Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Info Menarik


__ADS_3

Selepas kepergian Rasyid, Nadin mengelus dada. Mengembuskan napas kasar. Melepaskan rasa takut yang diam-diam ia rasakan.


Nadin sadar menghadapi Rasyid ternyata tak semudah bayangan. Rasyid begitu arogan dan suka berpikir pendek.


Ia tak peduli, jika ada yang berani mengusik miliknya maka dia tak akan segan segan meremas orang tersebut.


"Kalo kamu masih ingin memiliki, kenapa kamu bersikeras menolakku, Mas. Kamu membuatku gila, tau nggak!" gumam Nadin kesal.


Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Nadin pun memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya. Lalu melaporkan apa yang ia alami kepada Violeta. Setidaknya, berbagi kebahagiaan untuk kemenangan yang ia dapatkan.


"Benarkah? Astaga, ini baru jurus part one, doi udah kelimpungan. Hahahah, sakit perutku Non. Ternyata ide si barokokok brilian juga ya... "ucap Violeta dengan tawa renyahnya.


" Iya, wajahnya sampai memerah tadi. Kasihan sebenarnya, tapi mau gimana? Dia yang mulai. Andai dia nggak segampang itu bikin keputusan. Aku pun nggak akan nyakitin dia sampai segininya," ucap Nadin, dengan nada terdengar sedikit sedih.


"Yang sabar ya, Non. Non pasti bisa, pasti kuat, pasti sukses nglewatin ujian ini," balas Violeta menguatkan.


"Ya, ini konsekuensi atas keputusan yang aku ambil, Kak Vi. Ya udah ya, aku harus siapin keperluan dia, sebentarnya lagi kami mau ke proyek. Oiya, Kak Vi... di sini ada satu poin yang bikin aku kepo, kenapa jadi dia terlibat dalam jual beli aset milik ibu tiriku, apakah di sini telah terjadi sesuatu?" tanya Nadin, penasaran.


"Ya, Nona. Sebenernya suamimulah yang melumpuhkan ibu tirimu atas dugaan pembunuhan ayammu dan nyonya besar. Tanpa kita ketahui, Emelda telah mendapatkan hukumannya, Non. Aku minta maaf kalo baru cerita ini. Sebenarnya suamimu itu sangat berjasa bagi kita. Beliau bergerak tanpa banyak bicara. Dia begitu mati-matian membela keluarga kita. Menyelamatkanmu dari rencana jahat Emelda yang ingin menjualmu pada Horison," jawab Violeta, jujur.


"Menjualku? Pada Horison. Siapa Horison?" tanya Nadin bingung. Karena pada kenyataannya dia memang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Horison... emmm... nanti aku kirim foto dia, ya. Oiya, pesanku, tolong hati-hati dengan pria itu. Takutnya dia masih mengincarmu, apa lagi saat ini hubunganmu dengan suami sedang tidak baik-baik saja. Nona paham kan maksudku?"


"Iya, aku paham. Tapi entahlah, belum apa-apa aku dah lelah. Mataku ngantuk. Apakah ini efek kehamilanku, hemm?" balas Nadin.


"Iya, Non. Hamil muda memang begitu. Yang sabar ya, semoga suamimu segera paham dan mengerti. Bahwa apa yang dia lakukan saat ini itu salah, salah besar. Oiya, Non, saya lupa kasih tau sesuatu."


"Apa itu?"


"Jangan minum atau makan apapun ketika menghadiri pesta di circle suamimu ya. Pesta orang-orang besar seperti mereka sangat berbahaya bagi keselamatan wanita cantik sepertimu, Nona. Bukan apa sih? Ini hanya jaga-jaga saja. Sesuai peringatan yang aku dapat dari Yoga," ucap Violeta, serius.


"Emmmm, terima kasih Kak Vio... sampaikan terima kasihku untuk kekasihmu, tanpa kalian aku nggak mungkin sampai bisa ke titik ini," ucap Nadin, sedih.


"Sstttt, jangan sedih-sedih bestie, kamu harus kuat, jangan goyah. Kamu harus bisa memenangkan kembali hati suamimu. Setidaknya ini demi bayimu. Dia hanya sedang kalut saja, sebenarnya dia masih cinta kok. Dia masih peduli. Nggak ingin kehilangan juga. Cuma, ya itu... dia sedang sakit, biasalah laki, kalo gengsinya lebih gede dari bisikan hati, suka kumat. Jangan kaget ya, Non," balas Violeta.


"Ya udah Kak Vi, makasih banyak ya udah mau dengerin curhatku," ucap Nadin.


"He em, pokoknya aku siap dua puluh empat buatmu, Non. Oiya, kamu sekarang kan lagi hamil muda, terus di rumah cuma sendiri. Gimana kalo aku temenin," tawar Violeta.


"Emmm, ngrepotin nggak?" tanya Violeta.


"Nggak lah, anggap aja ini balas budi ku sama ibu nyonya. Gimana?"

__ADS_1


"Boleh lah, pindah aja ke rumah kalo nggak keberatan. Lumayan aku ada temen. Emmm, tapi aku lagi pengen belajar masak. Kenapa ya?" ucap Nadin, semangat.


"Hehehe, kan mau jadi ibu, biar nanti bisa masakin buat si baby ya," canda Violeta, lalu keduanya pun terkekeh.


"Eh Non!"


"Ya... "


"Ada satu lagi orang yang patut Nona waspadai. Sebab menurut Yoga, wanita ini sangat berbahaya dan mau melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya," ucap Violeta.


"Wanita? Siapa dia?" tanya Nadin penasaran.


"Mantan calon istri suamimu. Dia sekarang udah kembali ke Indonesia. Ia ingin mengambil putranya dari Rasyid, sekaligus membuat suamimu kembali ke pelukannya. Sepertinya wanita itu sudah gila. Takutnya, ketika dia dengar apa yang terjadi pada rumah tangga kalian, dia malah semakin nekat," jawab Violeta.


"Ya, aku akan waspada dan coba cari tau wanita itu. Terima kasih Kak Vi, Terima kasih atas infonya," balas Nadin.


"Emm, pokoknya kalo ada apa-apa cepat hubungi aku. Nanti aku bantu cari solusi, oke!" ucap Violeta.


"Emm, sweetnya, makasih banyak kak Vi, anda luar biasa sekali," ucap Nadin.


"Sama-sama Nona, aku selalu menunggu kabar darimu," balas Violeta. Tak lama berselang akhirnya mereka pun mengakhiri perbincangan itu.

__ADS_1


Namun tak dipungkiri bahwa ada sebongkah kekhawatiran di sudut hati Nadin yang terdalam. Yaitu perihal Horison dan Anisa. Sepertinya Nadin perlu mencari info tentang mereka. Sebelum mereka berdua mengagalkan rencananya untuk membawa Rasyid kembali ke pelukannya.


Bersambung...


__ADS_2