
Yoga langsung memberikan perintah pada anak buahnya. Untuk melaporkan kasus kematian tak wajar ini pada pihak yang berwajib. Sesuai perintah yang diturunkan kepadanya.
"Jangan sampai wanita itu lolos! Pastikan dia ada di tempat ketika polisi datang. Bos curiga, mertuanya mati tak wajar," ucap Yoga pada seseorang yang ia percaya.
"Baik, Pak! Laksanakan!" jawab pria di seberang sana.
"Ingat, wanita ini sangat licin dan licik. Jangan lengah! Atau nyawa kita yang jadi taruhannya, paham kalian!" ucap Yoga lagi.
"Baik, Pak. Kami pastikan, keadaan akan bisa kami kendalikan," jawab pria itu lagi. Lalu, tak ada perbincangan lagi.
Yoga langsung bersiap untuk pergi ke lokasi kejadian. Dan sebelum ia berangkat, tak lupa ia menghubungi kekasihnya. Mengabarkan apa yang saat ini terjadi. Di samping itu, ia juga mengirim pesan agar nyonya Zarin tidak diberi tahu dulu kabar ini Karena Rasyid takut, wanita itu tak kembali down ketika mendengar kabar menyakitkan ini.
"Ya Tuhan, kamu serius, Ga?" tanya Violeta terkejut.
"Ya, Vi! Sekarang aku otewe ke Jakarta. Ingat, sebelum aku atau Rasyid datang, jangan biarkan bosmu menerima telpon dari siapapun atau menonton berita. Paham!" jawab Yoga.
"Siap, Ga! Aku juga otewe ke rumah ibu nyonya."
"Kamu sekarang nggak lagi di rumah beliau?" tanya Yoga.
"Aku izin, Ga. Adikku yang paling kecil sakit. Jadi aku bawa dia ke rumah sakit dulu. Oke, aku ke sana sekarang Ga. Assalamu'alaikum!" jawab Violeta gugup. Lalu ia pun segera menutup telpon dan segera berangkat ke rumah majikannya.
***
Di sisi lain ...
Semenit setelah mendengar kabar mengejutkan itu, Rasyid segera masuk ke dalam kamar. Tentu saja untuk menyampaikan kabar duka ini pada kekasih hatinya.
Rasyid begitu hati-hati menjaga gelas kaca miliknya. Ia takut, kabar yang ia bawa kali ini bisa menghancurkan hati wanita ini. Sungguh, Rasyid takut, Nadin tak mampu menerima goncangan dalam hidupnya ini sekali lagi.
__ADS_1
Tepat pukul tiga dini hari, Rasyid duduk di samping Nadia yang tenggelam dalam mimpinya.
Wanita ini terlihat begitu tenang.
Hampir lima belas jam Rasyid berusaha membuat gelombang dalam jiwa sang istri tenang. Tapi, gelombang lain yang lebih dasyat malah datang tanpa Rasyid duga. Sehingga membuat pria ini gelisah. Bimbang untuk mengambil keputusan.
"Maafkan aku jika kabar yang akan kamu dengar sekarang, akan membuatmu terluka, Sayang. Maaf... tapi aku harus menyampaikan ini," ucap Rasyid sesaat sebelum membangunkan Nadin.
Tak lupa, sebelum ia benar-benar membangunkan wanita itu, terlebih dahulu Rasyid mengecup kening Nadin. Bukan hanya itu, Rasyid juga mengecup bibir yang sukses membuatnya candu itu.
Bibir yang sering mengucapkan sumpah serapah untuknya. Namun, anehnya... sumpah serapah itu malah membuatnya bahagia. Sebab ia tahu, Kata-kata yang terlontar dari bibir itu, bukanlah kesungguhan dari hati. Melainkan hanya untuk menutupi rasa yang sebenarnya telah menyala di antara dua hati yang mereka miliki.
Nadin seperti merasakan tubuhnya terlilit oleh sesuatu yang berat. Membuatnya tak nyaman.
