Dikira Satpam Ternyata Sultan

Dikira Satpam Ternyata Sultan
Cemburu


__ADS_3

Tanpa ada yang tau, ketika keluar dari ruang kerja Nadin, Rasyid langsung menghubungi pengacaranya, meminta mereka untuk mengajukan permohonan sidang.


Nadin mungkin sanggup berdekatan dengannya. Namun Rasyid tidak. Semakin ia melihat Nadin, rasanya semakin ia ingin meluruhkan seluruh ego yang ia miliki. Terserah orang lain akan mengumpatinya sebab menelan ludahnya kembali. Namun, bagaimana lagi. Hati Rasyid terkoyak mendengar penjelasan Nadin yang biasa hidup sendiri.


Ingin rasanya ia memeluk Nadin tadi. Menciumnya dan mengatakan jangan pergi. Tetapi, ego dan keangkuhan yang mendominasi hati adalah penyebab Rasyid berucap lain dari apa yang diinginkan oleh hatinya.


Di dalam mobil menuju proyek...


Nadin duduk diam di samping Rasyid. Bersikap seperti sekertaris pada umumnya. Sedangkan Rasyid sendiri memilih membuang pandangannya ke samping. Agar bisa mengontrol keinginannya untuk menyentuh wanita yang kini malah semakin kuat menganggu pikirannya.


Sedetik kemudian, ponsel kerja Nadin bergetar. Sebuah pesan masuk dari salah satu partner kerja Rasyid.


"Maaf, Tuan, Mr. William mengajak anda pergi ke pesta malam ini, apakah diterima?" tanya Nadin.


"Mau ngapain dia? Mau pamer cewek lagi?" ceplos Rasyid.


"Saya kurang tau, Tuan," jawab Nadin.


"Boleh lah, tapi carikan aku cewek buat nemenin aku. Pastikan yang cantik dan nggak bikin malu," jawab Rasyid, langsung.


Deg...


Jantung Nadin berdetaj lebih kencang. Nadin kesal, marah, cemburu. Namun ini adalah pekerjaan yang harus ia jalani. Tak mungkin baginya untuk protes. Ia harus tetap mengesampingkan rasa cemburu itu. Bohong kalau saat ini dia tidak ingin meremas wajah mesum suaminya ini.


"Baik, Tuan. Saya akan coba cari mereka di instastory medsos mereka," jawab Nadin. Beruntung Yoga memberinya banyak nomer wanita-wanita yang bisa disewa untuk menemani bos arogan nya ini ke pesta.


"Emang kamu tau, mana yang bisa disewa mana yang enggak?" tanya Rasyid.


"Tau, apapun yang anda butuhkan, saya siap melayani Tuan," jawab Nadin.


Rasyid tersenyum licik, lalu mendekatkan wajahnya tepat di samping kanan wajah Nadin.

__ADS_1


"Benarkah?" canda Rasyid.


Spontan, Nadin pun menjauhkan wajahnya. Lalu menatap Rasyid dengan tatapan kesal. Tatapan barbar yang Rasyid rindukan.


Si pria iseng itu pun menarik kembali wajahnya. Lalu menyenderkan tubuhnya kembali di sandaran kursi mobil. Menatap Nadin dengan tatapan gemas.


Nadin enggan memperdulikan pria gila ini. Ia pun memilih melanjutkan pekerjaannya.


Nadin begitu tenangnya mencari wanita untuk menemani bos sekaligus suami laknatnya ini. Sedangkan Rasyid terus memerhatikan Nadin. Mencuri pandang pada mata wanita cantik itu.


Rasyid tau jika Nadin terluka. Rasyid juga tau kalo Nadin pasti marah dalam hati. Hanya saja, wanita ini hanya sok kuat. Rasyid percaya itu. Dan Rasyid memang sengaja, ingin Nadin menyerah dan mengakui cintanya. Sayangnya, lima belas menit Rasyid menunggu, tak ada satu tanda pun yang menuju pada ciri-ciri Nadin marah. Justru wanita itu malah memamerkan foto-foto wanita-wanita seksi yang ada di layar ponselnya.


