minta bantu dicariin kerjaan. Terus dia bilang di kantor dia lagi butuh staf buat resepsionis. Gajinya lumayan. Dengan penampilanku yang kece ini, aku yakin bisa ngisi posisi itu," jawab Nadin sedikit bercanda.
Sayangnya candaan Nadin membuat Rasyid kesal.
__ADS_1
"Ah nggak, nggak boleh. Nanti kamu di godain lagi sama cowok-cowok di sana. Belum lagi bos-bos menyebalkan itu," jawab Rasyid kesal.
Spontan, Nadin malah tertawa dengan kecemburuan tak berdasar sang suami.
"Ih, mana ada begitu. Kamu tau bagaimana aku. Aku yakin, aku bisa kok jaga diri. Aku janji," jawab Nadin, memohon.
"Serius! Janji nggak ngelirik pria lain!"
"Iya, Bapak... Bapak tenang aja," jawab Nadin.
"Oke, di mana kamu mau melamar pekerjaan. Boleh aku lihat surat lamarannya?" tanya Rasyid.
Nadin beranjak dari tempat duduknya. Lalu mengambil laptop miliknya dan menunjukkan surat lamaran itu.
Rasyid membaca baris demi baris kalimat yang tertulis di sana.
Senyum mengembang sempurna ketika membaca tujuan tempat Nadin ingin melamar kerja. Perusahaan itu adalah miliknya. Tak banyak bicara, Rasyid pun segera menyetujui keinginan sang istri.
"Oke, kamu boleh mengajukan lamaran ini. Ingat jiwa raga mu milikku. Jangan macam-macam. Satu lagi, aku nggak mau kamu pakai baju terbuka. Apa lagi mengekspos bagian dada dan paha. Awas aja kalo kamu berani," jawab Rasyid, kali ini dia dalam mode serius.
"Astaga, Bapak.... belum juga kerja, udah di atur sedemikian rupa. Apakah semua pria seperti ini? Posesif ngga jelas gini?"
"Terserahmu lah, pokoknya itu syarat kamu boleh pergi kerja. Oiya, satu lagi.. pulang pergi aku yang jemput. Tidak boleh telat makan. Kalo perlu bawa bekal dari rumah. Satu lagi, jangan lupa banyak minum air dan buah. Biar bibitku di dalam situ segera tumbuh. Aku pengen cepet punya momongan, mengerti!" ucap Rasyid lagi.
Nadin hanya melonggo mendengar satu persatu syarat yang harus ia penuhi jika ingin diizinkan bekerja.
***
Di sisi lain, Yoga tampak ragu ketika Anisa mengajaknya bertemu. Ia takut, apa yang pernah ia lakukan bersama wanita itu, tercium oleh Rasyid.
Bersambung ...
Ditunggu like komen and Vote nya ya gaes😍😍Lope sekebon jangung😍
__ADS_1