Perlahan, ia pun membuka mata. Ia melihat Rasyid sedang memeluk dan menatapnya. Seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Eemmm, jam berapa ini?" tanya Nadin, suaranya terdengar serak. Suara khas orang bangun tidur.
"Emm, jam tiga pagi. Kok kamu nggak tidur. Kenapa?" tanya Nadin.
Rasyid diam. Tiba-tiba saja air matanya meleleh. Ya, Rasyid memang sangat garang ketika berhadapan dengan lawan bisnisnya atau pada musuh-musuhnya. Namun ia begitu lemah dan lembut ketika menghadapi Nadin. Rasyid memang selalu memakai perasaannya saat bersama Nadin. Entahah, Rasyid tak bisa memahami kelemahannya.
Nadin pun terkejut dengan itu.
"Why? Kenapa kamu nangis?" tanya Nadin, spontan.
"Nggak, aku hanya bingung bagaimana aku harus mengatakan apa yang terjadi sekarang ini, ke kamu," jawab Rasyid, sedikit terbata.
Nadin mengerutkan kening heran. Merasa aneh dengan ucapan Rasyid. Pria ini tak biasanya melo-melo begini.
__ADS_1
"Ada apa sih? Ngapain kamu nangis? Kamu kan cowok?" tanya Nadin, sedikit kesal.
"Cowok nggak boleh nangis ya?"
"Ya nggak lah, nanti nggak tangguh!"
"Entahlah, Yang. Kenapa kali ini aku jadi cengeng gini? Sini peluk," jawab Rasyid. Kemudian ia pun kembali menarik tubuh Nadin dan memeluk wanitanya itu dengan penuh kasih sayang.
"Kamu harus tegar ya, Yang. Percayalah ada aku yang akan selalu ada untukmu. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Apapun yang terjadi. Aku akan tetap ada di samping kamu. Sampai kita sama-sama tua nanti," ucap Rasyid.
Nadin tak sanggup berucap. Sebab ia masih belum mengerti arah pembicaraan mereka kali ini.
"Kamu ngomong apa sih, Syid? Aku nggak ngerti!" ucap Nadin.
Rasyid memegang kedua sisi kepala sang istri. Menatapnya dengan tatapan memelas. Rasyid kembali tak sanggup menatap mata indah itu. Ia pun memejamkan matanya. Lalu menyatukan kening mereka.
Sungguh, Rasyid takut ucapannya akan melukai mata indah itu. Rasyid takut melihat air mata Nadin berlinang. Rasyid takut, jiwa sang istri akan tergoncang. Rasyid takut, Nadin tak sanggup menghadapi kenyataan yang ia bawa kali ini.
"Coba tenangkan dirimu dulu. Sebenarnya ada apa sih?" tanya Nadia.
Rasyid masih belum mau menjawab. Namun, kali ini ia mengajak Nadin beranjak dari pembaringan Lalu mengambil ponsel miliknya. Dan menyerahkan ponsel itu pada Nadin.
"Bacalah, Yang. Pelan-pelan ya. Ingat, ada aku untukmu. Jangan diam. Kalo kamu mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan oke!" pinta Rasyid, kali ini serius.
Nadin menatap Rasyid. Lalu, ia pun menatap ponsel milik suaminya itu. Memfokuskan pandangannya ke arah barisan-barisan kata yang tertera di sana.
Terkejut ... speechless... tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun. Nadin gugup. Bibirnya gemetar. Jantungnya berdetak sangat kencang. Shock, Nadin sangat-sangat shock.
Dan inilah kelemahan Rasyid. Melihat kekasih hatinya hancur. Melihat kekasih hatinya menangis. Rasyid sendiri pun kehilangan kata-kata untuk menenangkan Nadin. Rasyid hanya bisa membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Ya, hanya itu yang bisa Rasyid lakukan saat ini.
__ADS_1
Bersambung...