Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Ketulusan


__ADS_3

Yoga sudah meninggalkan kediaman Rasyid dan Nadin. Kini tinggalah mereka berdua dengan segala kepikiran yang ada.


Nadin merasa kurang nyaman, hanya berdiam diri saja. Tetapi di sisi lain, Rasyid tidak mengizinkannya untuk membantu.


Tiga puluh menit berlalu, omlet pesanan Nadin sudah siap. Sedikit gugup, Rasyid pun membawa dua piring omlet ke meja makan. Ke tempat di mana Nadin berada.


"Silakan dinikmati, semoga suka," ucap Rasyid sembari tersenyum manis.


"Makasih, maaf aku tidak membantu," jawab Nadin.


"Tak apa, lebih baik kamu tidak membantu dari pada terluka," jawab Rasy sambil menyiapkan garpu untuk sang istri.


"Apakah ini trik mu untuk membuatku jatuh cinta padamu?" tanya Nadin, sedikit bercanda.


"Emmmm, gimana ya?" Rasyid menatap gemas pada sang istri, lalu melanjutkan ucapannya, "Anggap saja begitu, dari pada istriku jatuh cinta sana pria lain, bukankah lebih baik aku sendiri yang berusaha merebut hatinya."


Nadin membalas tatapan itu dengan lirikan tak kalah gemas.


"Sebaiknya anda simpan trik anda, Bapak! Aku tidak akan terpengaruh," jawab Nadin.


"Baiklah! Apapun keputusanmu, aku nggak akan maksa. Tapi satu yang perlu kamu ingat, sampai kapanpun aku nggak akan nglepasin kamu. Salahmu sendiri sudah mau menikah denganku," ucap Rasyid.


Nadin tersenyum, lalu ia pun membalas "Dasar penindas pemaksa!"


"Biarin, kamu adalah istriku. Kamu hakku. Jadi terserah aku mau ngapain kamu," jawab Rasyid.


"Dih, bagaimana jika aku berbuat sama denganmu? Membalas perbuatan menyebalkan itu! Apa kamu mau? Dasar!" umpat Nadin, kesal.


"Silakan, nggak ada yang nglarang. Aku kan suami kamu, terserah kamu mau ngapain aku. Aku milikmu Nona, jadi jangan ragu untuk memilikiku," jawab Rasyid, pasrah.


"Serius?"


"Ya!"

__ADS_1


Nadin tak menjawab. Namun di sudut hatinya yang terdalam, ada satu kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Nyatanya, apa yang dilakukan oleh sang suami, sanggup membuat hatinya berbunga-bunga. Diam-diam Nadin suka.


"Maaf ya, siang ini aku nggak bisa nemenin kamu. Bos ada acara, jadi aku harus ngawal," ucap Rasyid.


"Ngawal? Bukankah satpam tugasnya hanya berdiri depan pintu ya?" tanya Nadin, heran.


"Suamimu ini lain, jobnya bukan cuma menyambut tamu. Tapi juga ngawal bos besar. Makanya dipercaya kalo pinjam mobil," jawab Rasyid.


"Oh, pantesan. Apa kamu lama kerjanya?"


"Nggak tau, mungkin bisa sampai malem. Kenapa? takut aku kenapa-napa ya? takut kangen ya?" tanya Rasyid, sedikit bercanda.


"Ih, Ge er, siapa yang yang bakalan kangen sama situ. Lagian enak lagi kalo nggak ada situ, nggak ada yang nindas. Nggak ada yang gangguin!" jawab Nadin, kesal.


Rasyid tersenyum, sebab ia tahu, Nadin pasti berbohong.


Rasyid mulai memasukkan satu suap omlet itu ke dalam mulutnya. Begitu pun Nadin.


"Emmm, enak sekali omlet nya. Ternyata kamu pandai juga masaknya," puji Nadin.


"Hilih, perasaan. Sebaiknya kamu simpan Kata-kata itu. Setampan-tampannya kamu, aku sangat tidak tertarik."


"Benarkah? Bagaimana jika aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku?" tanya Rasyid, dengan tatapan sangat mesra.


"Nggak akan! lihat saja nanti!" jawab Nadin yakin.


