
Yoga kini mengerti bahwa mantan kekasihnya ini sebenarnya hanya salah paham pada hubungan mereka. Dan Yoga berjanji akan membuktikan pada Vio bahwa dirinya tidak seburuk apa yang dipikirkan gadis ini padanya.
"Vi... "
Violeta menoleh sekilas, lalu ia pun bertanya, "Apaan?"
"Jangan jutek gitulah! Aku tahu kamu masih marah sama aku. Tapi aku kan udah jelasin duduk permasalahannya sama kamu. Aku sih berharap, kamu percaya," ucap Yoga, kali ini dengan nada rendah dan terdengar lembut.
"Aku nggak marah! Cuma kesel aja. Kamu udah bikin hatiku sakit, Ga. Gimana aku nggak ilfil sama kamu," jawab Violeta, jujur.
"Aku tau, aku minta maaf ya. Maaf kalo saat itu aku juga kebawa emosi."
"Kamu kasar, Ga. Aku nggak suka."
"Maaf, Vi, maafin aku. Maaf ya. Biar kamu maafin aku, gimana kalo malam ini aku traktir makan," ucap Yoga. Hanya itu yang bisa ia ucapkan untuk menebus kesalahan yang pernah ia lakukan di masa lalu.
"Udahlah, Ga, makasih . Sebaiknya kita nggak usah bahas lagi. Toh udah lewat juga. Aku dan kamu udah bukan sepasang kekasih lagi ka. Jadi udah nggak ada gunanya kita bahas masa lalu. Hah, maafkan aku yang cengeng ini," ucap Violeta, sembari tersenyum. Namun, Yoga tau jika senyuman itu hanya untuk menutupi perasaannya yang saat ini masih terluka.
Tapi aku ingin maksa, Vi. Aku nyaman sama kamu. Aku suka sama ada di dekatmu. Aku ingin serakah, Vi. Aku ingin memilikimu. batin Yoga.
__ADS_1
Sementara ini, Yoga tak ingin memaksa Vio untuk kembali membuka hati untuknya. Yoga janji, akan membuat gadis ini kembali jatuh cinta padanya. Sebab ia sendiri juga belum bisa melupakan Vio, meskipun perpisahan yang terjadi antara mereka, dulu, begitu menyakitkan.
"Sekarang lagi deket sama siapa?" tanya Yoga.
"Nggak ada."
Yoga tersenyum.
"Bener?"
"Hemm!"
***
Anak buah Rasyid melempar Emelda tepat di depan Rasyid yang saat ini berdiri santai menatap keluar jendela.
Terlihat wanita itu mencoba berdiri. Dengan penuh amarah, wanita itu pun memaki orang-orang yang telah menculiknya.
"Brengsek! Apa-apa an ini?" teriak Emelda.
__ADS_1
Dengan santai, Rasyid pun membalikkan tubuh.
"Kamu?!" Emelda tercengang..
"Ya, ini aku! Bagaimana? Masih ingin mengusik istriku?" tanya Rasyid, masih dengan mood yang terjaga baik.
"Aku tidak peduli, Nadin adalah milikku. Dia hartaku! Gadis itu harus membayar apapun yang hilang dariku! " teriak Emelda lagi.
"Coba saja kalo kamu berani menyentuh istriku!usuhmu sekarang bukan Nadin lagi, tapi aku. Paham!" ucap Rasyid lagi.
Emelda diam. Mencoba tetap membangun benteng pertahanan di hatinya.
"Kali ini aku memgampunimu, tapi jika kamu masih membuat ulah, jangan harap besok kamu masih bisa bernapas. Katakan pada klien-klien bodohmu itu, bahwa Nadin sekarang adalah milikku. Tanpa ku jabarkan konsekuensinya, mereka pasti sudah tau."
Rasyid melangkah meninggalkan ruangan itu. Bukan tanpa sebab ia melepaskan wanita itu. Justru ia tidak mau mengotori tangannya dengan menghabisi nyawa orang lain.
Rasyid ingin, orang-orang yang telah dikecewakan oleh dialah yang menghabisi wanita itu. Bukankah ini jauh labih baik di banding dia harus turun tangan sendiri.
"Awasi wanita itu, jangan sampai dia mendekati istriku. Jika nekat, kalian tau apa yang harus dilakukan kan?" ucap Rasyid. Tak ingin berlama-lama berhadapan dengan sesuatu yang membuatnya gerah, Rasyid memilih meninggalkan tempat menyesakkan ini.
__ADS_1
Bersambung...