
"Vi, buka pintunya!" pinta pria itu sembari mengetuk pintu kaca mobil Violeta.
Di dalam mobil, Violeta masih diam membisu. Terkejut dengan kedatangan pria yang sebenarnya tidak ia harapkan. Namun ia pikirkan. Ih bagaimana sih? Entahlah, bagaimana itu, hanya Violeta lah yang bisa memahaminya.
"Vi, buka... aku tau kamu ada di dalam! Kamu kenapa, Vi, ada masalah apa?" tanya Yoga, masih berusaha mengetuk pintu kaca itu. Jujur, melihat mobil milik mantan kekasihnya itu berada di jalan sepi seperti ini membuatnya khawatir. Di samping itu, hujan juga salah satu alasan Yoga khawatir pada gadis ini.
Melihat Yoga tak jua pergi, Vio pun membuka pelan kaca jendelanya. Lalu ia pun bertanya, "Ada apa?"
"Astaga, Vi! Kenapa kamu bisa sesantai ini berada di jalanan sepi seperti ini. Sendirian lagi. Hujan pula. Kamu ngapain berhenti di tempat seperti ini? Hujan-hujan lagi. Kalo ada apa apa sama kamu, gimana? Kamu tu kenapa sih Vi, selalu bikin orang lain khawatir?" cecar Yoga panjang lembar.
"Em, aku nggak pa-pa, kok. Kamu tinggalin aku aja. Bener aku nggak pa-pa," jawab Violeta, masih berusaha menutupi apa yang terjadi padanya.
"Nggak pa-pa kenapa nggak jalan. Udah sekarang tutup pintu. Lalu jalan, aku ada di belakang kamu. Cepat keburu ada badai. Hujan makin lebat lo, Vi!" pinta Yoga.
Tak menjawab ucapan itu dengan kata-kata, Violeta pun mengangguk dan menutup kembali kaca jendelanya. Sedangkan Yoga kembali ke mobilnya.
Lima menit berlalu, mobil Violeta tak juga melaju, Yoga pun curiga. Pasti terjadi sesuatu dengan mantan kekasihnya itu. Yoga pun memutuskan untuk mendatangi gadis itu lagi
Yoga kembali mengetuk pintu. Violeta pun membuka kaca jendela itu lagi. "Ya, kenapa?" tanya Violeta.
"Iya kenapa bagaimana sih, Vi? Kenapa nggak jalan? Kamu lagi nunggu seseorang? Lagi ada janji sama orang di sini?" tanya Yoga, kali ini sedikit emosi.
"Nggak! Aku lagi nggak ada janji. Aku nggak ada pa-pa dan nggak lagi kenapa-napa, Ga. Sungguh. Kamu tinggalin aja, aku nggak pa-pa kok. Beneran," jawab gadis ini lagi.
__ADS_1
Namun, Yoga yang sudah hafal dengan sikap tertutup Violeta, tentu saja tak semudah itu percaya. Yoga pun meminta Violeta membuka pintu mobilnya.
"Aku nggak pa-pa, Ga," ucap Vio, masih berusaha menolak pria itu.
"Aku nggak percaya, Vi. Aku tau kamu. Ayo buka pintu mobil. Mobilmu mogok kah?" tanya Yoga.
Violeta diam. Lalu sedikit mencuri pandang ke arah Yoga. Dari situ, Yoga paham jika mobil mantan kekasihnya ini bermasalah.
"Oke, buka penutup mesin, coba aku bantu lihat," pinta Yoga.
"Emm, nggak usah, Ga. Nggak ada masalah kok sama mesinnya, tapi itu... anu... " Violeta terlihat ragu.
"Itu anu kenapa sih, Vi? Hemm, coba bilang!"
"Bensinnya habis, Ga. Maaf," jawab Violeta gugup, malu.
Yoga menatap Violeta dengan tatapan ingin menertawakan. Tak banyak kata, pria ini pun langsung tertawa senang.
"Jangan ketawa ah, nggak lucu. Kalo kamu nggak bantu ya udah. Sana pergi!" usir Violeta kesal.