Rasyid tersenyum, namun ia yakin, bahwa saat ini jantung Nadin sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Seperti jantungnya. Rasyid mengakui, jika jantungnya tidak normal jika berdekatan dengan wanita cantik ini.


"Nanti pulang kerja mau dibawain apa?" tanya Rasyid.


"Terserah!"


"Loh kok terserah! kamu pengennya apa?"

__ADS_1


Pengennya aku, kamu pulang perginya selamat sampai tujuan, itu saja.


Nadin tak berani menyuarakan isi hatinya itu, namun ia menyadari, bahwa saat ini ia telah masuk ke dalam jebakan Rasyid. Nadin tidak menyesal. Entahlah, tanpa ia sadari, Nadin mulai percaya pada pria itu.


***


Di lain pihak, seakan mendapat firasat yang kurang baik, Zarin meminta Violeta untuk pergi ke Bandung. Untuk memastikan bahwa Nadin baik-baik saja. Sebab sejak Nadin di bawa oleh Rasyid, ponsel bidadari kecilnya itu sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Sebaiknya kamu pergi ke Bandung. Jaga dia. Aku ingin tau kabarnya," pinta Zarin dengan suara lemah.


"Tapi Nyonya, saya tidak bisa meninggalkan anda dalam keadaan seperti ini," tolak Violeta.


"Siapa kamu berani melawan perintah ku? Kamu harus sadar diri, jangan menolak perintah ku!" hardik Zarin kesal, sebab ia bisa membaca mengapa dulu Violeta pura-pura menderita. Ternyata hanya ingin menarik simpatinya. Agar Zarin mau memperkerjakannya.


"Tolong jangan berprasaka buruk terhadap saya, Nyonya. Sungguh, saya tidak ada niat buruk sedikitpun terhadap anda. Hanya hanya ingin menebus kesalahan ibu saya. Karena telah menusuk anda dari belakang. Saya rela menjadi pelayan anda, agar anda mau memaafkan ibu saya. Hanya itu tujuan saya, Nyonya. Tidak lebih dan tidak kurang," jawab Violeta memohon.


"Benarkah!? Buktikan jika benar niatmu mendekatiku seperti itu."


"Apa yang harus saya lakukan untuk membuktikan ucapan saya, Nyonya?" tanya Violeta.


Zarin diam. Mengela napas dalam. Lalu ia pun kebalik berucap, "Baik jika kamu bertanya demikian, kembalikan seluruh uang yang aku berikan padamu. Termasuk apartemen, gaji, mobil dan seluruh fasilitas yang kamu pakai saat ini."


Tanpa berpikir panjang, Violeta pun segera mengambil tasnya. Mengeluarkan seluruh isi dompetnya. Dua kartu ATM, satu kartu kredit, kunci apartemen serta kunci mobil juga Violeta serahkan.


"Silakan, Nyonya," ucap Violeta.


"Emmm, bagus. Sementara ini aku percaya pada mu. Tapi, aku mau kamu membuktikan lagi satu kesungguhanmu." Zarin mencebikkan bibirnya, meremehkan.


"Apapun yang Nyonya, minta. Asalkan saya bisa, pasti akan saya kerjakan," jawab Violeta yakin.


"Bagus! Sekarang juga aku mau kamu pergi ke tempat Nadin. Aku mau tau kabar anak itu. Jangan lupa, pastikan dia tidak kurang suatu apapun! Paham!" ucap Zarin.


Tanpa berpikir panjang, Violeta langsung menyanggupi perintah itu. Karena ia ingin membuktikan pada Zarin, bahwa apa yang ia ucapkan adalah kebenaran yang ia bawa. Violeta ingin Zarin tahu, apapun yang ia lakukan untuk wanita tua ini bukanlah kepalsuan. Melainkan ketulusan. Ketulusan yang keluar dari hati. Dan Violeta ikhlas atas hukuman yang diberikan oleh Zarin, asalkan wanita itu mau memaafkan ibunya.

__ADS_1


"Baik, Nyonya! Saya akan segera ke sana!" jawab Violeta, yakin.


Bersambung...


__ADS_2