Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Ada Apa ini?


__ADS_3

Zarin terlelap setelah meminum obat yang dianjurkan oleh Bima. Kini tinggallah Rasyid, Yoga dan juga kedua gadis yang masih duduk termenung. Diam seribu bahasa. Bingung, harus dari mana memulai perbincangan ini.


"Ehheeemmmm... em, sorry Nad. Aku sama temenku balik dulu ya. Besok kami ke sini lagi. Oke!" ucap Rasyid tiba-tiba.


"Eh, Pak Rasyid... tunggu! Kan kita belum anu... itu!" ucap Violeta, gugup. Tak nyaman. Sepertinya ia agak rikuh dengan kehadiran seseorang yang pernah dekat dengannya di masa lalu itu.


"Belum anu apa, Nona. Kita tidak ada anu," jawab Rasyid sedikit bingung.


"Dia mau ngomong itu kali, Bos. Cuma belum tau mau mulai dari mana," bisik Yoga menduga-duga.


"Benarkah?" tanya Rasyid.


"Heemm!" Yoga melirik Violeta. Begitupun dengan gadis itu. Mereka sama-sama melirik. Tapi lirikan itu mengandung permusuhan sepertinya.


Astaga, kenapa dunia sempit sekali, gerutu Yoga, kesal.


Dasar pria bajingan, ngapain sih mesti ketemu dia lagi. Dasar play boy cap kadal. Apa lirik-lirik, culek juga ni mata, gerutu Violeta dalam hati.


"Dianya nggak mau, gimana dong?" tanya Rasyid pada Violeta.


Violeta menatap Nadin yang saat ini membuang muka, karena kesal pada keadaan yang saat ini mengepungnya.


"Non, please... percayalah, ini terbaik untukmu. Setidaknya ibu tirimu bakalan gigit jari kalo tau kamu udah nikah. Biar dia dipites ama mafia-mafia yang dia boongin," ucap Violeta sambil melirik marah pada Yoga, seakan ucapan itu ia tujukan pada pria yang pernah mematahkan hatinya.

__ADS_1


Ada apa denganku, kenapa dia ngomongnya ngliatin aku? tanya Yoga dalam hati.


"Apakah harus dengan pria ini? Tidakkah ada pilihan lain. Dengan mas yang ini mungkin?" tanya Nadin sambil melirik Rasyid, tapi tangannya menunjuk ke arah Yoga.


"Apa, Non? Sama dia? Jangan, jangan, yakin Non nggak bakalan bahagia sama dia. Non bakalan sakit hati sampai nggak pengen kenal cowok lagi. Percaya sama saya," jawab Violeta tegas, seakan menyuarakan isi hatinya selama ini.


Spontan, Yoga pun menyertakan giginya. Meremaa jari-jarinya. Ingin membalas ucapan yang menampar hatinya itu. Sedangkan Rasyid malah tertawa. Padahal ia tidak tahu apa yang terjadi antara Yoga dan Violeta di masa lalu.


"Kok bisa? Emang kamu udah kenal dia?" tanya Nadin.


"Nggak sih, cuma dari tampangnya udah kelihatan kalo mas yang ini play boy cap kadal. Suka mainin perasaan cewek. Suka ghosting cewek. Suka ngilang gitu aja. Tukang PHPin cewek. Tukang tipu. Tukang selingkuh. Pokoknya nggak bisa dipercaya deh!" jawab Violeta, menggebu.


Panas, seperti itulah rasa hati dan telinga Yoga. Tak sanggup menahannya lagi, ia pun membalas ucapan itu, "Eh, kamu jangan asal ya. Aku nggak pernah mainin hati cewek. Aku nggak pernah nglakuin apapun yang kamu bilang, Nona. Kita nggak saling kenal. Kamu jangan asal ngomong ya." Yoga menatap penuh permusuhan pada Violeta. Begitu pun Violeta. Wanita ayu ini begitu emosi melihat tampang menyebalkan Yoga. Bahkan ketika pertama kali mereka bertatap muka tadi.


"Kamu!" Yoga habis kata, sedangkan Violeta masih terlihat menantang. Rasyid dan Nadin hanya saling menatap tak mengerti. Kenapa mereka bertengkar, seolah mereka pernah terlibat sesuatu yang belum selesai di masa lalu.


"Apa? Aku nggak takut denganmu! kamu memang tukang mainin cewek!" tuduh Violeta, masih belum puas memaki pria yang pernah berarti di masa lalunya ini.


Yoga hendak membalas, tapi Rasyid melerai.


"Wait, wait... stop oke! Aku nggak tau apa yang terjadi antara kalian. Tapi ini rumah sakit, Bro, Nona. Harap kalian paham itu. Oke! Slow ya, slow... Oke! Sabar, sabar, Ga. Ngadepin cewek nggak gitu! Oke!" ucap Rasyid, berusaha menjadi penengah antara Violeta dan juga asistennya.


"Habis dia ngeselin, Bos. Kenal juga enggak, nuduh-nuduh!" jawab Yoga. Violeta kembali menyipitkan matanya. Seakan mematang Yoga.

__ADS_1


"Kamu ngrasa kek gitu nggak?" tanya Rasyid.


"Ya nggak lah! Dia tu yang tukang selingkuh!" balas Yoga.


"Enak aja, aku nggak selingkuh ya. Situ yang nggak bisa dipercaya," balas Violeta, semakin nyolot, semakin berani.


"Dibilang enggak, dih!" Yoga kembali kesal.


Rasyid kehilangan akal. Tidak tahu lagi bagaimana harus melerai pertengkaran dua sejoli ini.


"Oke, Oke, di sini yang tukang selingkuh, aku. Aku Oke! Puas kalian?" tanya Rasyid kesal.


Violeta dan Yoga langsung diam.


"Jadi yang mestinya menikah siapa ni? Aku sama Nadin atau kamu sama Nona Vio, Bro?" pancing Rasyid.


"Nggak!" jawab dua sejoli itu barengan. Dua sejoli itu kembali saling melirik kesal.


Rasyid langsung tertawa. Kemudian, pria tampan ini pun kembali berucap, "Ya udah, Nad. Sebaiknya kita saja yang menikah. Setidaknya pelaminan yang udah disiapkan, ada yang ngisi, yaitu kita. Gimana?" canda Rasyid, seakan sedang meledek Vio dan Yoga yang saat ini masih dalam keadaan panas.


"Entahlah! Serah kalian. Aku ngantuk!" jawab Nadin judes.


Rasyid menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa. Seakan lelah dengan perdebatan kali ini. Baik Vio, Yoga apa lagi Nadin, hanya bisa membuatnya lelah saja.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2