Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Memberi Pelajaran


__ADS_3

Nadin berusaha kuat ketika melihat kedua jenazah kedua orang yang disayanginya itu dimasukkan ke dalam liang lahat. Anton dan Zarin dimakamkan di tempat yang sama. Malam mereka berdampingan dengan makan almarhum ibunda Nadin.


"Sabar, ya," bisik Rasyid, masih setia menjaga wanitanya itu, tentu saja agar tidak tumbang di tempat.


Nadin mengangguk.


Rasyid menarik lembut kepala sang istri. Membawa wanita cantik itu ke dalam dekapannya. Di dalam dekapan itu, kembali Nadin mengeluarkan tangisnya. Rasanya, apa yang terjadi padanya saat seperti mimpi. Namun, mimpi yang menyakitkan.


"Apakah setelah ini kamu bakalan ninggalin aku?" tanya Nadin, mengingat orang yang menginginkan pernikahan ini telah tiada.


"Nggak lah, Yang. Sudah aku bilang, aku balakan jagain kamu. Sampai kapanpun. Sampai kita menua bersama," jawab Rasyid, sungguh-sungguh.


"Benarkah?" tanya Nadin, memastikannya.


"Tentu saja, Honey. Bukankah aku sudah katakan, bahwa pernikahan kita bukan mainan. Meskipun ada perjanjian di antara kita, tapi aku tidak peduli dengan perjanjian itu. Kamu milikku dan aku akan selalu menggenggam milikku. Percayalah, aku akan selalu menjagamu," jawab Rasyid.


Nadin diam. Terhanyut dalam ucapan Rasyid yang terdengar begitu menyejukkan di kalbunya. Nadin berharap, ucapan itu adalah kesungguhan Rasyid menjaga hubungan mereka.


***


Selepas pemakaman, Rasyid meminta salah satu asisten rumah tangga di sana untuk menemani Nadin di kamar pribadi wanita itu. Sedangkan dirinya pamit sebentar. Karena ada urusan.


"Telpon aku jika ada apa-apa, heemm," ucap Rasyid sembari mengelus kening sang istri, lalu menatapnya mesra.


"Perginya jangan lama-lama," balas Nadin, kali ini ia lebih berani mengutarakan apa yang ia inginkan.


Rasyid tersenyum. Berharap ini adalah pertanda baik pada hubungan mereka.

__ADS_1


"Baiklah, Sayang. Aku hanya memenuhi panggilan polisi. Setelah itu, aku janji bakalan langsung pulang. Hemm," jawab Rasyid, lembut.


Nadin mengangguk sembari tersenyum ikhlas. Melihat senyum dan tatapan lembut itu, ingin sekali Rasyid mencium bibir pink menggemaskan itu. Namun sekali lagi, keinginannya itu telah terganjal janji. Rasyid tak ingin membuat Nadin kecewa.


Padahal, andai Rasyid tahu, Nadin ingin sekali dicium oleh suaminya itu. Entahlah, mengapa Nadin jadi ikutan mesum seperti pria itu.


"Istirahatlah, aku nggak lama kok perginya. Kali ini, aku pasti bakalan ngabarin kamu kalo udah nyampek," ucap Rasyid.


"Iya, makasih ya," jawab Nadin lembut.


Mereka berdua saling melempar senyum. Senyum malu-malu. Seperti sepasang anak muda yang sedang jatuh cinta. Ya, Nadin dan Rasyid seperti sedang terserang virus cinta. Sampai mereka tak menyadari, bahwa tangan mereka saling menggengam. Seakan enggan berpisah.


"Jaga dirimu," pinta Nadin ketika Rasyid beranjak dari tempat duduknya.


"Iya, Sayang, aku pasti akan menjaga diriku, untukmu," jawab Rasyid. Nadin mengangguk, menyetujui. Setelah itu, Rasyid mulai meninggalkan kamar Nadin.


***


"Ayo, Ga," ajak Rasyid, Pura-pura santai.


"Ayo. Gimana istrimu?"


"Dia udah tenang. Udah mendingan lah, Ga," jawab Rasyid.


"Syukur lah," jawab Yoga, senang.


"Saya titip Nadin sebentar ya, Nona Vio. Saya pergi sebentar sama Yoga!" pinta Rasyid.

__ADS_1


"Baik, saya akan menjaga Nona dengan baik." Violeta tersenyum.


"Terima kasih, kami pergi sebentar ya," ucap Rasyid, lalu ia pun melangkah keluar. Sedangkan Yoga, ia tak ingin pergi tanpa meninggalkan kesan terbaik untuk kekasihnya.


Dengan penuh cinta, ia pun memeluk kekasihnya itu. Lalu memberikan kecupan hangat di kening Violeta. Sungguh, saat ini, detik ini, Violeta tak ingin ditinggal oleh pria yang kembali mengisi hati dan hari-harinya. Violeta masih ingin bersama Yoga.


"Jangan sedih, nanti aku kembali ke sini, oke!" ucap Yoga, dengan senyum tampannya.


Violeta memgangguk, lalu ia pun tersenyum. Setelah itu, Yoga pun melangkah meninggalkan Violeta.


***


Mobil yang di kendarai Yoga akhirnya meninggalkan pelataran rumah Nadin. Rasyid langsung mengeluarkan ponselnya dan memeriksa pesan yang masuk dari orang-orang yang ia percaya untuk menjaga wanita yang menjadi akar masalah yang kini sedang menyerang wanita yang ia cintai. Rasyid terlihat tak sabar ingin segera memberi pelajaran pada wanita itu.


"Bos, aku ingin kasih tahu sesuatu," ucap Yoga.


"Oke, kasih tau aja," jawab Rasyid santai.


"Tadi, pas aku ngobrol sama Vio, dia cerita sesuatu tentang ibu tiri istrimu, Bos!" jawab Yoga.


"Cerita sesuatu, apa itu?"


"Wanita itu berbuat jahat pada keluarga Nona, bukan tanpa alasan, Bos. Menurut Vio, wanita itu sakit hati karena ibunya dibunuh suami nyonya Zarin," ucap Yoga.


"Terus! Menurut kamu, kabar itu bener apa nggak?" tanya Rasyid lagi.


"Entahlah, menurut Vio, dulu, wanita yang menjadi korban pembunuhan itu, sebenarnya adalah Kakak dari ibunya Vio. Yang artinya ibu tiri nona Nadin itu adalah sepupu dari Vio, Bos. Menurut pacarku juga, ibunya, suami nyonya Zarin dan juga ibu dari wanita itu, terlibat cinta segitiga. Tapi si opa ini, lebih memilih ibunya Vio, sebab di antara mereka sudah lahir Vio. Terus, wanita itu murka. Ia pun mengancam si opa, hendak melaporkan perselingkuhan ini pada oma Zarin. Si opa gelap mata, lalu terjadilah pembunuhan itu," jawab Yoga, sesuai cerita yang ia dengar dari kekasihnya.

__ADS_1


Rasyid manggut-manggut, mengerti. Namun, ia tak peduli dengan cerita itu. Baginya, siapapun yang berani mengusik istrinya, membuat wanitanya tertekan apa lagi menangis, maka wajib dikasih pelajaran.


Bersambung...


__ADS_2