
"Nad, makan yuk!" bujuk Rasyid, selepas membuat hidangan istimewa untuk sang istri.
"Kamu makan aja, aku nggak lapar," tolak Nadia, halus.
"Tidak, Sayang, kamu harus makan," jawab Rasyid sembari memeluk sang istri dari belakang.
Nadia menoleh ke arah pria tampan itu. Tersenyum licik. Seakan meremehkan ketulusan Rasyid.
"Apa kamu sedang merayuku?"
"Anggap saja begitu, tapi rayuan ini datangnya dari hati. Tulus tanpa ada maksud apapun," jawab Rasyid, serius.
"Apa kamu tau, saat ini aku sedang berpikir, bahwa apa yang kamu lakukan sangat kelewatan, Tuan!" ucap Nadin, seraya memukul pelan lengan sang suami.
"Kelewatannya di mana, Nad? Kamu istriku. Tak ada salahnya aku memelukmu," jawab Rasyid tanpa mau melepas pelukannya.
"Bagaimana kamu bisa semudah itu membuat alasan, Syid?"
"Itu bukan alasan, Nad. Aku hanya ingin mencintai milikku. Aku hanya ingin melindungi istriku. Membuatnya aman bersamaku, apakah aku salah?" balas Rasyid.
Nadin diam sesaat, entah apa yang terjadi pada hatinya saat ini. Yang jelas, ia berada di dalam kebimbangan. Antara percaya dan tidak. Antara ingin menerima dan menolak. Sungguh, andai Rasyid tau kondisi hatinya saat ini. Mungkinkah ia tega melakukan ini.
"Aku tau kamu takut melangkah, Nad. Tapi percayalah, aku tidak menipumu. Awal kita memang tak baik, tapi aku berjanji, aku akan menjaga hubungan ini dengan baik. Tak akan pernah ada wanita lain di hidupku selain kamu. Kamu adalah satu-satunya ratu dalam hidupku. Aku bersumpah, Nad," ucap Rasyid, sungguh-sungguh.
Nadin tersenyum meremehkan. Sebab papanya dulu juga berucap demikan. Tapi nyatanya apa, pria itu malah memilih wanita lain dan meninggalkan mamanya. Melukai perasannya dengan pengkhianatan.
"Jangan diam saja, Nad. Tolong bicaralah. Apakah kamu mau membuka hatimu untukku? Sedikit saja. Aku mohon, izinkan aku membuktikan padamu. Bahwa aku tidak seperti ayahmu. Aku bersungguh-sungguh dalam pernikahan ini, Nad. Aku ingin pernikahan ini adalah sumber kebahagiaan kita. Jalan kita menuju surga bersama," ucap Rasyid lagi.
Nadin masih diam membisu. Namun matanya berkaca-kaca. Nadin gagal menutupi ketakutannya. Nadin gagal menyembunyikan kegelisahannya. Nadin gagal mengabaikan rasa yang telah hadir untuk Rasyid. Ya, Nadin gagal dalam segala hal.
__ADS_1
"Tidak istriku, jangan menangis! Aku sudah bilang kan? Aku tidak akan memaksamu menerimaku cintaku sekarang. Namun, aku minta, tolong pertimbangkan lah. Izinkan aku menjadi kandidat terbaik dalam hidup mu. Tolong izinkan aku menjadi sandaran dalam hidupmu. Izinkan aku membuktikan padamu, bahwa aku adalah pria yang pantas mendapatkan cintamu, aku mohon," ucap Rasyid lagi.
Di detik Rasyid menutup ucapannya, tangis Nadin pecah. Wanita ini langsung membalikkan badan dan memukul marah dada Rasyid. Nadin menangis menjadi-jadi. Menumpahkan segala kekesalan dan kemarahan yang selama ini ia pendam sendiri.
"Aku membencimu Syid, aku membencimu! Aku benci kamu. Jangan memintaku mencintaimu! Jangan pernah!" teriak Nadin sambil terus menangis di pelukkan Rasyid.
Rasyid membiarkan Nadin terus memukulnya. Membiarkan wanita cantik ini mengeluarkan apapun yang selama ini ia pendam.
Rasyid tidak melawan. Bahkan ia juga tidak marah dengan ucapan istrinya. Ia tahu, jika sebenarnya Nadin hanya takut dihianati. Nadin takut ditinggalkan. Sehingga ia takut untuk memulai. Rasyid paham itu. Sebab sejatinya, dia sendiri juga pernah berada dalam situasi seperti itu.
