Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Tak Tau Jika Dijebak


__ADS_3

Rasyid sedan berbincang dengan William, yang tak lain adalah pemilik pesta itu. Tiba-tiba saja ada seorang wanita dengan pakaian yang cukup modis namun minim mendekati mereka.


"Hay.... " sapa wanita itu.


Rasyid dan William pun menoleh. Betapa terkejutnya Rasyid, karena wanita yang menegurnya adalah dia. Wanita itu. Wnaita yang pernah membuat hatinya patah.


Rasyid meneguk kasar minuman itu, seperti melampiaskan kemarahannya. Berbeda dengan William, pria itu malah menyambut kedatangan wanita seksi itu dengan penuh kebahagiaan. Bahkan mereka berciuman di depan Rasyid. Membuat Rasyid kesal dan muak.


"Oke, silakan teruskan acara kalian, aku ke sana dulu ya," ucap Rasyid, dalam hati ingin sekali menghajar keduanya, karena menurutnya, mereka berdua sangat tidak tau malu.


"Wait, Bro. Kamu belum aku kenalin pacar baru aku. Ayolah, jangan jelous gitu. Come on Bro, kita udah sama-sama dewasa. Masak lihat ciuman aja lu kesel," ucap William, seakan sudah hafal dengan sifat Rasyid yang terkenal dengan ketidak tertarikkanya pada perempuan.


"Tidak, sobat. Aku cuma sedikit pusing. Sebaiknya aku berdansa dengan wanitaku dan silakan kamu nikmati wanitamu," jawab Rasyid sembari menatap jijik pada Anisa yang menempel bak lintah pada William.


"Jangan sungkan, Bro. Kalo kamu mau wanitaku, boleh-boleh saja. Dia bisa kamu pakai kapanpun kok, atau kamu aku ikutan party *** bareng kami, juga boleh," jawab William, berbisik tepat di telinga Rasyid. Membuat Rasyid semakin muak dan ingin menghajar wajar pria berotak mesum nan brengsek ini.


Cih, kau pikir aku sudi menyentuh wanita murahan itu. Wanitaku dirumah jauh lebih manis dari ini. Dasar gila.... gerutu Rasyid dalam hati.


"Thank you, Bro. Kamu tau bagaimana seleraku. Seperti yang ini terlalu perfect," jawab Rasyid, sedikit bercanda, padahal hatinya ingin sekali melepar mereka ke hutan. Biar jadi bulan-bulanan mahluk di sana.


"Oke lag, gue paham. Oke nikmati pestanya, kalo lu butuh apa-apa bisa hubungi gue atau pacar gue ini juga boleh. Bye!" ucap William sembari melambaikan tangan pada Rasyid. Sedangkan pria itu tak menunggu waktu lagi. Setelah berbincang dengan wanita yang ia bawa dan memasrahkan keselamatan wanita itu pada ajudannya, Rasyid pun memilih pergi meninggalkan pesta memuakkan ini.

__ADS_1


Sayangnya, ketika ia masuk ke dalam mobil, Anisa mengikutinya. Tanpa izin wanita itu langsung duduk di sebelah Rasyid.


"Hay, Honey... lama nggak ketemu. Nggak kangen sama aku, maafin aku ya," rayu Anisa dengan nada manja seperti wanita penggoda pada umumnya.


Rasyid yang muak, tentu saja langsung keluar mobil dan membuka pintu di mana wanita sialan itu berada.


"Aku bilang keluar!" ucap Rasyid, dengan nada kasar.


"Honey, kok gitu? Kamu nggak kangen sama aku?" ucap Anisa manja. Lalu tanpa aba-aba wanita ini langsung merangkul leher Rasyid dan mencium paksa pria itu. Tak ayal Rasyid pun kesal dan mendorong marah pada wanita itu.


"Dasar gila! Jangan sekali-kali kamu berani menyentuh ku! Atau aku akan ledakkan kepalamu," ancam Rasyid, kemudian tanpa berucap apapun lagi. Rasyid pun meninggalkan wanita penggoda itu sendiri.


Anisa terlalu banyak akal untuk mengelabui mantan kekasihnya itu. "Apapun akan aku lakukan, asal bisa membawamu kembali ke pelukanku, Syid!" ucap Anisa, tersenyum sinis.


Di lain pihak, Rasyid mengumpat marah dan menghapus bibirnya bekas ciuman wanita ular itu. Berkali-kali ia bersumpah akan menghancurkan wanita itu jika berani mendekatinya lagi.


Tak bisa berada dalam situasi penuh emosi, Rasa pun memutuskan untuk ke tempat di mana Nadin berada. Karena hanya dengan melihat wanita itulah dia bisa merasa tenang.


Kini Rasyid sudah berada di depan rumah Nadin. Sayangnya ia tak bisa masuk, karena pintu rumah di kuci dari dalam.


"Sayang kamu udah tidur?" tulis Rasyid dalam pesan teksnya, karena Nadin tidak mengangjat panggilan telponnya.

__ADS_1


"Paan sih?" balas Nadin ketus.


"Aku kangen, Honey. Sekarang aku ada di depan rumah kamu. Buka pintu dong!" pinta Rasyid memohon.


"Nggak ah, kamu pulang aja. Aku ngantuk. Besok kan aku mesti kerja," balas Nadin.


"Besok kamu libur, aku kasih libur sampai kapanpun kamu mau. Oke!" rayu Rasyid.


"Ihhh, nggak usah. Udah sana. Ngapain sih?" Nadin mulai kesal.


"Aku rindu, Honey. Bener! Coba kamu lihat di jendela, aku ada di depan. Aku kangen! Kamu tega nyiksa aku?" bujuk Rasyid lagi.


"Udah ya, Bapak Rasyid yang terhormat. Jangan ngedrama. Mendingan Bapak pulang. Tidur. Istirahat. Lagian habis pulang pesta kan, habis happy fun ama cewek-cewek cantik. Ngapain masih nyariin aku? " tanya Nadin, kesal.


"Kan aku dah janji tadi, nggak deket-deket cewek. Nggak minum juga. Ini aku pulang dalam keadaan bersih loh! Sungguh!" jawab Rasyid, masih dengan kode merayu.


"Tau ah... aku mau tidur, bye... selamat malam!" tolak Nadin. Lalu ia pun mematikan ponselnya agar Rasyid tidak menganggu nya lagi.


Sayangnya, Rasyid bukan pria yang gampang putus asa. Ia pun memutuskan menunggu di mobil sampai Nadin mau membukakan pintu untuknya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2