"Sorry sorry, bukan aku nggak mau bantu. Cuma lucu aja. Kenapa kamu nggak teliti sih, Vi. Kayaknya masalah beginian bukan kamu banget deh. Astaga, Vio Vio!" ucap Yoga, masih setia menemani mantan kekasihnya itu tepat di samping mobil gadis itu.
"Kamu nggak tau apa-apa tentangku, sebaiknya kamu pergi aja sana. Aku bisa kok sendiri," ucap Violeta, kesal.
__ADS_1
"Oke, sorry. Sorry banget. Maaf ya, Vi. Maafkan aku. Kamu bener, aku nggak tau apa-apa soal kamu. Dan aku juga nggak mau tau apapun tentangmu. Tapi kali ini, kamu kesusahan, sebagai sesama manusia, aku wajib bantu. Apa lagi kita kan pernah jadi teman, Vi. Masak iya, mantan teman tutup mata ketika mantan temen itu kesusahan," ucap Yoga, meledek. Dan Violeta tahu jika saat ini Yoga sedang menertawakan kesusahannya. Mengolok-olok keadaannya saat ini.
"Terima kasih atas kebaikan anda, Bapak Yoga. Tapi maaf, saya tidak bisa menerima bantuan anda. Jadi silakan anda tinggalin saya. Insya Allah saya akan baik-baik saja," tolak Vio kekeh. Berusaha mempertahankan harga dirinya.
Yoga yang merasa ditolak, tentu saja ia malah tertawa, "Oke Ibu Violeta Anastasya, dengan senang hati saya akan ninggalin anda. Semoga anda aman di sini, selamat siang!" balas Yoga kesal. Lalu ia pun melangkah meninggalkan Violeta yang masih kekeh dengan pendiriannya.
Yoga masuk ke dalam mobil. Menyalakan mobilnya. Namun ketika ia hendak menginjak pedal gasnya, di sudut hati yang terdalam, ada rasa tak tega meninggalkan gadis itu.
Seburuk apapun Vio di masa lalu, gadis itu tetap pernah memberinya bahagia, pernah memberinya rasa indah. Cinta juga pernah ada. Bahkan membara tanpa diminta di antara mereka. Tidakkah ada sedikit rasa iba yang tersisa di sana.
Iba meronta, jiwa pemaksa pun hadir seketika. Yoga mematikan kembali mesin mobilnya. Lalu tanpa banyak bicara, ia pun langsung mendatangi mobil Violeta. Membuka paksa pintu mobil itu. Membuat wanita yang ada di dalam mobil tersebut pun terkejut.
Yoga mengambil tas tangan Vio dan menentengnya. Kemudian Yoga memutar kembali tubuhnya. Membuka pintu mobil di mana Violeta berada, tentu saja aksi Yoga menuai protes Violeta.
"Ada apa?" tanya Violeta, bingung.
Yoga tak menjawab, ia langsung mencabut kunci mobil dan memaksa Violeta turun dari mobil. Menggandeng wanita itu dan memaksanya duduk di kursi penumpang.
Tanpa banyak bicara, Yoga langsung masuk ke dalam mobil. Memakaikan Violeta seatbelt. Lalu, masih dalam diam, Yoga menyalakan mobil dan melajukan kendarannya.
Violeta tak berani protes. Karena ia tahu, bahwa saat ini Yoga dalam keadaan marah. Vio sangat memahami itu. Dan benar saja, dari tatapan mata pria arogan itu, dia memang sedang marah.
Siapa yang lebih paham tentangmu dari aku, Ga? Aku bisa memahamimu tanpa melihatmu. Asal kamu tau itu, gumam hati Violeta.
__ADS_1
Kamu tu nggak pernah bisa ngertiin aku, Vi. Asal kamu tau, aku tu masih sayang sama kamu, Vi. Aku nggak pernah bisa lihat kamu menderita, kamu tau nggak? Aku nggak bisa lihat kamu nangis Vi. Tapi kenapa kamu tega banget bermain hati di belakangmu. Tidakkah kamu lihat, bahwa aku serius denganmu, gumam batin Yoga.
Bersambung...