"Yang ini suka nggak, Tuan. Ini lumayan sih, tubuhnya cukup proposional," tawar Nadin.


Rasyid melirik sekilas, lalu ia pun menjawab, "Nggak mau, itu jelek."


"Eh, perasaan cantik semua. Kenapa jadi jelek? Tuan mau yang kek gimana sih?" tanya Nadin.


"Yang putih, tidak terlalu tinggi rambutnya ikal, hidungnya mancung, senyumnya manis, ciumannya menggoda dan barbar!" jawab Rasyid, asal ceplos.


"Sebentar, Tuan... Tuan mau yang putih, oke.. ini ada yang putih. Tidak terlalu tinggi, rambut ikal, hidung mancung, senyum manis, ciumannya menggoda. Emang kalo pesta pekek ciuman segala Tuan?" tanya Nadin, spontan. Baru menyadari bahwa si jerapah jelek itu sempat mengucapkan syarat gila untuk mencari wanita yang mau menemaninya.


"Ya kali aja dia mau ku cium," jawab Rasyid asal.


"Cih... dasar pria ganjen!" umpat Nadin kesal.


"Eh.. bilang apa tadi?"


"Nggak ada!"


Nadin diam, lalu kembali mencari wanita yang diinginkan oleh bosnya.

__ADS_1


Beberapa menit berlian, Nadin menyerah.. lalu ia pun marah. "Ahhhh... mana ada! nggak ada yang begitu di sini Tuan. Ayolah jangan yang aneh-aneh. Ya ini ya," ucap Nadin sembari menunjukkan satu foto wanita seksi untuk Rasyid. Sedangkan Rasyid hanya tersenyum menahan tawa melihat tingkah menggemaskan Nadin.


"Ogah, itu terlalu gendut!" tolak Rasyid.


"Astaga, segini dibilang gendut. Yang langsing kek apa Tuan?" tanya Nadin, spontan.


"Entah! Kok tanya saya," balas Rasyid. Sungguh balasan yang menjengkelkan, bukan.


"Lah.. piye to."


"Yo ga piye-piye, cari aja yang aku mau. Cerewet sekali," jawab Rasyid, kali ini ia malah tersenyum karena senang. Bagaimana tidak, ia telah berhasil membuat istrinya cemburu.


Nadin tak mendapatkan satu pun kriteria wanita yang diinginkan Rasyid untuk pergi ke pesta. Lalu Nadin pun memutuskan untuk menemaninya.


"Bagaimana kalo saya saja, Tuan? Dari pada saya pusing nyari orang nggak nemu-nemu?" tawar Nadin.


Rasyid menatao Nadin dengan tatapan ingin tertawa. Tapi ya sudahlah, ia tak ingin terlihat konyol. "Oke, tak masalah. Yang penting besok kamu bisa bangun tepat waktu," tantang Rasyid. Karena ia sangat tau, selama ini Nadin susah bangun. Bahkan ia yang selalu membangunkan jika pagi datang.


"Siap, Tuan. Yang penting Tuan jaga saya aja."


"Kenapa aku harus jaga kamu?"


"Ya kan Tuan sua... Eh, maap Tuan, keceplosan!" jawab Nadin, langsung menutup mulutnya. Sedangkan Rasyid membalasnya dengan senyuman.


***


Di proyek...


Rasyid tidak mengizinkan Nadin ikut dengannya masuk ke dalam bangunan itu. Dengan alasan tempat itu cukup berbahaya untuk Nadin.


Rasyid meminta sekertarisnya itu untuk menunggu di ruang tunggu para pekerja. Sayangnya ketika kembali, Nadin terlihat berbincang akrab dengan seseorang. Yang tak lain adalah partner kerja Rasyid.

__ADS_1


Canda dan tawa Nadin dengan pria itu tentu saja membuat Rasyid kebakaran jenggot. Ia pun mengepalkan tangannya. Bersiap menghadiahi pria itu dengan bogem mentahnya.


Bersambung...


__ADS_2