Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Jealous


__ADS_3

Singapore...


Rasyid tertawa senang melihat video terakhir yang dikirim oleh Mita. Video yang menunjukkan bagaimana Nadin uring-uringan menunggu kabarnya.


Nadin terlihat begitu manis dan menggemaskan. Apa lagi ketika menyebut dirinya suami menyebalkan. "Katanya nggak cinta, kok dicariin?" ledek Rasyid sembari tersenyum senang. Beberapa kali ia mengigit jari-jarinya. Menahan senyum dan tawa yang nyatanya saat ini menyerang sanubari nya.


"Aku nggak akan kasih kabar apapun ke kamu, Nad. Biar kamu makin klimpungan nahan rindu. Emang enak dijerat rindu!" ucap Rasyid senang.


Berberapa detik kemudian, Mita kembali mengirim pesan. "Maaf, Pak! Saya baru saja dapat email, bahwa besok owner perusahan yang menginginkan tebu kita, minta bertemu!"


"Em, kamu minta Yoga aja yang pergi." balas Rasyid.


"Pak Yoga ada rapat penting ke Samarinda."


"Ya udah, kamu yang pergi. Aku nggak bisa!"


"Lalu Nona?"


"Besok sebelum kamu berangkat, aku udah di rumah. Tenang aja."


"Oke!"


"Apa dia sudah tidur?" tanya Rasyid lagi.


"Belum, Pak. Sepertinya masih curhat sama nona Vio," balas Mita.


"Vio? Siapa Vio?" tulis Rasyid lagi.


"Sepertinya pegawai Nona, datang dari Jakarta. Tadi dia dateng dianter pak Yoga sih!"


"Oh, Vio yang itu. Ya udah, kamu istirahat. Pastikan seluruh pintu dan jendela sudah terkunci rapat. Selamat malam!"

__ADS_1


"Malam, Pak. Terima kasih!"


Tak ada pesan lagi, namun perasaan indah yang dirasakan Rasyid seakan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Sangking bahagianya, netra pria tampan ini sama sekali enggan melepaskan perhatiannya dari foto-foto dan video-video manis sang istri yang di kirim asisten pribadinya kepadanya. Rasyid terlihat begitu bersemangat sekarang. Apa pagi, Xian tidak keberatan jika dia memiliki istri, meskipun itu bukan ibu kandungnya.


***


Malam semakin larut. Dingin pun terus merambat, merasuk ke dalam tulang sum-sum mereka. Namun Nadin masih belum mau tidur. Ia masih saja gelisah dan mengumpat kesal pada suaminya yang sengaja tidak memberinya kabar itu.


"Sudahlah Nona, sebaiknya anda tidur. Besok kalo tuan muda pulang, dimarahin saja. Biar kapok. Nggak kebiasaan begitu!" ucap Violeta.


"Kamu benar Nona Vio. Pria jelek itu memang pantes diomelin. Berani sekali dia menikahiku, tapi tidak menganggapku. Dia pikir siapa dia?" balas Nadin kesal.


Violeta tersenyum, lalu timbullah semangat dalam dirinya untuk memancing sang Nona, agar mau pengakui perasaannya pada suami tampannya itu.


"Sebenarnya tuan muda itu tampan, hanya saja pekerjaanya tidak memenuhi standar. Iya kan Nona?" pancing Vio.


"Nggak! Siapa bilang? Aku sama sekali nggak mempermasalahkan pekerjaan dia. Bener! Cuma aku kesel aja sama dia, bisa-bisanya menyepelekan aku." Nadin terlihat sedih.


"Tertarik? ya nggak lah. Mana ada?"


"Biasanya, setau saya ni Non ya, kalo yang butuh perhatian, butuh dikabari, butuh diprioritaskan, itu orang-orang yang memiliki rasa. Jadi mustahil jika nggak ada rasa, tapi minta diprioritaskan. Nggak mungkinkan?" ucap Violeta.


