Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Canggung


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, Rasyid merasakan keanehan sikap Yoga. Mungkin sahabatnya itu sudah bisa merasakan bahwa sebenernya dirinya sudah mengetahui apa yang ia lakukan selama ini.


"Kamu kenapa, Ga? Kamu oke kan? atau ada masalah?" tanya Rasyid, mencoba mencairkan suasana.


"A-aku... aku baik, Bos. Tenang aja!" jawab Yoga terbata.


Rasyid manggut-manggut. "Oke, baiklah... Lagi nggak ada masalah kan, sama Vio juga?" tanya Rasyid lagi, memastikan.


"Nggak ada sih, kami baik-baik saja kok. Kamu sama nona gimana? kalian aman kan?" balas Yoga.


"Aman sih, doaka kami ya, semoga cepet di kasih momongan," jawab Rasyid, masih berusaha menutupi apa yang menganggu hatinya.


"Pasti lah, Syid. Aku bakalan do'ain yang terbaik buat kamu. Kita kan sahabat," jawab Yoga sembari terkekeh.


Sahabat ya? Sahabat macam apa yang tega nusuk dari belakang, Ga? bisik Rasyid dalam hati.


Maafkan aku, Syid. Ingin rasanya aku jujur padamu, tapi aku nggak tau, dari mana memulainya, gumam batin Yoga.


Suasana hening sejenak. Menjadi kaku. Tak nyaman dan tidak seperti biasa. Yoga tampak tujuh di depan Rasyid. Sedangkan Rasyid sendiri, pun sama. Meskipun ia berusaha menutupi keresahanya, tetap saja rasa canggung itu tetap ada.


"Oiya, Ga... masalah Horison gimana? Dia mau nglepasin cewek-cewek itu?" tanya Rasyid, mumpung ingat dengan beberapa gadis yang hendak ia selamatkan tapi terjadi kerusuhan waktu itu.


"Udah aman, Bos. Kan kita barter sama wanita rubah itu," jawab Yoga sembari mengetuk-ngetukkan bolpoin di meja kerja Rasyid. Seakan ia mengisyaratkan bahwa hatinya sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Baguslah, biar tau rasa dia. Emang enak dimanfaatin. Itu namanya hukum tabur tuai, Ga. Seneng aku ngliatnya. Apa lagi sekarang Horison sudah nggak ngejar Nadin lagi. Setidaknya istriku aman, kan," ucap Rasyid, dengan senyum tulusnya.


Yoga mengangguk-anggukan kepala. Namun hatinya serasa nyeri. Seperti tertusuk beberpa jarum.


Lalu bagaimana denganku, Syid? Bagaimana aku menamai hukuman yang nantinya aku terima? akankah kamu menamai hukuman yang harus aku jalani, sama dengan hukuman wanita itu? Maafkan aku Syid! gumam Yoga dalam hati.


Merasa suasana semakin tak nyaman, Rasyid pun meminta Yoga kembali ke meja kerjanya. "Sebaiknya kamu kembali ke ruangan ku aja, Ga. Aku mau telpon istriku. Nggak enak kalo kamu ikutan dengerin," canda Rasyid, agar tidak terkesan mengusir.


"Astaga! Kamu benar-benar berubah setelah punya istri, Syid. Sepertinya aku udah nggak ada guna lagi di depan matamu. Baiklah, aku balik kerja. Selamat bersayang-sayangan," ucap Yoga, sembari beranjak dari tempat duduknya.


Sedangkan Rasyid hanya tersenyum sekilas. Sebab ia sendiri tak tahu, bagaimana harus bersikap untuk menghadapi Yoga.


***


Malam pun tiba. Nadin sudah selesai dengan ritial mandinya. Harum semerbak tercium dari tubuh wanita ayu itu. Namun sayang, aroma yang biasanya sangat Rasyid suka itu, kini sama sekali tak bisa membangkitkan gairahnya. Sebab hatinya kacau. Sebab hatinya galau. Terkontaminasi dengan masalah yang saat ini sedang ia hadapi.


"Kenapa, Mas? Perasaan melamun terus deh?" tanya Nadin sembari memeluk sang suami dari belakang.


"Aku lagi ada masalah sedikit, Sayang. Tapi, tak masalah. Ini tidak terlalu besar," jawab Rasyid sembari membalikkan tubuh. Lalu membalas pelukan Nadin dengan dekapan hangat ala suami idaman.


Nadin langsung respek. Dengan penuh kerinduan, ia pun mencium manja bibir sang suami. Rasyid membalas ciuman itu dengan sangat lembut pula. Hingga beberapa detik berlalu, mereka sama-sama larut dalam ciuman panas itu.


Nadin melepaskan ciuman itu. Lalu tersenyum. Senyum penuh kebahagiaan. Karena Nadin yakin, jika hadiah yang baru saja ia persembahkan untuk sang suami, pasti bisa mengurangi beban yang ada untuk saat ini.

__ADS_1


"Apa kamu keberatan jika bercerita denganku?" tanya Nadin, lembut.


"Tidak, Honey. Aku oke," jawab Rasyid. Masih belum mau terbuka dengan Nadin. Karena Rasyid tahu, Nadin dan Violeta sangat dekat. Ia tak mau merusak hubungan keduanya gara-gara masalah antara dirinya dan Yoga.


"Baiklah kalo kamu belum siap cerita. Emm, ngomong-ngomong gimana kerjaan kamu? betah nggak?" tanya Nadin, manja.


"Betah, bosnya cantik, masih muda lagi," canda Rasyid, sengaja membuat sang istri cemburu.


"Iih, nakal... besok resign kalo gitu!" balas Nadin kesal, cembetut.


"Ih, gitu aja cemberut, jelek tau. Cemburu itu nggak baik buat kesehatan jantung. Sini cium," jawab Rasyid, lalu ia pun mengecup gemas bibir istrinya.


"Apapun masalahmu sekarang, aku harap bisa segera selesai. Aku nggak mau kamu sedih-sedih lagi. Kan kita udah janji, bakalan selalu terbuka. Bakalan ngadepin masalah sama-sama," ucap Nadin.


"Iya, Honey.. ih gemes, bawel. Emmm, gimana? Rasyid junior udah hadir belum?" canda Rasyid.


"Ihhh, ya belum. Bikinnya baru berapa kali? Bikin bayi nggak semudah itu bapak. Harus beberapa kali main. Itu pun akunya harus dalam kondisi fit dan subur. Bapak nggak belajar biologi ya. Pasal pembuahan ha? Kalo sekali pakek jadi, itu sih ajaib sih, mu'zizat banget Pak! Aneh bapak ini!" jawab Nadin sembari terkekeh. Sedangkan Rasyid hanya melongo. Bagaimana tidak? Ia dan Anisa baru sekali melakukannya, dan buktinya ada Xian di antara mereka.


Mungkinkah? Ah jangan suudzon Syid! Xian anakmu. Udah titik, nggak boleh diganggu gugat. Oke! ucap Rasyid dalam hati.


Tak ingin keraguan terus mendesak batinnya, Rasyid pun mengajak Nadin masuk ke dalam rumah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2