
Rasyid sama sekali tak mau mengeluarkan sepatah katapun untuk membalas apa yang Nadin ucapkan. Pria itu tetap diam tanpa kata. Hanya menikmatinya kata demi kata yang keluar dari mulut wanita yang ia rindukan saat ini.
"Aku nggak akan marah soal keteledoran kamu ini, Yang. Aku mohon, pikirkanlah sekali lagi. Kita menikah memang dijodohkan. Tapi aku nggak ada niat buat menghianati kamu apa lagi ninggalin kamu. Kalo aku ada niat buat ninggalin kamu atau nipu kamu, mana mungkin aku nyerahin jiwa raga ku ke kamu. Please, pulanglah... kita bicarakan ini baik-baik. Hemmm!" pinta Nadin lagi.
Rasyid masih diam seribu bahasa. Namun, Nadin mendengar suara isak tangis pria itu. Nadin yakin jika saat ini sangat suami sedang berada dalam dilema. Yang artinya Rasyid membutuhkan kehadiran dan pelukkannya.
"Katakan padaku, di mana kamu berada saat ini. Biar aku ke sana. Izinkan aku membuktikan padamu bahwa aku sangat mencintaimu. Cintaku tulus padamu Rasyid. Aku nggak akan menyakitimu, demi Tuhan," ucap Nadin lagi, berusaha terus menyakinkan. Berusaha membuka hati pria itu. Agar semuanya kembali menjadi baik-baik saja. Nadin tak ingin berpisah dari Rasyid. Demi apapun. Nadin tak mau.
"Yang, dengerin aku... kita sudah memulai mengikat hati kita dengan bismillah. kamu sendiri yang bilang malam itu mau menjadikanku bidadari surga. Lalu apa ini? kamu ingin membuangku, kamu kejam, Yang. Sumpah!" ucap Nadin lagi.
Rasyid masih tak mengeluarkan sepatah katapun untuk membalas ucapan sangat istri. Justru yang kembali terdengar hanyalah isak tangis Rasyid pecah di sana. Hingga dia tak sanggup lagi mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Nadin.
__ADS_1
Rasyid memutus panggilan telpon itu sepihak. Tanpa berucap salam apa lagi pesan. Pria itu bahkan membanting ponselnya. Nyatanya ia tak bisa melawan keinginan hatinya untuk tidak merindukan Nadin. Nyatanya keinginan pikirannya untuk berpisah ditolak keras oleh hatinya. Nyatanya, saat ini ia begitu merindukan wanita itu.
Jika boleh memilih, Rasyid akan memilih baku hantam dengan preman-preman sialan di banding harus terbelenggu rindu. Sungguh, sakit sangat sakit. Otak Rasyid serasa ingin meledak ketika rindu mengepungnya. Nyatanya ia tak bisa hidup tanpa Nadin. Dadanya sesak sangat sesak.
Namun, bayangan ketika Yoga mengatakan bahwa papanya adalah ayah Xian, ini membuat pria ini enggan menengok kebelakang.
Rasyid memilih sakit sekarang. Memilih kehilangan sekarang dari pada nanti terlanjur cinta, terlanjur sayang, namun Nadin malah meninggalkannya, mengianatinya. Bukankah itu akan lebih menyakitkan.
Ya, ini adalah ketakutan yang saat ini Rasyid rasakan.
Nadin tak bisa marah apa lagi menyalahkan keadaan. Dengan keteguhan hatinya, wanita cantik ini pun mengambil keputusan yang mungkin akan dianggap bodoh oleh semua orang. Namun, mau bagaimana, Nadin sangat mencintai Rasyid apapun yang terjadi
__ADS_1
"Bapak-bapak boleh meninggalkan rumah saya dan tolong katakan pada pria bodoh itu, katakan padanya untuk bersikap gentel. Tanyakan padanya, apa tujuannya menikahiku. Kalo tujuannya menikahiku karena yakin mengambil tanggung jawab karena ku, maka suruh dia pulang. Tapi jika dia hanya ingin main-main, aku akan menyetujui perceraian ini. Namun, syaratnya tetap sama. Aku mau dia datang ke sini. Ke hadapanku. Jika itu tidak terjadi, sampai matipun aku nggak akan pernah menandatangani surat perceraian itu. Semoga bapak-bapak paham. Oiya, satu lagi... katakan pada pria bodoh itu, bahwa aku menunggunya di Jakarta. Mungkin besok aku kembali. Suruh dia ke sana!" ucap Nadin panjang lebar.
Kedua orang itu hanya saling menatap. Heran dengan ketegasan wanita yang dinikahi oleh klien tnya ini. Bagaimana tidak? tunjangan yang diberikan padahal tidak main-main. Ada rumah oma Zarin yang ia beli dari lelang bank, dua apartemen, dua mobil, satu kapal pesiar dan uang tunai sebesar dua miliyar. Tapi wanita itu dengan tegas menolak.
"Ba-baik, Nyonya. Tapi mohon maaf, penolakan anda ini karena tunjangan nya kurang apa bagaimana? Soalnya Pak Rasyid tanya, apa masalah anda sehingga tidak mau menandatangani surat cerai ini?" tanya salah satu pengacara itu.
Nadin tersenyum meremehkan, ingin sekali ia mendendang kedua pria menjengkelkan ini. Sebab mereka mengajukan pertanyaan yang menurutnya sangat bodoh.
"Coba kalian pikir, Rasyid adalah pria kaya raya. Siapa yang mau kehilangan pria seperti itu. Bukankah apa yang dia berikan padaku tak sepadan dengan apa yang dia lakukan padaku. Dia sudah membuatku menangis, maka dia sendiri yang harus menyembuhkan lukaku. Hartanya sama sekali tak bisa menyentuh luka itu. Apa lagi menyembuhkan. Paham kalian?" lawan Nadin kesal.
"Oke, kami mohon maaf soal itu. Kami akan segera diskusikan ini pada beliau," jawab pria itu.
__ADS_1
Nadin menganggukan kepalanya. Menyetujui apa yang dikatakan oleh para pengacara tersebut. Tapi Nadin berjanji dalam hati, ia tak akan tinggal diam. Ia akan tetap mempertahankan rumah tangga ini apapun yang terjadi.
Bersambung...