"Begitulah? Jadi menurutmu aku suka sama jerapah jelek itu?" tanya Nadin, serius.


"Bisa jadi, Non. Emmm.. coba aku tanya, Non kalo deket tuan muda gimana? Degdegan nggak. Kek salah tingkah gitu nggak?"


"Nggak tau ah! Pokoknya aku nggak suka sama jerapah jelek itu. Aku hanya mau dia nganggep aku ya istrinya. Pasangannya. Dianggap ada. Dikasih kabar. Udah gitu aja. Jadi kami nggak ada istilah suka-sukaan atau cinta-cintaan. Karena itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Ya, kami seperti itu!" tolak Nadin. Masih bersikeras enggan mengakui apa yang ia rasakan.


"Oke! Baiklah kalo begitu. Pembicaraan kita selesai Nona. Sebaiknya saya tidur sebab besok harus kembali ke Jakarta. Saya nggak bisa ninggalin ibu nyonya lama-lama. Anda tau kan bagaimana ibu nyonya kalo marah? Hanya saya yang bisa meng-handle beliau." Violeta kembali merebahkan tubuhnya ke sofa. Lalu memejamkan mata. Sedangkan Nadin masih sibuk dengan kemarahannya pada Rasyid.

__ADS_1


Baru dua detik Violeta hendak memejamkan mata, ponselnya berdering. Dengan cepat ia pun meraih ponsel itu.


Di sana tertera nama pria itu. Pria yang memberinya bahagia hari ini.


"Assalamu'alaikum... " sambut Violeta.


"Waalaikumsalam, udah bobo ya," balas pria itu.


"Belum sih, masih nemenin nona ngobrol. Kamu udah bobo?"


"Belum! Sepertinya aku butuh temen, biar bisa bobo," jawab Yoga.


"Ish, mau model temen kek gimana? Kamu kan tampan, kaya, mapan, tinggal pilih lah!" jawab Violeta dengan senyum manisnya.


"Aku maunya sama kamu, boleh kan?"


"Halalin dulu!" canda Violeta.


"Bener nih, mau?" balas Yoga.


"Ihhhh, apaan sih? Canda doang kali. Iya kali bapak mau sama saya?"


"Mau lah! Kan, aku masih sayang sama kamu. Jujur, aku gelisah Vi. Aku ingin ketemu kamu terus. Gimana ni?" ucap Yoga, serius.


"Ya nggak tau. Mana aku tau! Kan aku nggak ngapa-ngapain kamu," balas Violeta l, tersenyum malu-malu.


"Siapa bilang kamu nggak ngapa-ngapain aku, aku yakin kamu udah jampi-jampi aku, sampai aku pengen ketemu kamu terus kek gini. Kita nikah yuk Vi!" ajak Yoga.


"Nikah.... nikah ya? Kamu jangan becanda lah Ga?" pinta Violeta.


"Nggak, aku nggak becanda. Aku serius, Vi. Sejak kita putus sampai sekarang, aku nggak bisa menjalin kasih dengan yang lain. Entahlah, rasanya hatiku masih menanyakanmu, Vi. Aku sudah mencoba nggak peduli sama kamu. Tapi nyatanya, aku gelisah Vi. Jujur, hatiku bahagia ketika bisa melihatmu lagi. Demi Tuhan, Vi!" ucap Yoga serius.

__ADS_1


Violeta tersenyum bahagia. Hatinya berbunga-bunga.Ingin rasanya ia melincat-loncat sekarang. Ingin tertawa tapi takut Yoga dengar. Alhasil, ia hanya terus tersenyum sambil mengigit selimut yang ia pakai. Sayangnya kebahagiaan Violeta malah membakar hati seseorang. Wanita cantik itu makin kesal. Sebab Violeta seakan memamerkan kebahagiaannya dan mengolok-olok hatinya yang sedang merindu saat ini.


Bersambung...


__ADS_2