
Nadin duduk diam bersender di jok mobil. Memiringkan tubuhnya condong ke kiri agar tidak melihat pria menjengkelkan di sampingnya ini.
"Jangan coba merajuk, di sini kamu yang salah," ucap Rasyid kesal.
"Selalu aku aja yang salah, situ bener terus. Situ ngilang juga bener, nggak kasih kabar juga bener, sampek mutusin keputusan penting sendiri juga bener. Aku merajuk sedikit aja nggak boleh, terus aku suruh ngapain? Aku kan manusia, punya hati juga. Aku kan bingung jadinya, salahku di mana sampai suamiku yang awalnya begitu baik. Perhatian. Tanpa ada angin, tanpa ada hujan tiba-tiba kirim surat cerai. Terus aja salahin aku," ucap Nadin, kali ini ia tak sanggup lagi menahan sesak yang ada di dadanya. Akhirnya, ia pun tak melarang, ketika air matanya ingin menunjukkan pesona.
"Kamu nggak tau gimana bingungnya aku, makanya kamu bisa ngomong begitu," ucap Rasyid, masih bertahan dengan egonya yang tinggi itu.
"Kalo memang kamu punya masalah, bisa kan diomongin baik-baik. Aku kan istrimu, lagian ngomongin perpisahan itu kan pamali. Nggak boleh asal aja. Boleh kita ngomongin pisah, kalo mungkin aku dan kamu ada masalah. Misalnya, aku selingkuh atau kamu selingkuh. Kita sering berantem atau apalah... pasti ada sebab musababnya di antara kita. Lah ini, astaga! Yang punya masalah sama kamu itu Yoga, terus si rambut pirang itu, terus siapa lagi, aku nggak tau. Mereka semua nggak ada hubungannya sama aku, Bapak. Kenapa aku yang dihukum. Dah lahhh... makin ke sini, makin bingung aku, gimana mesti ngadepin pria labil kek kamu. Pokoknya serah aja. Mau pisah ya pisah aja. Aku capek ngertiin kamu," jawab Nadin, tak kalah kesal.
"Oke, aku minta maaf. Maafin aku yang bersikap semauku. Puas sekarang. Udah jangan merajuk lagi. Dasar wanita tukang ngambek, baru dikasarin dikit aja, ngambeknya dari WIB sampek WITA. Belum juga apa-apa," ucap Rasyid enteng.
Buka apa-apa jidatmu Dasar pria gila, nggak punya hati. Huffff, andai nggak takut malaikat, udah ku getok kepalamu. Biar sadar! gerutu Nadin kesal. Diliriknya pria tak punya hati itu dengan penuh kebencian.
Nadin diam, namun tak dipungkiri, bahwa saat ini kebenciannya pada Rasyid kembali hadir.
Bagaimana tidak? Rasyid sama sekali tidak menghargai pengorbanan yang ia rasakan. Tak menghargai bagaimana dia bertahan dengan rasa sakit atas sikap-sikapnya yang tak masuk akal.
"Eh... tunggu dulu, kamu bilang, aku punya masalah dengan rambut pirang? Siapa rambut pirang?" tanya Rasyid, penasaran.
Ternyata jerapah jelek ini mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan dengan sangat baik. Membuat Nadin kembali melirik kesal.
Enggan membahas sesuatu yang menurut Nadin bukanlah ranahnya. Wanita cantik itu pun memilih untuk membahas masalah lain.
"Aku laper, aku mau makan!" pinta Nadin, tanpa berpikir lagi. Malas berdebat dengan Rasyid. Lebih baik dia makan, sebab calon bayi yang ada di dalam kandungannya juga membutuhkan nutrisi.
__ADS_1
"Oke, mau makan apa?" tanya Rasyid, kali ini lembut. Seperti ketika mereka belum memiliki masalah.
"Apa aja, asal jangan hati!" jawab Nadin ketus.
Rasyid speechless. Ia melirik Nadin. Sebab ia tahu jika Nadin sangat kesal padanya.
Tak ada perbincangan lagi. Rasyid pun membawa wanita itu kesebuah restoran yang cukup mewah. Restoran Chinese food yang sangat terkenal di kota itu.
"Kita makan di tempat ini, boleh?" tanya Rasyid.
Nadin tak menjawab, ia memilih diam dan keluar dari mobil tanpa kata. Lalu melangkah masuk ke dalam restoran itu.
Sedangkan Rasyid hanya menggaruk alisnya yang tak gatal. Ternyata wanita kalo marah, menyeramkan juga.
***
"Ku rasa dia sudah gila!" jawab Violeta.
"Dia memang gila! Dia pikir Rasyid masih mencintainya. Pokoknya, jangan sampai dia bertemu dengan Nadin, aku takut dia bertindak anarkis. Apa lagi saat ini Nadin berbadan dua. Udah gitu Rasyid lagi buta. Sumpah, andai Rasyid mau mendengarkanku sekali lagi. Mungkin saat ini aku akan memintanya untuk menemui wanita itu dulu. Sebelum dia menyakiti Nadin," ucap Yoga, sedih.
"Apa aku harus nemuin Rasyid?" tawar Violeta.
"Tidak bisa, Yang. Dia sedang marah sama aku, sedangakan dia juga tau hubungan kita. Yang ada kamu diusir nanti. Nadin yang nggak tau apa-apa aja kena imbas. Apa lagi kamu? Dia itu bodoh kalo soal hati. Entahlah.. kenapa bisa begitu?" jawab Yoga bingung.
"Menurutmu aku mesti gimana?" tanya Violeta.
__ADS_1
"Kasih tau Nadin aja, suruh dia hati-hati. Takutnya nanti dia shock. Kalo tiba-tiba Anisa datengin dia," jawab Yoga.
"Oke deh, nanti aku warning dia. Emm... kamu di sini gimana, Yang. Ada yang jahat nggak sama kamu?" tanya Violeta khawatir.
"Nggak sih, mereka baik. Soalnya pasa ku jajanin," jawab Yoga sambil terkekeh.
"Astaga, jadi kamu Sultan di sini?" canda Yoga.
"Sttt, jangan kenceng-kenceng. Aku kasihan sama-sama orang-orang di sini, Yang. Makanannya menyedihkan. Eh, ngomong-ngomong makasih ya, kirimanmu hari itu, mereka pada suka," ucap Yoga.
"Syukurlah kalo pada suka. Kamu jaga diri baik-baik ya, Yang. Aku berharap, sidang mu segera digelar," balas Violeta.
"Insya Allah, makasih ya, Yang. Emmm.... besok kalo kamu ke sini, tolong bawain aku Al-Quran ya. Aku pengen belajar ngaji lagi," pinta Yoga, dengan senyum termanis nya.
"Oke, siap!" jawab Violeta, tak lupa ia pun membalas senyuman manis itu.
***
Apa yang dikhawatirkan Yoga bukalah isapan jempol belaka. Mengetahui keberadaan Rasyid dan juga Nadin, Anisa pun segera tancap gas ke sana. Ingin membuat perhitungan dengan Nadin. Karena Nadin dinilai tidak menghiraukan peringatannya.
Bersambung...
Jangan lupa kepoin karya terbaru emak yang ikut Event Kisah Rumah Tangga dengan Tema Suami Tak Berguna... semoga kalian terhibur🥰🥰🥰
__ADS_1