Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Ternyata


__ADS_3

Hujan reda. Selepas mandi dan berganti pakaian, Rasyid berniat mengantarkan makanan ke rumah Nadin.


Tanpa berpikir macam-macam, pria pemilik sejuta pesona itu pun mengetuk pintu rumah gadis itu, pelan.


Terdengar langkah kaki seseorang mendekati pintu.


Dia adalah Nadin. Memakai baju santai dengan rambut yang masih digulung dengan handuk. Wajah putih mulus, alis yang masih asli serta buku mata yang agak lentik, memberikan kesan yang sangat manis bagi Rasyid. Ya, pemuda tampan itu tidak memungkiri tentang perasannya.


"Apa?" sapa Nadin, jutek seperti biasa.


"Dih, jutek. Ni... " Rasyid menyodorkan kantong plastik berisi makanan untuk gadis jutek itu.


"Apa ini?" tanya Nadin, sok polos.


"Belum makan kan? Itu makanan buat kamu," jawab Rasyid sembari bersandar di sisi pintu.


"Oh, berapa ni?" tanya Nadin.


"Berapa apanya?" balas Rasyid.


"Harganya?" Nadin mengangkat wajahnya. Menatap pria bertubuh jangkung itu.


"Tenang, gratis. Aku traktir kali ini. Aku lagi baik," jawab Rasyid dengan candaan yang sebenarnya tidak pernah ditunjukkannya selama ini.


"Baik amat sih kamu hari ini. Ada angin apa? Kamu lagi nggak kesambet kan?" cecar Nadin sembari menyipitkan matanya.


"Kesambet sih? tapi ini kesambet nya lain!" canda Rasyid.


"Nggak ah kalo gitu! kamu lagi dalam keadaan kurang waras. Nanti kamu ungkit lagi." Nadin menyodorkan kantong plastik itu.


"Ck... apaan sih, udah ambil, jangan sok jual mahal. Tenang aja. Soal makanan and soal sore tadi, aku nggak akan ungkit. Tapi kalo soal tadi pagi, baru aku tagih. Janji adalah hutang, Nona. Mengerti!" jawab Rasyid.


"Tu kan. Nggak ah!"


"Nolak muluk, kayak disuruh kawin aja!"


"Kawin? Nggak akan!" Nadin memanyunkan bibirnya. Membuat Rasyid melirik gemas.

__ADS_1


"Jangan manyun-manyun begitu sama pria lain! Paham!" larang Rasyid mulai menunjukkan sikap posesif nya.


"Ih kenapa?"


"Kita udah dijodohkan, jangan macam-macam!" ucap Rasyid memperingatkan.


"Kan aku udah nolak!" protes Nadin.


"Kamu pikir dengan menolak dan memilih konsekuensi ini, nenek-nenek kita bakalan ngelepasin kita gitu aja? Nggak semudah itu gadis manja." Rasyid terlihat serius.


"Kalo begitu ngapain aku mesti susah-susah ambil konsekuensi ini, kalo pada akhirnya tetep dipaksa nikah sama kamu juga," jawab Nadin, kesal.


"Ya itu sih urusan kamu! Coba kamu ikutin jejakku. Nggak akan ada hukuman begini buat kamu kan? Kita dinikahin, serumah, masalah kita gimana? Kan kita bisa bikin perjanjian. Gitu aja kok repot!" balas Rasyid enteng.


Nadin diam, terlihat berpikir.


"Bener juga ya."


(Sepertinya Nadin tidak menyadari bahwa ini hanya trik Rasyid agar dia mau menerima perjodohan ini🤩)


"Dah lah, kamu udah ngambil keputusan. Maka nikmati. Aku pulang, bye!"


"Eh, tunggu dulu!" Nadin terlihat penasaran dengan apa yang diungkapkan Rasyid.


"Apaan? Udah sana makan. Mau ditemenin?" canda Rasyid.


"Nggak bukan itu. Nanti aku makan sendiri aja. Eh, kamu yakin sama ucapan kamu itu?" tanya gadia lugu ini, penasaran.


Yes, dia masuk perangkap...