Hanya saja, Rasyid patah hati karena wanita yang akan menjadi pasangannya. Sedangkan Nadin, terluka karena cinta pertamanya. Yaitu ayahnya. Dan luka yang ditorehkan cinta pertama itu terlalu dalam untuk Nadin. Sehingga Nadin sulit untuk mempercayai apapun yang berhubungan dengan cinta.
Rasyid memeluk erat sang istri. Mencoba menenangkan wanita yang kini mulai mengisi hatinya. Itu. Mengelus pundak wanita ini. Lalu mencium keningnya. Entahlah, seperti mendapat tempat paling nyaman, Nadin pun berhenti memukul.
Masih dalam isak tangisnya, Nadin menjatuhkan kepalanya di dada bidang Rasyid. Seakan meminta perlindungan di sana.
Tak ada satu katapun yang terucap dari bibir wanita cantik ini. Hanya tangisan yang terdengau menyayat hati. Sungguh, Rasyid tak tega mendengar itu.
***
Di sisi lain, tawa menggelegar terdengar di sebuah rumah yang cukup mewah.
Seorang wanita sedang menikmati pestanya. Karena ia berhasil meluruskan tujuannya. Menghabisi seseorang yang telah berani melawan keinginan yang ia pendam selama ini.
Emelda tidak punya jalan lain selain menghabisi nyawa Anton. Hutang di beberapa tempat adalah penyebabnya.
"Maafkan aku, Sayang. Andai putrimu nurut, mungkin aku nggak akan setega ini sama kamu. Belum lagi, ibu sialanmu itu. Sudah sekarat, tapi masih saja bikin ulah. Ditambah, menantumu yang ternyata mafia itu. Kalian sungguh merepotkan. Selalu saja menghalangi kebahagianku."
Emelda tersenyum licik sembari menatap Anton yang saat ini sedang berjuang melawan maut. Anton kejang dan mulutnya mengeluarkan busa. Beberapa kali ia mencoba meraih Emelda, namun tak bisa. Hingga ia tak sanggup lagi bertahan. Anton terkapar tak berdaya. Terakhir, ia menyemburkan darah segar dari mulutnya.
__ADS_1
Entah racun apa yang dibubuhkan Emelda dalam minuman Anton. Sehingga pria itu kalah melawan maut.
Untuk memastikan sang target kalah, Emelda pun memastikan itu dengan menedangnya berkali-kali. Di tendangan terakhir, Emelda tertawa. Karena pria itu sudah tak bernyawa. Emelda senang.
***
Kabar kepergian Anton diterima pertama kali oleh Yoga. Kabar itu ia dapatkan dari orang-orang yang sengaja ia kirim untuk mengawasi gerak-gerik wanita itu.
"Brengsek! Kenapa kita bisa kecolongan?" tanya Rasyid marah.
"Maaf, Bos! ini diluar prediksi kita. Kami pikir, Emelda tidak akan senekat itu. Ternyata wanita itu psikopat gila," jawab Yoga, geram.
"Apakah oma Zarin sudah dengar kabar ini?" tanya Rasyid lagi.
"Sepertinya belum, Bos. Saya belum menerima kabar apapun dari asistennya," jawab Yoga.
"Usahakan jangan sampai beliau mendengar ini dari orang lain. Terutama dari wanita jahat itu. Aku takut, wanita itu mengolok-olok, jangan biarkan wanita itu mempermainkan oma Zarin sekali lagi. Cepat hubungi asistennya. Tolong amankan oma Zarin dari berita apapun. Biarkan aku yang menyampaikan ini padanya. Mengerti!" pinta Rasyid.
"Baik, Bos! Saya akan segera menghubungi asisten beliau. Malam ini juga saya berangkat ke Jakarta. Emm, bagaimana dengan anda, apakah saya perlu menjemput anda?" tanya Yoga.
"Tidak perlu, kamu jalan dulu bersama orang-orang kita. Aku mau melihat jenazah mertuaku. Karena aku yakin, pasti ada yang tidak beres dengan ini. Kamu mengerti maksudku kan?"
"Mengerti, Bos! Saya akan segera beragkat!"
"Heemm, tahan wanita itu. Jangan biarkan dia lolos kali ini. Paham!"
"Baik, Bos!" Yoga menutup pembicaraan mereka.
Rasyid membalikkan tubuh. Menatap memelas pada sang istri yang tengah terlelap dalam mimpinya. Rasa iba langsung menjalar di sanubari pria tampan ini. Ia tidak menyangka bahwa ujian hidup sang istri masih berlanjut.
__ADS_1
Rasyid meneguk salivanya. Bingung memilih kata. Memilih kata untuk menjelaskan keadaan ini pada Nadin dan pada wanita tua yang memiliki penyakit lemah jantung itu.
Bersambung....