
"Wah wah wah.... serasi sekali ibu dan anak ini!" ledek Emelda ketika masuk ke ruangan di mana Zarin dirawat.
"Ngapain kamu ke sini, dasar wanita rubah!" balas Zarin ketika melihat musuh bebuyutannya itu melangkahkan kaki mendekatinya.
"Aduh mama mertua, santai lah.. slow, jangan marah-marah gitulah. Anakmu aku urus dengan baik loh. Kamu tenang aja. Semua aman." Emelda tersenyum meremehkan. Sedangan Violeta yang ada di samping Zarin, terlihat mengertakkan giginya. Seakan geram ingin menjambak rambut rubah betina itu.
"Sebaiknya kamu pergi, sebelum aku panggilkan satpam!" ancam Zarin.
"Duh, mama mertua... harusnya mama senang dong. Masak dijenguk mantu, begitu sambutannya. Aku datang ke sini mau mengambil putriku, sesuai perjanjian kita, Sayang!" ucap Emelda mengingatkan.
"Heh, aku tidak menyetujui perjanjian apapun denganmu. Jangan ngarang kamu!" bentak Zarin.
"Oh ya, bagaimana jika aku sebarkan berita itu? Apa kamu sudah siap dengan konsekuensinya?" tantang Emelda.
"Terserah, silakan... aku tidak peduli. Membiarkan putraku menikah dengan wanita iblis sepertimu, sudah cukup menjadikanku menyesal. Kamu pikir aku akan menyerahkan Nadia pada wanita brengsek seperti mu. Oh, tidak... jangan mimpi!"
Zarin terlihat mulai tak sabar menghadapi wanita ular itu.
"Tenang, Sayang. Lagian aku juga nggak butuh persetujuan dari wanita tua sepertimu. Lihat saja, Nadin adalah milikku. Tak ada seorang pun yang bisa menyembunyikannya dariku. Paham!" bentak Emelda, emosi.
"Anda jangan kurang ajar ya!" larang Violeta, kesal.
"Heh, anak haram! Kamu nggak usah ikut campur ya. Kamu nggak ada hak. Lebih baik urus saja ibu tirimu ini sampai mati. Dasar!" Emelda melipat tangannya, tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Siapapun saya, itu bukan urusan anda, Nyonya. Jadi jangan menge-judge saya kalo anda tidak tau apa-apa!" tantang Violeta.
"Hahaha... aku, nggak tau apa-apa kamu bilang? Nggak salah? Heh, denger ya, aku tau semua tentang kamu. Kamu anak haram dari suami wanita ini kan? Dan ibumu si wanita murahan itu, yang mati bunuh diri, ha!" Emelda tertawa terbahak-bahak, sedangkan Violeta masih mencoba menahan amarah. Jangan sampai ia berbuat anarkis yang akan membuat keadaan Zarin semakin buruk.
"Apa maksud kalian?" tanya Zarin, penasaran.
"Tanyakan saja sama asistenmu yang sok polos ini. Dia dan ibunya tak lebih dari sekedar benalu di keluargamu. Alih-alih menjadi asisten, nyatanya dia juga mau menguasai hartamu. Asal kau tau wanita tua!" ucap Emelda.
Zarin tercengang. Violeta masih berusaha tenang
"Aku bukan manusia seperti itu, sebaiknya anda berkaca, Nyonya. Ibuku memang bersalah karena telah menjadi duri dalam pernikahan nyonya Zarin dan suaminya. Tetapi aku... aku datang untuk menebus kesalahan ibuku. Aku datang untuk menjaganya. Menjadi pelayannya. Setidaknya dengan begitu, beliau sudi memaafkan ibuku yang telah menyakitinya," jawab Violeta, tegas.
Emelda tertawa dengan jawaban itu. Rasanya senang saja. Sebab jebakannya membuahkan hasil.
"Maaf, aku pun tak sudi punya kakak ipar sejahat anda, Nyonya! Anda bukan standar saya untuk menjadi bagian dari keluarga saya," balas Violeta tak kalah pedas.
Zarin diam, tak tahu harus bagaimana bersikap. Nyatanya, kenyataan yang baru saja ia dapatkan, seakan mencekik lehernya. Zarin gemetar.
***
Sepuluh menit selepas kepergian Emelda, baik Violeta maupun Zarin, mereka masih sama-sama diam.
Mencoba menelusuri gerak hati masing-masing. Mereka belum bisa menemukan kata yang tepat untuk memulai percakapan sensitif ini.
__ADS_1
Namun, belum sempat mereka menemukan kalimat itu, Nadin dan Rasyid datang. Mereka pun sama-sama mengurungkan niat untuk menyelesaikan belenggu yang kini hadir di antara mereka.
"Oma!" ucap Nadin seraya menghambur kepelukan wanita yang telah membesarkannya itu.
"Sayang, dari mana saja. Oma mencarimu," jawab Zarin senang.
"Sebenarnya Nadin udah ada di dekat kamar Oma, tapi ada wanita rubah itu. Jadi Nadin... " belum sempat Nadin menyelesaikan ucapannya, Rasyid datang mendekat.
"Apa kabar, Nyonya?" tanya pria itu sopan.
"Sudah mendingan. Terima kasih sudah bantu Oma jagain bidadari Oma. Terima kasih banyak, Sayang," ucap Zarin seraya menyambut uluran tangan pemuda gagah itu.
"Sama-sama, Nyonya, jangan sungkan," jawab Rasyid, sedikit tersipu.
"Jangan memanggilku nyonya, Sayang! Panggil saja oma. Oke!" pinta Zarin.
"Siap, Nyonya. Eh Oma." Rasyid kembali tersenyum.
Keakraban Rasyid dan Zarin semakin terasa hangat. Namun, tidak dengan Nadin. Gadis ini merasa terganggu dengan kedekatan mereka. Karena ia yakin, kedekatan mereka adalah awal perjodohan yang sesungguhnya. Zarin pasti tidak akan melepaskannya kali ini. Wanita tua itu pasti akan memaksanya sampai ia benar-benar mau menikah dengan pemuda itu.
Bersambung...
Sambil nunggu Emak, Up.. kalian bisa tongkrongin karya Emak yang lain 😍😍Semoga suka🥰🥰Jangan lupa like komen n votenya ya😘
__ADS_1