Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Kemarahan Rasyid


__ADS_3

Selepas kepergian Yoga, Rasyid marah besar. Menghancurkan apapun yang ada di ruangan itu. Rasa sakit hati karena sebuah pengianatan oleh orang-orang yang ia cintai sungguh tak dapat ia terima dengan akal sehat.


"Brengsek! Kalian semua brengsek! Mati saja kalian!" teriak Rasyid penuh amarah.


Di lain pihak, Yoga menangis sambil penuh penyesalan di ruang tamu rumah itu. Violeta berusaha keras menenangkan. Sedangkan Nadin segera berlari hendak mendekati Rasyid.


Namun, Yoga melarang. "Tidak, Non, jangan masuk! Dia tidak bisa didekati jika dalam keadaan seperti itu. Dia bisa menyakitimu!"


Nadin membalikkan tubuh, lalu ia tersenyum. Bukan berniat meremahkan. Namun Nadin yakin, ia pasti bisa mengendalikan Rasyid dengan cintanya.


Benar saja, ketika Nadin masuk ke dalam ruangan itu, Rasyid langsung menghentikan apa yang ia lakukan.


Sayangnya, Rasyid terlihat marah padanya. Rasyid menatap tajam ke arah Nadin. Tatapan itu sungguh bisa membuat orang lain merinding. Namun tidak dengan Nadin. Ia tetap menguatkan hatinya. Menyakinkan hatinya, bahwa ia pasti bisa menenangkan pria ini.


"Pergi!" pinta Rasyid, pelan. Namun penuh penekanan.


Nadin tidak menghiraukan permintaan itu. Dengan keteguhan hatinya, ia tetap mendekati pria yang ia cintai.


"Aku nggak akan pergi. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu." Nadin mendekati Rasyid, menatap pria itu dengan kelembutan yang ia miliki. Sedangkan Rasyid masih dengan kemarahan yang sama. Kemarahan karena kepercayaannya dihianati oleh orang-orang yang ia sayangi selama ini.

__ADS_1


"Pergi, jangan dekati aku!" pinta Rasyid lagi.


"Tidak."


"Pergi, Nad. Aku nggak mau nyakitin kamu!" ucap Rasyid lagi, kali ini dengan nada yang mulai meninggi.


"Kamu tidak akan menyakitiku. Karena aku tau, kamu mencintaiku. Kamu percaya padaku. Dan aku tidak akan menghianatimu," jawab Nadin, lembut.


"Heh, apa jaminanmu tidak akan menghianatiku? Kamu pikir aku bisa percaya denganmu. Kamu pikir aku masih mau percaya dengan kalian. Apa kamu pikir aku masih mau berhubungan dengan kalian. Jangan harap!" balas Rasyid penuh emosi.


"Aku bukan wanita seperti itu, Syid. Jangan sama kan aku dengan mereka." Nadin mencoba memegang tangan Rasyid. Namun dengan cepat Rasyid menepis tangan wanita itu. Sungguh, Rasyid tak ingin percaya dengan siapapun saat ini. Rasyid marah, semarah-marahnya.


Nadin tidak mengejar, Rasyid. Ia tahu pria itu pasti butuh ketenangan. Nadin ingin memberi kesempatan pada Rasyid, untuk memenangkan diri.


***


Di lain pihak, Xian terlihat ketakutan ketika mendengar keributan yang terjadi. Bocah tak tau apa-apa itu hanya mendekap boneka beruang yang ia miliki.


Nadin yang paham dengan kondisi bocah tampan itu, tentu saja langsung berlari ke tempat di mana bocah itu berada.

__ADS_1


"Jangan takut, Sayang. Semua baik-baik saja. Tenangkan dirimu," ucap Nadin seraya memeluk erat bocah itu.


"Kenapa papi marah? Apa karena Xian nakal?" tanya Xian, ketakutan.


"Tidak, Honey! kamu tidak nakal. Semua baik-baik saja. Papi hanya lelah saja. Heemmm! Sudah, jangan sedih. Tidurlah, aku akan menjagamu," ucap Nadin, sembari memeluk bocah tampan tak berdosa itu.


Xian tak protes lagi. Namun, feeling seorang anak jarang sekali bisa dibohongi. Meskipun Nadin selalu berkata bahwa Rasyid tidak marah karenanya, namun Xian yakin kemarahan Rasyid kali ini ada hubungannya dengannya. Sebab ketika Rasyid berteriak, beberapa kali ia mendengar papinya itu menyebutkan namanya.


***


Ketidak percayaan Rasyid pada orang-orang yang berada di sekitarnya, akhirnya membawa pria ini untuk menjauh dari mereka.


Pergi jauh sejauh-jauhnya.


Rasyid tak mau peduli lagi dengan orang-orang yang pernah mengisi harinya. Termasuk Nadin. Rasyid tak ingin meneruskan hubungan pernikahan ini. Yang artinya, ia ingin lepas dari wanita yang dijodohkan dengannya itu.


Pengalaman di masa lalu pernah dihianati, nyatanya membuat Rasyid sangat trauma. Tanpa berpikir panjang, ia pun meminta pengacaranya untuk mengurus perceraian dengan wanita itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2