Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Kecolongan


__ADS_3

Keesokan harinya....


Tanpa curiga, Rasyid pun langsung bersiap dan berangkat bekerja. Mengingat sekarang ia harus meng-handle pekerjaan sendiri, mau tak mau Rasyid harus berangkat lebih pagi, lebih tertip, lebih bersemangat dari biasanya.


Mobil yang hendak membawanya ke kantor sudah siap. Di dekat mobil juga sudah ada seorang wanita cantik yang disinyalir sebagai asisten barunya.


Wanita itu tidak tersenyum. Karena Rasyid tidak suka jika seseorang yang bekerja padanya tersenyum. Apa lagi ketika bekerja. Mereka harus serius dalam segala hal.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa seluruh pegawai Rasyid ketika pria itu melintas.


Dengan sikap angkuh seperti biasa, pria ini pun melintas tanpa menjawab apa lagi melirik sedikitpun ke arah para pegawainya itu.


Ya, Rasyid memang terkenal angkuh pada pegawainya. Sebab ia memang menjaga wibawa. Hanya dengan orang-orang tertentulah dia mau berbincang dan bercanda gurau. Seperti pada Yoga atau pun pada Mita. Karena mereka berdua memang bersahabat sejak lama.


Selepas Rasyid masuk ke dalam mobil, seorang wanita yang kini jadi asisten pribadi pria itu, terlihat kesal dan mengumpat, mengeluarkan sumpah serapah nya.


Lihat papimu, Dek! Angkuh sekali. Minta mommy jitak kepalanya. Biar sadar! gerutu wanita itu kesal.


Seakan sudah paham dengan tata cara kerja mereka, Rasyid pun masuk ke mobil. Setelah itu wanita yang kini jadi asistennya pun duduk di kursi penumpang bagian depan. Lalu sopir yang hendak mengantar mereka pun masuk.


Mobil telah melaju...


Tak ada perbincangan, Rasyid sibuk dengan ponselnya. Sedangkan wanita yang kini jadi sekertaris pribadi Rasyid, menunggu. Menunggu untuk menyampaikan jadwal sang big bos hari ini.


Rasyid telah selesai dengan ponselnya. Lalu ia pun meletakkan ponsel itu di sakunya. Lalu duduk santai menikmati pemandangan kota Jakarta yang sudah lama tak ia nikmati.

__ADS_1


Sang sopir melirik Sang sekertaris baru, seakan memberi kode pada Sang sekertaris untuk menjalankan tugasnya.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Sang sekertaris.


"Hemmm," jawab Rasyid singkat.


Dasar jerapah jelek. Awas aja kamu...


"Perkenalkan nama saya Danis, saya adalah sekertaris baru anda."


"Hemmm," jawab pria itu, masih tetap bersandar santai di jok mobil, menikmati pemandangan pagi yang mulai ramai.


"Maaf Tuan, saya akan membacakan jadwal anda untuk hari ini," ucap Sang sekertaris lagi.


"Hemmm," jawab pria itu lagi.


Sumpahhhh andai nggak ingat pesan Yoga. Sabar Nadin, sabar.


"Pukul tujuh pagi anda harus menghadiri meeting bersama perwakilan PT. Wacana Grup. Pukul sembilan, kita meninjau proyek dan makan siang. Jam satu siang kita ada rapat di hotel Hilton. Jam tiga sore anda harus ada di kantor untuk membicarakan jual beli club milik nyonya Emelda (hemm, Emelda? Ada apa dengan ini? Apa hubungan jerapah jelek ini dengan wanita itu. Sial aku ketinggalan satu berita) . Jam lima sore, anda ada meeting dengan kuasa hukum anda. Jam tujuh malam anda ada meeting dengan... "


"Stooppp!" pekik Rasyid dengan wajah memerah....


Nadin diam sesaat... sepertinya jerapah jelek itu hendak protes.


"Maaf, Tuan! Ada yang salah?" tanya Sang sekertaris.

__ADS_1


"Kau... kau baru lima menit kerja udah segitunya ngatur jadwal ku! Ku dengar nggak ada jeda sedikitpun. Kau gila ya?" ucap Rasyid emosi.


"Maaf Tuan, jadwal yang saya dapat sesuai dengan apa yang saya terima dari sekertaris lama anda," jawab wanita itu tegas.


"Tidak! Kau bohong. Yoga tak penah serapat itu mengatur jadwal ku. Kau ngarang. Sekarang katakan, siapa yang menrimamu kerja di tempat ku?" tanya Rasyid, emosi.


Terang saja, Yoga tak pernah mengatur jadwalnya hingga sepadat ini. Jika Yoga mampu meng-handle, pasti pria itu akan kerjakan sendiri. Lah sekarang? Nikmati kesibukanmu bosq.


"Sesuai keputusan HRD, Tuan!" jawab wanita itu tegas.


"Astaga! Aku bisa gila bekerja denganmu. Kau rapat sekali mengatur jadwalku. Atur ulang, aku nggak mau serapat itu. Pokoknya aku mau yang santai. Dulu sekertaris ku bisa mengatur jadwalku sangat santai dan tidak melulu harus keluar kantor untuk meeting. Sial!" gerutu Rasyid kesal.


Nadin tertawa dalam hati. Ternyata Rasyid tidak bisa bekerja sendiri tanpa Yoga dan Mita. Benar apa yang dikatakan Yoga, jika Rasyid tak suka terlalu sering keluar kantor. Ia hanya akan memeriksa pekerjaan para orang-orang yang kerja padanya di malam hari. Itu sebabnya Rasyid sering begadang. Karena Rasyid lebih suka bekerja di malam hari. Siangnya, dia bisa berkamuflase seperti yang ia inginkan. Menjadi satpam, misalnya.


"Baik Tuan, akan saya kerjakan!" jawab Sang sekertaris. Tak membantah sedikitpun. Karena Nadin sangat tau rahasia Rasyid. Pria itu tak suka dibantah. Meskipun dia salah. Sebab Rasyid memiliki sikap bossy yang sangat tinggi.


Perjalanan dari rumah menuju kantor sangat lancar. Kini mobil yang mengantar mereka pun sampai di depan lobi kantor.


Nadin turun terlebih dahulu. Tentu saja ia harus menjalankan tugas barunya, yaitu membukakan pintu untuk pria angkuh itu.


Nadin berusaha bersikap seprofesional mungkin. Sedangkan Rasyid masih dengan sikap bossy-nya. Cuek, cool dan penuh wibawa.


Sayangnya, sikap arogan yang ia miliki seketika rapuh ketika tahu wajah Sang sekertaris.


Rasyid membuka kaca mata hitamnya. Menatap wanita yang diam membisu dihadapnya itu tanpa kata. Rasyid terlalu shock. Harga dirinya serasa terlempar jauh ke dasar samudra. Nyatanya, Nadin mempunyai banyak akal untuk membuatnya tak berdaya.

__ADS_1


Sungguh, saat ini, jiwa Rasyid merasa sangat tertampar. Wajah berasa panas membara. Bagaimana tidak? Ia sudah mati-matian mencari cara untuk menghindari wanita itu. Ternyata, wanita yang ia kira sudah berlalu jauh dari hidupnya, kini malah menempel bak lintah. Bukankah ini kejutan pagi yang menjengkelkan. Rasyid kecolongan.


Bersambung.


__ADS_2