Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Fantasi Nadin


__ADS_3

Sesuai permintaan wanita itu, Yoga pun mengantarkannya ke hotel terdekat, sesuai dengan yang dia inginkan.


Mobil itu berhenti sempurna di depan hotel terdekat. Sang wanita langsung keluar, sebelumnya dia sudah menangkupkan kedua tangannya pada Yoga. Sehingga ia tidak perlu lagi memberi salam ketika sudah keluar.


Terlihat terburu-buru, wanita itu langsung lari masuk ke lobi hotel tanpa melihat kebelakang lagi. Sedangkan Rasyid yang penasaran dengan wanita yang ia tolong, hanya bisa memerhatikan melalui kaca spion.


Merasa tak asing dengan wanita itu, Rasyid pun bertanya, "Ga!"


"Ya!"


"Kamu kenal nggak cewek tadi?" Rasyid masih memerhatikan langkah wanita itu dari kaca spion.


"Ya nggak lah, Bos. Kenal dari mana? Kita kan baru pertama kali ketemu. Masak iya kenal, Ada ada aja bos ini!" jawab Yoga, berkilah.


"Yakin kamu nggak kenal?"


"Yakinlah, Bos. Baru juga ketemu. Gimana sih?" jawab Yoga lagi.


"Oke! Jalan!" pinta Rasyid, enggan berdebat.


Yoga mengembuskan napas kasar. Berasa lega saja, Rasyid tidak mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan membuatnya terpancing untuk mengatakan siapa sebenar wanita yang baru saja mereka tolong.


"Kita ke mana, Bos?" tanya Yoga.


"Pulang aja. Aku nggak bisa ninggalin istriku lama-lama. Oiya, jangan lupa... cari tau, kenapa Horison dan anak buahnya ada di club milik wanita rubah itu!" pinta Rasyid.

__ADS_1


"Baik, Bos! Laksanakan!" jawab Yoga, tak bersemangat. Sebab hatinya masih galau perihal pertemuannya dengan Anisa yang tak di sengaja itu.


Yoga takut, Anisa akan mengejarnya. Lalu bertanya soal Xian, soal Rasyid. Sungguh, hal ini sangat Yoga hindari. Yoga tak sanggup jika harus berhianat dari Rasyid. Namun juga tak tega jika tak membantu Anisa.


Bukankah ini dilema yang luar biasa.


***


Di lain sisi, Nadin terlihat tidak sabar menunggu kedatangan kekasih hatinya.


Jantungnya berdebar senang. Hatinya berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Ternyata mereka sudah saling sama-sama saling terbuka, saling mengakui jika saat ini mereka saling mengagumi satu sama lain.


Nyatanya, tanpa ada orang yang tahu, obrolan yang mereka lakukan lewat pesan teks itu, membuat mereka tidak rikuh untuk saling menerima.


Baik Nadin maupun Rasyid, mereka telah berkomitmen untuk saling menjaga. Saling memiliki. Saling menerima. Bahkan mereka juga sudah berjanji, mulai malam ini, mereka tak akan pernah menolak satu sama lain.


Seperti biasa, Nadin selalu suka dengan gerak gerik pria itu. Menurutnya gerak tubuh Rasyid sangat seksi. Entahlah, mengapa Nadin berpikir demikian. Mungkinkah dia memang telah tergila-gila dengan pria itu? Yang jelas, Nadin sangat menyukai apapun yang ada di dalam diri pria itu.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekati kamar di mana ia berada.


Jantung Nadin berdebar lebih kencang. Sebab ia tahu, yang melangkah menuju kamarnya adalah dia. Pria yang ia rindukan. Pria yang ia nantikan.


Dan benar saja, yang datang adalah pria itu. Pria yang selalu terlihat seksi di matanya.


"Assalamu'alaikum... " sapa Rasyid ketika membuka pintu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam... " jawab Nadin dengan senyum termanisnya.


Nadin langsung meletakkan majalah yang ia pegang. Lalu beranjak dari tempat duduk dan melangkah mendekati Sang suami.


Baik Rasyid maupun Nadin, mereka terlihat salah tingkah. Tak sebebas ketika mengobrol dalam pesan chat itu.


"Kok belum bobo?" tanya Rasyid basa-basi sembari meraih pinggang Sang istri.


"Belum ngantuk," jawab Nadin singkat.


"Ya udah, aku bersih-bersih dulu. Nanti aku temenin ngobrol," ucap Rasyid, sembari membuka jaketnya dan menyerahkan barang itu pada Sang suami.


Nadin mengangguk dan menerima dengan senang jaket itu.


Masih dalam suasana romantis, pria tampan ini pun tak lupa memberikan kecupan di kening Sang istri. Kemudian ia pamit untuk membersihkan diri.


Nadin tersenyum senang. Hatinya serasa berbunga-bunga. Kecupan yang ditinggalkan Rasyid di keningnya, seperti hadiah yang sangat berharga untuknya. Sungguh, Nadin sangat bahagia karena itu. Kecupan itu serasa indah menjamah kalbu. Kecupan itu serasa adem membelai jiwa.


"Minta lebih boleh nggak sih?" gumam Nadin sembari mencium harum jaket bekas pakai Rasyid.


Ya, sepertinya Rasyid telah sukses meluluhkan hatinya. Buktinya saat ini, Nadin membayangkan sedang berciuman dengan pria itu. Berciuman mesra layaknya sepasang kekasih.


Jujur, Nadin belum pernah melakukan itu dan dia penasaran bagaimana rasanya berciuman.


Ahhh, sepertinya fantasinya saat ini melebihi batas. Nadin memukul sendiri kepalanya, kesal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2