
Rasyid tak peduli dengan masa lalu yang melibatkan keluarga Nadin. Bagi Rasyid adalah keselamatan Nadina dalah tanggung jawabnya.
"Aku nggak mau pusing dengan masa lalu Menyesatkan itu. Bagiku sekarang adalah istriku. Istriku adalah tanggung jawabku. Baik itu menyangkut keselamatan, kebahagiaan maupun apa yang dia butuhkan," jawab Rasyid tegas.
Yoga menatap sekilas bos besarnya itu. Yoga langsung teringat ucapan Bima. Yang menyatakan peruhaban yang terjadi pada diri Rasyid. Bos sekaligus sahabatnya itu, tak lagi cuek. Tak lagi jutek pada wanita, terutama pada Nadin. Sepertinya Rasyid sudah mulai bisa berkompromi dengan keadaan. Yoga hatinya, bosnya ini sudah kembali membuka kembali hatinya untuk wanita.
"Bos, apa hatimu baik-baik saja?"
"Ya! aku banyak belajar dari masa lalu," jawab Rasyid.
"Baiklah, sepertinya kamu udah jatuh cinta sama gadis barbarmu itu," ucap Yoga, sedikit bercanda.
"Aku tak menampik itu. Tapi sejak aku mengikrarkan ijab qobul kami, aku sudah berjanji akan menjadi seseorang yang selalu ada untuknya," jawab Rasyid yakin.
"Oke! Aku mendukungmu, Bos. Tapi bagaimana dengan Anisa?" tanya Yoga.
"Dia masa lalu!"
"Tidakkah, Bos masih menyimpan dia di hati?"
"Tidak!"
"Seandainya saat ini dia ada di depan, Bos, Apakah Bos tidak akan goyah?" tanya Yoga lagi, memastikan.
Rasyid malah tersenyum. Baginya pertanyaan Yoga sangatlah bodoh.
"Kamu tau, bukan aku yang ninggalin dia tapi dia yang ngebuang aku sama Xian. Jadi nggak ada alasan bagi kami untuk berlari ke arahnya. Aku harap kamu paham dan jangan pernah bahas soal wanita nggak punya hati itu. Bagiku, hidup dan masa depanku ada pada Nadin. Begitu pun dengan Xian. Kamu tak usah khawatir soal kami," jawab Rasyid, kesal.
Yoga tak berani melanjutkan ucapannya. Ia tau, pertanyaan yang ia ajukan untuk Rasyid sangat keterlaluan.
__ADS_1
Satu jam berlalu, akhirnya mereka pun sampai ke sebuah lingkungan rumah yang cukup menyeramkan jika dilihat dari luar. Tetapi, ketika masuk, rumah itu ternyata cukup mewah. Dengan desain klasik dan perlengkapan rumah tangga yang bisa di katakan cukup mahal.
"Di mana wanita itu?" tanya Rasyid pada anak buahnya.
"Silakan, Tuan. Dia ada di ruang pendingin," jawab ajudan itu.
Rasyid mengangguk, lalu ia pun melangkah mendekati tempat yang di maksud oleh para ajurannya itu.
Rasyid tak mengizinkan siapapun menemaninya, walaupun itu Yoga. Rasyid ingin memberi pelajaran pada wanita itu sendiri. Dengan caranya sendiri.
Saat masuk ke dalam ruangan pendingin itu, Rasyid tersenyum licik. Apa lagi melihat Konsili Emelda yang cukup membuatnya senang.
"Apa di sini nyaman, sampai kamu tertidur?" tanya Rasyid sembari berjongkok di depan Emelda yang diikat di kursi kayu itu.
Wanita itu mengangkat wajahnya. Lalu membuka mata dan menatap Rasyid seakan ingin membunuh pemuda itu.
"Melepaskanmu hahahahha....! Jangan mimpi!" ucap Rasyid sembari mencengkeram marah kedua pipi wanita jahat itu.
"Apa salahku, Brengsek?" Emelda kembali menunjukkan amarahnya.
"Katakan, racun apa yang kamu berikan pada mertuaku?" Rasyid mulai mengeluarkan taringnya.
"Bukan urusanmu, hidup dan matinya adalah milikku. Jadi terserah ku!" jawab Emelda, berani.
Rasyid tertawa. Dihempas kasar wajah itu. Lalu dengan kasar, ia pun mencekik leher wanita itu.
"Aku tidak akan membunuhmu sekarang, tapi kamu harus merasakan apa yang dirasakan oleh mertuaku, istriku dan oma Zarin. Oiya, katakan... siapa wanita ini? Apakah ini mata-matamu di sana?" tanya Rasyid, sembari menunjukkan rekaman CCTV di rumah Zarin.
Emelda tercengang, heran, mengapa perbuatannya bisa semudah ini diendus oleh Rasyid. Padahal ia sudah membungkusnya serapi mungkin.
__ADS_1
"Katakan, siapa kamu?" tanya Emelda.
"Siapa aku? apakah itu penting untukmu?" balas Rasyid.
"Aku ingin lihat, seberapa hebat kamu bisa bertahan di ruangan ini? Atau kamu butuh kehangatan. Gimana... kalo aku minta anak buahku buat kasih kamu kehangatan ha? Anggap saja, ini balas budi ku karena kamu suka melakukan ini pada anak-anak di bawah umur. Hemmm!" ledek Rasyid. Sembari menatap nakal tubuh Emelda, sehingga wanita itu merasa sangat risih.
"Jangan kurang ajar kamu!"
"Ohh... ck ck ck... harusnya kamu senang. Meskipun kamu ku sekap, tapi aku masih berbaik hati memberimu kepuasan. Ini adalah balasan untukmu karena kamu sudah banyak merusak anak gadis orang!" ucap Rasyid tegas.
"Aku tidak merusak mereka, Brengsek. Orang tua mereka yang menjualnya padaku!" jawab Emelda.
"Oh ya, haruskah aku buka di sini bagaimana bisnis kotormu itu berjalan? Jangan mengelak lagi, Nyonya. Kartu As mu ada di tanganmu. Harusnya kamu bersyukur, aku terlebih dulu yang menangkapmu. Coba bayangkan jika yang mendapatkanmu Horison atau Ken? Sudah pasti kamu bisa mendapatkan penyiksaan yang lebih pedih dari ini. Mau coba?" jawab Rasyid, meledek.
Emelda tak membalas ucapan itu. Hanya menatap Rasyid dengan tatapan penuh kemarahan. Namun, Rasyid tak peduli. Baginya, Emelda harus menerima akibat dari setiap kejahatan yang dia perbuat.
Rasyid tak ingin mengotori tangannya dengan menyentuh wanita itu.
Tak banyak bicara, Rasyid pun meminta anak buahnya untuk memberi pelajaran pada wanita itu.
***
Di lain pihak, Horison marah besar. Uang yang ia pinjamkan pada Emelda, musnah sudah seiring dengan hilangnya wanita itu.
Janji Emelda untuk mengembalikan uangnya tak kunjung dipenuhi. Disamping itu, kabar tentang kematian suami wanita itu juga membuat Horison khawatir. Khawatir uangnya tidak kembali.
"Cari wanita bangsat itu, pastikan ia mengembalikan uang tepat waktu. Jika tidak makan dia harus membayar dengan tubuhnya!" pinta Horison geram.
Bersambung...
__ADS_1