Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Rahasia Rasyid (2)


__ADS_3

Pagi itu, hujan datang dengan derasnya. Petir menyambar bak ingin menunjukkan pesona yang dia miliki. Angin pun tak mau kalah. Ia berembus membawa pesan sakit yang mau tak mau harus Rasyid terima. Sebuah pesan terakhir yang menghancurkan hatinya. Pesan dari sang kekasih hati, yang pada akhirnya menjadi luka terdalam di hidupnya.


Setelah hampir seminggu ia membujuk nenek dan kakeknya untuk mengizinkan dirinya menikahi sang kekasih, Rasyid bisa bernapas lega. Sang kakek akhirnya merestui. Sedangkan sang nenek masih terlihat berat melepaskan dirinya berumah tangga di usia muda.


"Rasyid yakin, Nek. Rasyid pasti bisa menjadi imam yang baik," bujuk Rasyid kala itu.


"Masalahnya bukan di kamu, Syid. Tapi pada keluarga kekasihmu itu. Apa mereka merestui pernikahan ini?" jawab sang nenek.


Rasyid diam. Karena ia tak bisa memberikan kepastian atas kekhawatiran itu.


"Nanti, setelah kami menikah, Rasyid akan berusaha menyakinkan mereka, Nek. Kalo Rasyid pasti bisa bikin Anisa bahagia. Seperti janji Rasyid pada almarhum ibunya," jawab Rasyid.


"Baik, jika kamu memaksa. Yang penting sebelum kalian menikah, jangan sampai melakukan hal yang tidak diperbolehkan oleh kepercayaan kita, Syid. Itu nggak baik dan nenek nggak akan maafin kamu kalo kamu sampai berani berbuat sejauh itu."


Deg...


Pesan itu lagi.


Rasyid tidak mampu menjawab. Kakinya gemetar. Bagaimana tidak? Sebulan yang lalu, Anisa baru saja melahirkan bayi mereka. Inilah alasan, kenapa Rasyid belum berani berkata jujur pada neneknya. Di samping ia belum lulus kuliah, ia juga takut, apa yang ia lakukan akan membuat sang nenek kecewa dan murka.


Di pihak Anisa sendiri, kenapa ia tidak mau berterus terang, karena Anisa juga takut, ayahnya akan membunuhnya jika sampai tahu, dia tak bisa menjaga marwah keluarga, dengan hamil di luar nikah.

__ADS_1


Usia muda, ketakutan atas kesalahan yang mereka lakukan, akhirnya membawa Rasyid dan Anisa pada sebuah kesepakatan untuk menyembunyikan bayi itu dari keluarga masing-masing. Meski begitu, mereka berjanji akan mengatakan kebenaran ini, setelah pesta pernikahan mereka digelar.


Sayangnya, jalan mereka tak semulus rencana.


Tepat satu jam sebelum akad nikah di gelar, Anisa mengirimkan sebuah pesan pada Rasyid, lewat sahabat karibnya, si Yoga. Pria yang kini menjadi asisten pribadi Rasyid.


Dalam pesan tersebut, Anisa menulis...


*Teruntuk dirimu yang aku sayangi...


Maafkan aku, Syid. Aku nggak bisa nerusin pernikahan ini. Ayahku sudah tau rencana kita. Ayahku marah, Syid. Dia tak mengizinkanku menikah denganmu. Tanpa aku jelaskan, kamu pasti udah tau alasannya kan?


Maafkan aku*....


Bak disambar petir di siang bolong. Bagaimana tidak? Rasyid begitu mencintai Anisa dan Xian. Tapi, Anisa begitu tega mematahkan harapannya untuk hidup bersama. Di tambah, dengan tanpa perasaan, Anisa tega menyerahkan bayi mereka ke panti. Bukankah itu perbuatan biadab.


Satu lagi yang membuat Rasyid murka. Meskipun ia belum lulus kuliah, ia sudah siap menjadi seorang suami dan juga ayah untuk bayi mereka.


Namun, perjuangannya untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang ia lakukan, seakan sia-sia. Anisa sama sekali tidak menghargai perjuangan itu.


Rasyid meremas marah kertas itu. Tanpa berpikir panjang, Rasyid pun meminta Yoga untuk membawanya pada bayi yang tak berdosa itu.

__ADS_1


Ia bersumpah akan membesarkan bayi itu dengan keringatnya sendiri dan tidak akan pernah membiarkan Anisa menemuinya. Apa lagi menyentuhnya.


***


Rasyid tersadar dari lamunannya ketika mendengar seseorang mengetuk pintu.


"Yaaa.... sebentar!" sambut Rasyid.


Rasyid membuka pintu.


"Apaan?" tanya Rasyid, seakan lupa bahwa gadis yang ada di depannya ini hendak menjalankan kewajibanan membayar hutang janji kemarin hari.


"Nggak jadi ya?" tanya Nadin.


Seketika Rasyid pun ingat tujuan gadis itu datang ke rumahnya.


"Weh, jadi dong! Masuk-masuk! Akhirnya, aku punya asisten juga. Yang bersih ya, sapu pel semua, lap-lap semua. Jangan lupa, setelah itu setrika bajuku yang ada di jemuran. Tenang... aku bukan majikan yang nggak punya hati, aku pesenin sarapan buat kamu. Oke!" jawab Rasyid, dengan ledekan seperti biasa.


Nadin tak membalas ledekan itu. "Bodo amat!" pikirnya, yang penting baginya, waktu penindasan ini segera berakhir dan ia berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Agar tidak jatuh ke dalam perangkap pria licik ini lagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2