
Seminggu Kemudian...
Tanpa sepengetahuan Nadin maupun Violeta, diam-diam Rasyid dan Yoga sudah berbaikan. Namun, mereka masih terlihat bermusuhan. Atau lebih tepatnya mereka pura-pura masih bermusuhan.
Lihatlah, baik Rasyid maupun Yoga, mereka saling enggan bertegur sapa. Padahal Rasyid sendiri dengan suka rela mau menjadi saksi pernikahan Violeta dan Yoga. Bukan hanya itu, pria ini juga membayar semua biaya pernikahan itu. Memesan catering untuk mentraktir seluruh nara pidana di lapas itu. Aneh saja rasanya, jika dia sudah berbuat sedemikian rupa, tapi masih dibilang bermusuhan. Sungguh, Rasyid dan Yoga pantas di nobatkan sebagai raja tim kamuflase atau bisa juga di katakan, mereka penipu ulung.
Astaga!
Sayangnya, keluguan Violeta dan Nadin, sama sekali tak bisa membaca kepura-puraan bos dan asisten itu.
"Mas, ayok kasih selamat buat bang Yoga dan kak Vi!" ajak Nadin.
"Ogah, ngapain? kamu aja!" jawab Rasyid ketus.
"Astaga! tadi di rumah janji nggak ketus-ketus gitu. Katanya udah maafin?" ucap Nadin, merayu.
Rasyid menatap kesal pada Yoga yang saat ini sedang memeluk dan bercengkrama mesra dengan sang istri.
"Ih, ngapain nglihatinnya gitu amat. Jangan bilang kamu cemburu lihat mereka, ha?" canda Nadin.
"Cemburu lihat mereka? Ngapain? aku lebih bahagia di banding si bucin laknat itu," jawab Rasyid, Lagi-lagi dengan gaya kesalnya. Bukannya marah, Nadin malah terkekeh.
__ADS_1
"Iya aku tau, udah yuk kasih selamat ke mereka dulu. Nggak etis kalo ada moment bahagia kok malah nesu-nesu gitu. Yuk!" ajak Nadin lagi.
Kali ini, Nadin tak menunggu persetujuan dari Rasyid. Nadin langsung menarik tangan pria keras kepala itu. Mengajaknya melangkah mendekati Vio dan Yoga yang saat ini sedang berbahagia.
"Kak Vio... Abang... emmm, akhirnya... selamat ya," ucap Nadin.
"Makasih, Sayang. Tanpamu kami nggak akan sampai sini," jawab Violeta, bahagia.
"Ih, ya nggak lah.. aku kan cuma ngeyakinin abang doang. Eh, gimana, Bang? Happy nggak punya istri?" canda Nadin.
Yoga tersenyum, lalu menjawab, "Happy, InsyaAllah."
"Alhamdulillah... langgeng sampek kakek nenek, ya, Bang. Sampai maut memisahkan dan semoga kasus abang nggak berlarut-larut. Biar kalian bisa bareng," ucap Nadin memberi selamat.
"Ih, Sayang... kok nggak kasih selamat?" protes Nadin pada Rasyid.
Rasyid berdecak kesal, lalu ia pun melirik Yoga sambil mengucapkan selamat. "Selamat! Udah!"
"Ih, kok gitu? Yang ikhlas dong. Masak begitu?"
Rasyid kembali melirik kesal pada ketiga orang itu. Namun masih belum mau mengulurkan tangannya pada Yoga.
__ADS_1
Menganggap Rasyid terlalu lambat berpikir, Nadin pun menarik tangan Rasyid dan Yoga, lalu menyatukannya.
Yoga santai, tapi tidak dengan Rasyid. Pria ini malah mengelap tangannya seusai bersalaman dengan Yoga. Membuat Vio dan Nadin tertawa.
"Gaya bet sih lu! Jangan diambil hati ya, Bang. Aku rasa, Abang lebih kenal dia dengan baik di banding aku. Oke!" ucap Nadin, tentu saja dengan tatapan gemas pada Rasyid. Sedangkan Rasyid kembali ke mode cuek.
Yoga sendiri, seakan paham dengan perangai Rasyid. Dia hanya diam dan tertawa dalam hati. Bukan menertawakan Rasyid sebenernya, tapi menertawakan kedua wanita yang pada kenyataannya sangat tidak mengenal Rasyid B dengan baik.
"Yuk balik, aku laper!" ajak Rasyid, malas.
"Astaga! barusan juga makan si, Mas. Itu perut atau apa?" tanya Nadin, merasa aneh.
"Aku bukan laper nasi, aku laper yang lain," jawab Rasyid. Spontan Vio dan Yoga pun tertawa. Sebab mereka tau arti ajakan Rasyid. Rasyid tau, waktu kebersamaan Vio dan Yoga sangat terbatas. Itu sebabnya ia mengajak Nadin agar segera meninggalkan tempat ini dan memberi kesempatan pada sepasang pengantin baru itu untuk mewujudkan cinta mereka.
Kebahagiaan Vio dan Yoga sangat terasa sekarang. Apa lagi mereka di beri waktu untuk berduaan di sebuah ruang khusus. Sedangkan Rasyid bersiap memberikan kejutan manis untuk sang istri. Sebuah perjalanan bulan madu ke Amsterdam. Rasyid sengaja memilih tempat itu, sebab ketika ia dalam masa galau, ia melarikan diri ke sana. Dan Nadin... wanita itu malah mengirimkan sesuatu padanya yang sukses membuatnya kelimpungan setengah mati menahan hastrat.
Sekarang, detik ini.. Rasyid ingin membalas dendam atas apa yang sang istri pernah lakukan padanya. Tentu saja akal liciknya itu tanpa diketahui oleh sang istri.
End
Hay.. hay... makasih banyak kalian udah setia mengikuti kisah mas Rasyid and mbak Nadin. Emak minta maaf yang sebesar-besarnya kalo mungkin ada part yang mungkin tidak sesuai dengan pemikiran kalian🥰
__ADS_1
Emak juga mau pamit, sementara emak rehat nulis dulu ya. Emak sering nggak enak badan. Mungkin terlalu keras berpikir. Emak nak healing dulu. Nanti kalo otak Emak udah fres egen, Emak bakalan cambek🥰🥰Oke!
Salam cinta dan sayang dari emak... lope ke kebon jagung buat kalian semua... paypay😘😘😘😘😘