Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Rasa


__ADS_3

Mobil yang membawa mereka pun sampai di rumah sakit. Nadin langsung turun dari mobil. Namun sebelum itu, ia berucap terima kasih terlebih dahulu pada Yoga, lalu pada Rasyid.


Setelahnya barulah dia turun.


Rasyid tak mungkin membiarkan gadis itu menghadapi hidupnya seorang diri. Sebelum ia menyusul, tak lupa, ia memberikan pesan terlebih dahulu pada sang asisten.


"Tolong hubungi dokter Bima, katakan padanya, aku butuh bantuannya," ucap Rasyid. (Yang udah baca mantan terindah, pasti tau dong dokter Bima itu siapa?)


"Baik, Bos!" jawab Yoga tanpa banyak bicara.


Selepasnya, Rasyid langsung menyusul Nadin.


"Nad, tunggu!" pinta Rasyid.


Nadin pun menoleh dan menunggu pria itu.


"Oma kamu di ruang apa?"


"VVIP," jawab Nasin singkat.


Dari nada dan juga kecepatan gadis itu menjawab, Rasyid tahu jika saat ini Nadin pasti berada di fase terendahnya.


Rasyid terus mengikuti langkah Nadin. Tanpa menoleh dan berhenti sedikit pun. Ia harus tetap memastikan gadis itu sampai ke tempat tujuan dengan selamat.


Sesampainya ke tempat tujuan, air mata Nadin langsung mengucur tanpa bisa ia tahan. Namun sayang, mereka tidak dapat masuk. Karena orang-orang yang mengejar mereka ada di depan kamar itu.


"Nad, tunggu!" cegah Rasyid.


Nadia menghentikan langkah.


"Ada mereka, Nad. Sial!" ucap Rasyid.

__ADS_1


Tak banyak bicara, Rasyid langsung menarik tangan Nadin dan membawa gadis itu menghindar orang-orang jahat itu.


Nadin dan Rasyid bersembunyi di bawah wastafel rumah sakit. Berdua di bawah tempat sempit itu.


Rasyid menutup pelan pintu lemari yang ada di bawah wastafel itu. Lalu mengintipnya sedikit. Mengintai gerak-gerik para pria berjaket hitam itu.


Rasyid membekap mulut Nadin, agar jangan sampai mengeluarkan suaranya sedikitpun. Nadin tidak menolak. Namun ia menempelkan tangannya, menyentuh tangan Rasyid yang saat ini sedang menutup mulutnya.


Detak jantung yang awalnya biasa saja, kini menggebu luar biasa. Bukan takut tertangkap para preman itu. Tetapi lebih pada posisi mereka saat ini.


Tubuh seakan tak berjarak. Sedangkan jarak antara dua wajah, hanya bisa dihitung beberapa senti saja. Bahkan mereka bisa mencium aroma napas masing-masing.


Di detik berikutnya, mata mereka bertemu. Rasyid menurunkan bekapan tangannya, sebab ia merasa Nadin lebih tenang. Tak ingin membuat gadis itu kembali gugup, ia pun memeluknya.


Dalam pelukan itu, Rasyid bisa merasakan betapa gadis yang ada dalam pelukannya ini sedang merasakan ketakutan luar biasa.


"Sabar ya, Nad," bisik Rasyid.


Nadin tahu, jika Rasyid hanya berusaha melindunginya dari para penjahat jelek itu. Tetapi tak dipungkiri bahwa perasaannya saat ini baper. Menginginkan niat Rasyid berubah. Berubah dari rasa biasa menjadi rasa yang tidak biasa. Seperti karena perhatian yang mengandung cinta mungkin.


"Apa kakimu sakit?" tanya Rasyid.


Nadin mengangguk pelan.


"Semoga mereka cepat pergi." Rasyid semakin mengeratkan pelukannya. Sedangkan Nadin hanya mengikuti alur. Menolak pun tak mungkin.


Rasyid membuka sedikit pintu kecil itu, lalu memgintip sekilas.


"Nad, bukankah itu ibu tirimu?" tanya Rasyid.


"Iya itu wanita bangsa*d itu," jawab Nadin. Emosi, gadis itu hendak keluar dari tempat persembunyian mereka. Namun, dengan cepat Rasyid melarang.

__ADS_1


"Tidak, Nad! Jangan sekarang. Tahan emosimu! Bisa jadi ini adalah jebakan untukmu. Mengerti!" ucap Rasyid tegas.


Nadin berusaha meredam apa yang ada di dalam otak dan hatinya. Bisa jadi apa yang Rasyidkatakan adalah benar. Bisa jadi ini hanyalah jebakan. Agar wanita ular itu bisa segera menemukan keberadaannya.


Hampir tiga puluh menit mereka berada di dibawah kolong lemari wastafel itu. Dengan segala kesusahan yang mereka rasakan. Akhirnya rombongan wanita ular itu pun keluar dari kamar di mana Zarin dirawat.


"Mereka sudah pergi, Nad. Tapi aku pastikan dulu, tunggu ya!" ucap Rasyid. Ia pun langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Yoga. Dan benar saja mereka sudah keluar dari rumah sakit.


"Mereka sudah pergi, Nad. Ayo kita keluar!" ajak Rasyid.


Tak sabar, Nadin pun langsung keluar dari kolong itu. Mungkin karena terburu-buru, kali Nadin terkilir. Sehingga tak mampu menopang tubuhnya, hingga jatuh tepat di palukkan Rasyid.


"Ooeeyyy!" pekik Nadin.


Dengan sigap Rasyid pun menangkap tubuh itu.


"Oh, sorry!" ucap Nadin malu.


"Hati-hati, Nad!"


"Iya, sorry." Nadin mencoba melangkah, meskipun kakinya agak pincang.


Rasyid hendak menbantu, namun Nadin menolak. Ia tak ingin terlalu bergantung pada pria itu. Nadin ingin tetap menjadi Nadin yang tegar, yang mandiri dan bisa melakukan apapun sendiri. Hanya itu.


***


Di sisi lain, Zarin tidak tahu harus berucap apa. Ia tak tau harus senang atau sedih. Meskipun kedatangan Emelda memberinya luka tetapi wanita berhati busuk itu juga membawa kebenaran yang tidak mampu Zarin tolak.


Violeta, gadis yang selama ini bekerja dan menjaganya, ternyata adalah anak kandung suaminya bersama wanita lain.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2