Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Hancur


__ADS_3

Sebelum sang suami masuk ke dalam ruang kerjanya, Nadin mendekati pria itu. Menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Lalu mengelus dada pria itu. Seperti mengingatkan pria itu untuk bersabar menghadapi kenyataan sepahit apapun yang mungkin terjadi.


"Aku nggak bisa marah sama dia, Nad," ucap lirih.


"Aku tau, tapi kamu harus tegas. Mau bagaimanapun, penipu harus dapat hukuman. Bukankah sekarang anda sedang menerimanya," jawab Nadin, sedikit bercanda. Agar Rasyid tidak tegang.


Rasyid tersenyum mendengar nasehat itu, lalu ia pun kembali berucap, "Aku beruntung memilikimu, Nad. Kamu selalu bisa menenangkan hatiku."


"Jangan ngegombal, nggak bakalan mempan, udah sana. Rayuanmu nggak akan mengubah apapun, Bapak. Anda nggak usah mencari celah untuk mundur dari hukuman itu. Sudah sana, ASISTENMU SEDANG MENUNGGU!" jawab Nadin dengan penuh penekanan. Membuat Rasyid sadar, bahwa Nadin masih kesal dengan penipuan yang ia lakukan.


Rasyid tersenyum sekilas. Lalu ia membalikkan tubuh dan melangkah menuju ruang kerjanya. Sedangkan Nadin mempersilahkan Violeta untuk duduk di ruang tamu.


"Duduk, Kak Vio," ajak Nadin.

__ADS_1


"Makasihh!" ucap Vio sembari melangkah menuju sofa rumah itu.


"Mau minum apa?" tanya Nadin.


"Tidak, Non. Saya duduk saja," jawab Violeta. Terlihat jelas bahwa ada yang sedang di khawatirkan oleh gadis itu.


"Kak Vio oke?" tanya Nadin.


"Tidak, Non. Aku tidak bisa bohong, saat ini aku sedang tidak dalam kadaan baik-baik saja. Aku menghawatirkan Yoga. Namun aku juga tidak bisa mendukungnya untuk tetap bertahan dengan jiwanya yang sekarang. Dia harus berubah, Non. Aku nggak mau dia terlena dengan kenikmatan sesaat ini," ucap Violeta sembari menurup wajahnya kalut.


***


Di ruang kerja itu, Rasyid tak mampu menahan emosinya lagi. Bagaimana tidak? Kebenaran yang dibawa oleh Yoga, sangatlah menyakitkan baginya.

__ADS_1


Hati Rasyid hancur tak bentuk, bukan hanya karena Xian bukan anak kandungnya. Tetapi pria yang disinyalir adalah ayah kandung dari bocah tampan itu. Dia adalah ....


"Siapa dia? Katakan!" teriak Rasyid dengan emosi yang tak mampu lagi ia kuasai.


"Di-dia .... Dia adalah... papamu," ucap Yoga, jujur. Kali ini Yoga tak ingin menutupi kenyataan apapun dari Rasyid. Yoga iklas, Yoga siap, apapun yang akan Rasyid lakukan padanya.


Rasyid menatap Yoga dengan tatapan tak percaya. Ingin rasanya ia menghajar mulut pria yang berani memfitnah orang tuanya.


"Apa kamu tau hukuman bagi pemfitnah dan penipu sepertimu?" tanya Rasyid emosi.


"Tidak, Syid... aku sama sekali tidak menipumu. Demi Tuhan tidak. Apapun yang aku katakan hari ini adalah sebuah kebenaran. Aku tau ini sangat menyakitimu. Tapi ini adalah kenyataan yang harus kamu terima. Papamu tak mau bertanggung jawab atas apa yang telah ia perbuat, itu sebabnya Nisa membalas sakit hatinya dengan menjebakmu. Dan aku minta maaf, kamu tau saat itu aku dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Itu sebabnya aku menerima tawaran iotu, meskupun jujur aku sangat tertekan karena itu, Syid. Aku benar-benar minta maaf," ucap Yoga dengan penuh kesadaran,


Tak sanggup mendengar kenyataan pahit ini, Rasyid pun kembali berteriak. "Diam kamu! Tutup mulutmu, Brengsek! Pergi kamu dari sini, jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapanku lagi, jika tidak aku pasti akan meledakkan kepalamu, Pergi!!!!!"

__ADS_1


Yoga ingin tetap tinggal. Ingin menenangkan sang sahabat. Namun ia sangat tau bagaimana Rasyid. Rasyid tak pernah main-main dengan ucapannya. Jika dia terus memaksa, tak menutup kemungkinan kepalanya pasti akan meledak d sini.


Bersambung ....


__ADS_2