
Emelda kesal. Gertakan dan ancaman yang ia biasa gunakan untuk menekan pria sudah tak lagi berfungsi. Bukan hanya itu, gadis yang ia jadikan jaminan kini telah menikah dengan seseorang, membuat beberapa orang yang telah memberikan uang kepadanya, menagih janji.
Emelda semakin stres, karena salah satu dari mereka hanya menginginkan kesucian Nadin.
"Beri aku waktu oke, aku pasti akan membawa gadis itu ke sini!" ucap Emelda, kembali memberi janji.
"Tidak, aku butuh keperawanan gadis itu, aku tak butuh jika dia sudah ditiduri pria lain," jawab pria tinggi besar itu. Membuat Emelda ketakutan.
"Jangan begitulah! Dia kan masih cantik," rayu Emelda.
"Cantik kau bilang! Hahahha ... soal cantik aku tak peduli, aku bisa saja membelinya di club murahanmu itu. Tapi aku butuh yang masih original, paham! Aku kasih waktu lima hari untuk mu mengembalikan uang yang sudah kau pakai. Jika tidak maka jangan harap kau masih bisa bernapas. Ingat itu!" ancam pria itu seraya menunjuk tepat di depan mata wanita itu.
Sadis! pria itu menatap sadis ke arah Emelda. Terang saja, Emelda pun merinding. Ia sangat tahu bahwa Horizon tidak pernah main-main dengan ucapannya. Pria casanova itu sangat menyukai gadis. Bahkan dia mau membayar lebih jika gadis yang ia tiduri memang terbukti masih gadis.
Demi keselamatan harta dan nyawanya, Emelda berjanji akan menculik Nadin saat ini juga. Sebelum suami sah gadis itu, mengambil sesuatu yang bisa menyelamatkan jiwa dan raganya.
***
Untuk keamanan dan keselamatan Nadin dan sang suami, Zarin menyiapkan tempat tinggal yang cukup mewah dan aman untuk sepasang pengantin baru itu. Tetapi, dengan alasan ingin bertanggung jawab penuh atas istrinya, Rasyid pun menolak.
"Saya sangat menghargai hadiah dari Oma, tapi berilah kesempatan saya untuk bertanggung jawab penuh atas istri saya, Oma," jawab Rasyid.
__ADS_1
Padahal di ujung sana, Nadin sedang menggerutu kesal. Sebab dia yakin, Rasyid pasti akan membawanya ke gubuk derita. Lalu akan menindasnya. Nadin sangat yakin itu.
"Baiklah, Sayang. Jika itu maumu. Tapi, Oma titip Nadin ya. Tolong jaga dia untuk Oma."
"Baik, Oma, laksanakan. Saya pasti akan jaga Nadin untuk Oma." Rasyid tersenyum.
"Ingat pesan Nenek, Syid. Istri adalah mahkota. Seburuk apapun harus tetap kamu jaga. Ini adalah pilihanmu, Nenek harap kalian berjodoh sampai maut memisahkan. Mengerti!!" sambung Laras mengingatkan.
"Insya Allah, Nek. Percayalah, doakan kami agar segera percaya buat kasih cucu buyut ke kalian, ya," ucap Rasyid.
"What?" pekik Nadin, spontan.
"Ih, kaget aku, Yang. Kan bener ya Oma, Nek. Salah satu tujuan menikah kah punya keturunan. Gimana sih, Sayang?" jawab Rasyid dengan suara super lembut. Padahal, di dalam sana mengandung unsur meledek Nadin.
Mendengar omelan sang istri, Rasyid hanya tersenyum. Rasyid tidak marah sama sekali.
"Kok gitu, emang kamu mau di panggil apa? bunda apa mami?" canda Rasyid. Lagi-lagi Nadin menatap kesal pada Rasyid.
Zarin dan Laras hanya tersenyum mendengar pertengkaran manis itu.
Setelah bercengkrama hangat, Rasyid pun berpamitan serta meminta izin membawa Nadin untuk ikut serta bersamanya.
__ADS_1
Di dalam mobil yang dikendarai oleh Rasyid, Nadin hanya diam. Malas saja bercengkrama dengan pria slengekan seperti suaminya ini.
"Kok diam? nggak pengen nanya apa gitu?" pancing Rasyid.
"Apa sih, brisik deh?"
"Kok brisik gimana? Nggak pengen tau, kamu mau aku bawa ke mana?"
"Bodo amat, paling kamu bakalan bawa aku ke hutan. Lalu kamu lempar aku, kasihkan binatang buas," jawab Nadin ketus.
"Ihh, aku nggak sebaik itu, Sayang. Kamu udah bikin aku kesel, aku bakalan kasih kamu pelajaran. Siap-siap, ya!" balas Rasyid, kali ini dia serius. Bahkan pria tampan ini menambah kecepatan mobilnya.
"Rasyid! Kamu gila!" pekik Nadin, terkejut.
Bukannya menurunkan kecepatan mobil, Rasyid malah semakin menginjak dalam pedal gasnya. Alhasil mobil pun melesat dengan kecepatan super tinggi.
"Pegangan Nad! kita sedang di kejar musuh!" ucap Rasyid mengingatkan.
"Hah? Musuh! Mana?" Nadin melihat spion sebelah kiri dan benar saja, banyak sekali motor yang mengejar mobil mereka.
Tak ada percakapan lagi, Rasyid semakin gila. Yang ada di pikirannya saat ini hanya keselamatan Nadin. Istrinya ini tidak boleh tertangkap oleh mereka atau jika sampai itu terjadi, maka itua artinya dia akan kehilangan Nadin untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Bersambung....