
Nadin masih mendiamkan pria menjengkelkan ini. Rasanya malas saja melihat Rasyid. Meskipun pria itu mencoba kembali perhatian padanya.
"Mau ini, Yang?" tanya Rasyid, menawarkan udang goreng pada wanita itu.
Nadin menggeleng, lalu menatap judes ke arah pppria itu. Hatinya mengumpat kesal. Nggak usah, yang, yang, ngapain yang, yang... Dasar!!!
"Duh, jangan judes gitu lah... aku kan udah minta maaf, Yang," ucap Rasyid.
Nadin sama sekali enggan menghiraukan ucapan Rasyid yang mengandung rayuan itu. Ia yakin, ucapan itu hanyalah bentuk dari sisi lain pria itu.
Tak ingin terpancing, Nadin pun segera menghabiskan makannya dan mengambil vitamin untuk ibu hamil yang ada di tasnya.
Melihat apa yang dilakukan oleh sang istri, Rasyid pun bertanya, "Kamu sakit, Yang? Obat apa itu?"
Nadin menatap malas pada pria itu. Lalu ia pun memutuskan untuk merapikan kembali vitamin-vitamin itu tanpa mau menjawab pertanyaan Rasyid.
"Yang, aku tanya... kamu sakit? Kenapa mesti minum obat?" tanya Rasyid lagi, kali ini dengan nada suara lebih lembut.
Bukannya menjawab. Nadin malah termenung. Kemudian mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Loh, ditanya kok malah nangis. Kamu kenapa? Bilang lah, biar aku tau," ucap Rasyid.
Baru segini kamu udah kelimpungan. Nggak inget kemarin-kemarin kamu bikin aku lebih gila dari ini.
Nadin menghapus air matanya. Lalu ia pun berkata, "Saya udah kenyang, sebaiknya kita kembali ke kantor. Sebentar lagi rapat anda dimulai. Sebaiknya kita jangan telat."
Rasyid menatap Nadin dengan tatapan ingin sekali mencium wanita itu sekarang juga. Agar si wanita paham, bahwa dia butuh jawaban. Bukan daftar pekerjaan yang menjengjelkan.
"Kamu kenapa sih? Aku kan tanya? Kenapa nggak dijawab?" protes Rasyid.
"Apa yang mesti saya jawab, ha? Sekarang posisi kita berbeda. Kamu adalah atasan saya dan saya bawahan anda. Apapun yang menjadi urusan pribadi saya, itu bukan urusan anda. Jadi anda tidak perlu sok sok an khawatir. Saya baik-baik saja dan terima kasih atas perhatian anda!" jawab Nadin ketus, kemudian ia pun memilih beranjak pergi meninggalkan Rasyid yang tak bisa berucap apapun. Hanya bisa melongo, menatap kepergian Nadin.
Di dalam mobil, Nadin kembali menunjukkan wajah kesal. Apa lagi Rasyid diam-diam meraih tangannya dan mengecupnya pelan. Lalu menaruh tangan itu di dadanya. Namun, itu tak bertahan lama. Nadin membiarkan moment itu hanya berlangsung beberapa detik. Setelah itu, ia menarik kembali tangannya lalu menyimpan baik-baik di bawah tumpukan map. Agar Rasyid tidak semaunya sendiri meraihnya.
"Besok kamu nggak usah kerja, Yang. Di rumah aja. Nanti aku pulang," ucap Rasyid.
Nadin masih membungkam mulutnya.
"Kali ini aku pasti pulang, aku janji, aku pasti pulang. Udah kamu nggak perlu berusaha lagi supaya aku pulang. Aku tau, apa yang kamu lakukan sekarang, karena pengen aku pulang kan?" tanya Rasyid lagi.
__ADS_1
Nadin tak mampu menjawab ucapan itu, karena apa yang dikatakan Rasyid adalah benar. Itu adalah tujuannya menjadi sekertaris pria itu.
"Kamu denger suamimu ngomong nggak, Yang?"
Nadin membetulkan posisi duduknya, lalu ia pun berjawab tegas, "Maaf, saya tidak bisa berhenti. Surat kontrak kerja yang sudah saya tanda tangani adalah komitmen yang harus saya jaga. Appaun yang terjadi saya harus menyelesaikannya. Saya bukan anda, yang bersumpah mau menjaga tapi pada akhirnya ditelantarkan juga."
"Maafkan aku, Yang. Aku nggak nelantarin kamu kok. Buktinya aku masih nyukupin kehidupan kamu."
"Kehidupan secara lahir iya, tapi batin? Bukankah kamu berjanji untuk menjaga keduanya? Lalu ini apa? Kamu menyakitiku, Rasyid. Aku benci kamu." Nadin kembali mengeluarkan air matanya. Membuat Rasyid ikut merasakan betapa perihnya hati kekasih hatinya ini.
"Maafkan aku, Yang. Aku janji nggak akan ceroboh lagi. Aku minta maaf," ucap Rasyid lagi.
Nadin tak menjawab ucapan itu. Rasyid terlambat. Sebelum Nadin memutuskan untuk menjadi sekertarisnya, wanita cantik ini sudah mengupgrade hatinya. Agar tidak gampang terlena. Agar tidak gampang percaya.
Sepertinya, Rasyid harus lebih keras lagi berusaha untuk meluluhkan hati sangat istri.
***
Di lain pihak, dua sejoli itu tidak menyadari, bahwa ada mobil di belakangnya yang bersiap untuk mencelakai Nadin. Ya, target mereka hanya Nadin. Karena bos mereka hanya menginginkan kematian Nadin.
__ADS_1
Bersambung...