Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Bukan Ancaman Biasa


__ADS_3

Di dalam mobil, Violeta sama sekali tidak berani membuka suara. Ia memilih diam sambil membuang pasangannya ke samping. Bahkan untuk meminta kunci mobil miliknya, Vio sama sekali tidak berani. Pun dengan Yoga. Pria ini juga tidak menanyakan apapun pada wanita cantik yang ada di sampingnya.


Hingga sampai di titik di mana Yoga mengingat janjinya pada Rasyid. Pria tampan ini pun memutuskan untuk membuka suara, "Aku anter kamu ke mana?"


"Ke... anu... itu!" jawab Violeta, gugup.


"Ke anu, ke mana?" tanya Yoga lagi, sedikit ketus.


"Ke rumah nonaku."


"Oh!" Yoga menilik jam tangannya. Tepat di hitung dari detik saat, lima belas menit lagi ia harus sampai di hotel tempat ia dan bos besarnya hendak bertemu seseorang.


"Eh eemm... tapi boleh nggak, aku anternya setelah selesai meeting. Aku ada kerjaan bentar di hotel dekat sini. Nggak lama kok, gimana?" tanya Yoga.


"Iya, nggak pa-pa. Aku tungguin," jawab Violeta, terdengar lembut.


Yoga membuang pandangannya ke samping, berusaha menyembunyikan senyum kebahagiaan yang kini ia rasakan. Akhirnya, setelah sekian lama, ia bisa mendengar suara lembut Violeta lagi.


"Kamu udah makan?" tanya Yoga.


Violeta menggeleng.


"Ya udah, nanti kamu tunggu aku sambil makan aja. Gimana? Biar nggak bosen."

__ADS_1


"Oke!" jawab Violeta, tenang. Padahal, ia takut. Bagaimana jika nanti Yoga tahu bahwa sebenarnya ia tidak memiliki pun uang yang cukup untuk makan. Vio hanya memiliki satu lembar uang berwana hijau dan beberapa koin saja di tasnya. Jika makan di restoran, mana mungkin uang itu cukup untuk membayar. Bahkan untuk membeli minum saja, mungkin juga tidak cukup.


Lima belas menit berlalu, mereka pun sampai di tempat tujuan. Yoga mengantar Violeta ke restoran yang tersedia di hotel tersebut. Lalu ia pun pamit untuk bertemu seseorang di sana.


"Pesan apapun yang kamu inginkan, jangan ke mana-mana sebelum aku datang, oke!" pesan Yoga.


Violeta tersenyum lalu mengangguk pelan. Tentu saja untuk menutupi kekhawatiran dalam hatinya.


Tak ingin mengecewakan Yoga, Violeta pun memilih duduk di tempat paling sepi di restoran itu. Tentu saja untuk menghindari pramusaji. Agar ia terhindar dari tawaran mereka. Violeta takut dia khilaf dan akhirnya tidak bisa membayar. Bukankah ini akan sangat memalukan.


***


Di lain pihak, di sebuah ruangan meeting, terlihat Rasyid sedang bersitegang dengan seseorang. Siapa lagi kalau bukan dengan Horison. Pria bajingan yang berani mengincar istrinya.


Rasyid mengertakkan giginya, emosi mulai memuncak. Mungkin, sebelum Yoga datang, Horison telah membuat sang big bos nya marah.


"Pria brengsek ini berani sekali dia menawar istriku. Cari mati dia!" ucap Rasyid marah.


"Aku tidak meminta selamanya, aku hanya meminta semalam saja, tidak lebih, oke!" ucap Horison tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Brengsek, sampai matipun aku tidak akan mengizinkanmu melihat istriku, apa lagi menyentuhnya, camkan itu!" balas Rasyid kesal. Ternyataa di samping kejam, Horison juga terkenal maniak s*x.


"Astaga! Berapa sih uang yang kamu mau. Aku bisa kasih apapun yang kamu mau, please! Hanya semalam!" jawab Horison lagi.

__ADS_1


Rasyid mengepalkan tangannya kesal. Ingin sekali ia mengunus senjatanya dan meledakkan kepala pria botak itu di sini.


Andai tidak ada Yoga, mungkin Rasyid sudah menghabisi orang-orang bodoh yang ada di hadapannya ini.


"Tidak, Bos! Sebaiknya kita pergi. Jika tidak, maka sesuatu yang tidak kita inginkan pasti terjadi. Biar pria botak ini aku yang urus," ucap Yoga, mencoba menenangkan sang atasan.


Beruntung Rasyid mau menuruti apa yang ia katakan. Percuma berdiskusi dengan seseorang yang tidak punya otak ini.


"Jika kamu atau anak buahmu berani menginjakkan kaki, seratus meter dari tempat istriku berada, maka lihat saja nanti, seluruh kerajaan bisnismu akan aku hancur kan. Ingat itu baik-baik!" ancam Rasyid lagi.


Horison diam. Menatap marah pada Rasyid. Karena dia tahu bagaimana Rasyid di dunia bisnis. Pria itu memang tidak pernah menyentuh bisnis orang lain tanpa alasan. Sayangnya, kini dirinyalah yang berani membuat gara-gara dengan macam itu. Sebenarnya Horison merinding. Namun juga penasaran dengan Nadia.


"Urus pria ini untukku, pastikan dia tidak melanjutan tujuannya. Jika perlu, buat ibu tiri istriku diam. Seret tidak mempan, seret dia di hadapanku. Biar aku sendiri yang membuatnya diam!" pinta Rasyid. Kemudian, tanpa melanjutkan perdebatan dengan pria gila itu.


Sesuai arahan dan permintaan Yoga, akhirnya Rasyid memutuskan untuk meninggalkan ruangan yang membuatnya gerah ini.


***


Di lain pihak, Zarin merasa khawatir dengan asisten pribadinya. Mengingat saat keluar rumah, gadis itu sama sekali tidak membawa uang sepeser pun.


Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan gadis itu? Bagaimana jika dia kehabisan bensin? Atau tidak bisa membayar tol mungkin?


Mengingat semua uang dan beberapa kartu ATM milik gadis itu, telah ia sita!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2