"Tentu saja, coba kamu pikir! Apa maksud mereka menempatkanmu di tempat yang berdekatan denganku? Bukankah ini rencana mereka buat nyomblangin kita? Ya kan?" pancing Rasyid, padahal ia tidak yakin. Bisa saja tempat tinggal ini berdekatan dengan tempat kerja Nadin.


"Ia juga ya," Nadin kembali terpancing.


"Dah ah, aku lapar. Besok atau kapan-kapan kita bahas lagi. Aku pulang dulu. Jangan lupa kunci seluruh pintu dan jendela. Ingat, besok pagi setelah mandi, kamu harus menyapu dan membersihkan rumahku. Awas ingkar!" ucap Rasyid mengingatkan.


"Iya penindas! Dasar!" jawab Nadin kesal.

__ADS_1


"Satu lagi!"


"Apa?"


"Jangan lupa pakek bra atau.... " Rasyid tersenyum. Mata nakalnya menatap ke arah dada Nadin.


Spontan, gadis itu pun menutup rapat dadanya. "Ihhh, dasar mesum! Sana ah!" usir Nadin. Tak lupa ia juga mendorong marah lengan pria tampan itu.


Rasyid tidak marah. Justru ia malah senang dengan kemarahan Nadin yang menurutnya menggemaskan itu. Jangan tanya kenapa ia suka sekali menggoda musuh bebuyutannya itu. Rasyid bahagia melihat Nadin merajuk. Rasyid senang melihat gadis itu marah, senang melihat gadis itu kesal. Karena baginya, kemarahan dan perubahan mood Nadin adalah hiburan tersendiri baginya.


Rasyid meninggalkan kediaman Nadin dengan senyum bahagia. Hatinya merasa adem setelah melihat gadis incarannya itu menerima apa yang ia bawakan. Bukan hanya itu, ia juga senang, karena Nadin terlah termakan bujukan nya. Yang artinya, gadis itu pasti tidak akan bisa tidur. Karena menyadarkan betapa bodoh dirinya, dalam mengambil keputusan tentunya.


Sedangkan Nadin sendiri, sibuk mengatur gemuruh di dadanya. Benar dugaan Rasyid,bahwa gadis itu kini telah memikirkan apa yang ia ucapkan.


Selain itu, tanpa Rasyid sangka, Nadin juga kesulitan menghadapi keanehan dalam hatinya.


Bagaimana tidak aneh? Ia dan pria itu,jaranh sekai akur. Tapi kenapa ia begitu suka berdekatan dengan pria itu. Hatinya begitu girang ketika bisa mencium aroma parfum Rasyid.


Namun ia juga heran, kenapa ia tak mau menunjukkan kebahagian yang ia rasakan. Justru sebaliknya, ia lebih suka berpura-pura kesal pada pria yang suka membuat mood nya buruk itu.


Karena ia takut, jika sampai Rasyid tahu bahwa saat ini telah terjadi sesuatu dalam medan hatinya, tak menutup kemungkinan, pasti pria itu akan semakin intens menganggunya.


***


Di sudut ruang yang lain, terlihat seorang pria sedang mengacungkan senjata kepada ketiga pria yang telah gagal menjalankan pekerjaan mereka. Siapa lagi kalau bukan tiga preman suruhannya.


Horizon nama pria itu. Seorang casanova yang telah tergila-gila pada Nadin. Namun, cintanya itu ditolak mentah-mentah oleh ibu tiri gadis itu. Padahal ia sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening wanita tersebut. Tetapi sayang, dia ditipu. Sampai detik ini, Nadin tidak diserahkan kepadanya. Justru wanita itu malah menawarkan anak gadisnya pada musuh bisnisnya. Tentu saja keadaan ini membuat Horizon murka.


Tak ingin kecolongan dengan penipu licik itu, akhinya Horizon pun meminta anak buahnya untuk membawa gadis incarannya itu kepadanya.


Sayangnya, anak buah pria itu gagal. Sehingga membuat sang pria murka.


Bersambung...


Sambil nunggu emak update, kalian bisa kepoin karya ukhti cantik ini😍😍😍


__ADS_1


__ADS_2